Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Do Not You Think?

Bismillah...


Ada banyak hal yang sudah dikunci sedemikian rupa oleh Al Qur'an. Dijelaskan secara terang benderang, tanpa perlu lagi penjelasan dari manapun, sepanjang kita mau memahaminya dengan simpel, apa adanya, dan terbuka jalan pikiran. Dan maka, atas penjelasan terang benderang itu, kita bisa memilih akan masuk dalam golongan mana?


Salah-satunya adalah bahwa dalam Al Qur'an pun, sudah jelas dituliskan: hidup ini adalah permainan, semura orang bisa bermain-main. Asyik sekali. Hidup ini juga senda gurau belaka, semua orang bisa bergurau, menyenangkan melakukannya, bukan? Apakah sungguh demikian? Tetapi bukankah ada kampung akhirat?

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" Al An'am ayat 32

Atas ayat tersebut, kita bisa memilih masuk dalam golongan yang memahaminya dengan utuh; yaitu dengan membaca secara lengkap; komprehensif; membacanya berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali, hingga paham.
Atau kita bisa memilih masuk dalam golongan yang memahaminya sepotong-potong; yaitu dengan membaca potongan kalimat yg kita suka saja; abaikan yang lain; tidak peduli potongan yang lain.

Atau kita termasuk yang salah paham membacanya, entah karena sengaja atau tidak sengaja (saking selintasnya membaca, berpikiran sempit, ngotot hanya memakai pengalaman dan pengetahuan terbatas)
Atau kita bisa memilih masuk dalam golongan tidak peduli sama sekali; abaikan semua kalimatnya.

Menurut hemat saya, agama adalah untuk orang-orang yang mau berpikir--atau level paling bawah mau mendengarkan.

Saya mencatat ada banyak sekali ayat Al Qur'an yang menuntut kita berpikir:

- Maka tidakkah kamu memahaminya?
- Maka tidakkah kamu berpikir?
- Apakah kamu tidak berpikir?
- Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
- Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yg berpikir, memahami.