Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Hukum Menampilkan Gambar Di Media

Bismillah...


Bagaimana hukum syar’inya berkenaan dengan foto yang terdapat pada koran dinding, majalah, website dan media-media yang ada….?

Terkait dengan hukum gambar menggambar maupun foto maka diperlukan suatu rincian.

Pertama, telah menjadi hal yang qath’i (pasti), secara asal haram hukumnya aktivitas menggambar/melukis, yaitu bertolak dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘aliahi wasallam sebagai berikut:
  1. “Adzab yang paling pedih di hari kiamat (akan ditimpakan pada) para pelukis/penggambar”.  dalam riwayat yang lain dengan redaksi, “Adzab yang paling pedih di hari kiamat (akan ditimpakan pada) menandingi ciptaan Allah”[Muttafaqun ‘alaih]
  2. “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini diadzab pada hari kiamat, dikatakan pada mereka: hidupkanlah apa yang telah kau ciptakan” [HR. Bukhari, Muslim, Ashhabu as-Sunan]
Kedua, kriteria gambar-gambar yang diharamkan adalah sebagai berikut:
  1. Gambar/lukisan/patung yang bernyawa, baik manusia maupun hewan, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘aliahi wasallam:“Sesungguhnya malaikat tidaklah masuk pada rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan tamatsil (gambar-gambar bernyawa)”[HR. Muslim]
  2. Gambar yang dibuat dengan tangan (manual), yaitu sebagaimana nash-nash yang sudah disebutkan di atas. Berkata Imam al-Alusi dalam kitabnya”Bagi kami tiada perbedaan antara gambar yang memiliki bayangan maupun tidak mempunyai, seperti bentuk hewan yang digambar pada kertas maupun terukir pada tembok, hal itu telah mendapatkan ancaman yang keras dari syariat kita bagi mereka pelukis/pengukirnya”[Ruh al-Ma’ani, 22/199].
Ketiga, kriteria gambar yang dibolehkan sebagai berikut:
  1. Setiap gambar yang tidak memiliki nyawa seperti gambar benda-benda padat, pegunungan, pepohonan, planet-planet, bintang, lautan dan sebagainya.
  2. Setiap gambar yang putus-putus tidak sempurna, sebagaiamana hadits dari ‘Aisyah radhiyallaha ‘anha: “NabiShallallahu ‘aliahi wasallam memasuki rumahku dan ketika itu aku bertutupkan kain yang tipis terdapat gambar, maka memerahlah wajahnya dan merobek kain itu seraya berkata: “Sesungguhnya orang yang paling berat adzabnya di hari kiamat adalah yang menyerupakan (menandingi) ciptaan Allah” Aisyah berkata: Maka akupun memotong kain itu menjadi dua yang kemudian dijadikan dua bantal, yang kemudian keduanya menjadi tempat beliau duduk bersandar”[HR. Muslim].
Berkata al-Imam Ibn al-‘Arabi al-Maliki rahimahullah :”Kemudian dengan dipotongnya kain itu menjadi dua bantal, berubahlah gambar itu dari bentuk yang sempurna, sehingga kebolehan gambar tersebut jika putus-putus tidak sempurna, adapun jika sebaliknya maka tidak dibolehkan” [Ahkam al-Qur’an/Juz 3].
  1. Mainan anak-anak perempuan (boneka), Dari ‘Aisyah radhiyallaha ‘anha, Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘aliahi wasallam menikahinya ketika aisyah berumur tujuh tahun, dan digauli serta bermain dengannya ketika umur sembilan tahun, kemudian Rasulullah wafat sedang aisyah berumur delapan belas tahun [HR. Muslim]. Dan dari ‘Aisyah ia berkata: Ketika aku hidup bersama Nabi, aku sering bermain dengan anak-anak perempuan lainnya, karena dulu aku punya banyak teman main, Dan ketika Rasulullah masuk rumah mereka menjauh darinya dan Rasululullah memberikan mainan (boneka) padaku untuk dibagikan mereka yang bermain denganku. [HR. Muslim].
Berkata al-Hafizh Ibn Hajjar rahimahullah setelah menjelaskan perbedaan para ulama terhadap hukum gambar dan sejenisnya: “dan yang dikecualikan adalah mainan anak-anak perempuan”[ Fath al-Bari].
  1. Gambar Fotografi, hal ini dikarenakan hilangnya ‘ilah (alasan inti) pengharamannya, adapun ‘ilah pengharaman gambar sebagaimana dalam hadits..”....mereka yang menandingi ciptaan Allah”. Jenis fotografi hakikatnya bukan termasuk gambar dan berbeda dari gambar, karena hal itu seperti berkaca pada cermin ataupun air. Bayangan pada cermin, air maupun fotografi merupakan ciptaan Allah, di mana pada fotografi bayangan itu ditangkap dan ditahan. Sehingga, tidak termasuk dari hal yang menandingi ciptaan Allah. Sebagaimana dalam kaidah fiqhiyah : “al-‘Ibratu bi al-haqaiq wa al-ma’ani, la bi al-alfazh wa al-mabani” (Pengetahuan itu diambil dari hakikat dan maknanya, bukan dari lafazh dan bentuknya”. [lihat as-Syaikh al-Sayis, ayaat al-Ahkaam 4/61]
Sebagaimana dikutip oleh as-Syaikh Abu Hammam Bakr bin Abd al-‘Aziz al-Atsariy, bahwa pernah syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi Hafizhahullah dalam “al-Liqa al-Maftuh” Forum Syumukh al-Islam ditanya: “Wahai syaikh yang kami cintai, ada seorang ikhwah yang bertanya tentang gambar (foto-foto) para ulama dan mujahidin pada halaman situs-situs forum Islam, bahkan pada baner ataupun halaman muka terdapat di sana seperti halnya, seperti pada baner khusus “al-Liqa al-Maftuh” yang disitu terdapat juga gambar anda, dan kami sendiri tidak pernah berfoto kecuali jika hendak bepergian  karena mendesak untuk keperluan membuat paspor, bagaimana penjelasan tentang hal itu?”

Maka Syaikh Abu Muhammad Hafizhahullah berkata,: “Dalam hal ini saya mengikuti pendapat bahwa hal tersebut (foto) bukan termasuk dari gambar yang diharamkan secara syar’i, sebagaimana banyak hadits melarangnya; karena foto hakikatnya bayangan yang sama persis dengan aslinya, seperti yang terlihat pada cermin, bukan gambar buatan yang menandingi ciptaan Allah” [www.at-tawhed.ws]

Walau demikian, jika memungkinkan memang alangkah lebih baiknya meninggalkan bermudah-mudahan dalam perkara gambar, hal itu sebagaimana perkataan Sufyan menyikapi harta yang diragukan: “Aku tidak merasa takjub (tertarik) dengannya namun aku lebih merasa takjub untuk meninggalkannya”[Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 94]

Kesimpulannya, bahwa foto yang terdapat dalam media seperti majalah, koran, web dan lainnya bukan termasuk gambar yang diharamkan, tentunya selama hal itu membawa maslahat dan bukan gambar-gambar yang diharamkan seperti wanita yang terbuka auratnya. 

source: website JAT