Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Do Not You Think?

Bismillah...


Ada banyak hal yang sudah dikunci sedemikian rupa oleh Al Qur'an. Dijelaskan secara terang benderang, tanpa perlu lagi penjelasan dari manapun, sepanjang kita mau memahaminya dengan simpel, apa adanya, dan terbuka jalan pikiran. Dan maka, atas penjelasan terang benderang itu, kita bisa memilih akan masuk dalam golongan mana?


Salah-satunya adalah bahwa dalam Al Qur'an pun, sudah jelas dituliskan: hidup ini adalah permainan, semura orang bisa bermain-main. Asyik sekali. Hidup ini juga senda gurau belaka, semua orang bisa bergurau, menyenangkan melakukannya, bukan? Apakah sungguh demikian? Tetapi bukankah ada kampung akhirat?

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" Al An'am ayat 32

Atas ayat tersebut, kita bisa memilih masuk dalam golongan yang memahaminya dengan utuh; yaitu dengan membaca secara lengkap; komprehensif; membacanya berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali, hingga paham.
Atau kita bisa memilih masuk dalam golongan yang memahaminya sepotong-potong; yaitu dengan membaca potongan kalimat yg kita suka saja; abaikan yang lain; tidak peduli potongan yang lain.

Atau kita termasuk yang salah paham membacanya, entah karena sengaja atau tidak sengaja (saking selintasnya membaca, berpikiran sempit, ngotot hanya memakai pengalaman dan pengetahuan terbatas)
Atau kita bisa memilih masuk dalam golongan tidak peduli sama sekali; abaikan semua kalimatnya.

Menurut hemat saya, agama adalah untuk orang-orang yang mau berpikir--atau level paling bawah mau mendengarkan.

Saya mencatat ada banyak sekali ayat Al Qur'an yang menuntut kita berpikir:

- Maka tidakkah kamu memahaminya?
- Maka tidakkah kamu berpikir?
- Apakah kamu tidak berpikir?
- Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
- Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yg berpikir, memahami.

BACA JUGA