Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Kecanduan Gadget

Bismillah...

Seorang teman memberitahu saya tentang kasus kecanduan gadget yang menimpa seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 2 SMP. Diceritakan, si dara manis ini maunya sebentar-sebentar meng-update statusnya di Facebook. Menurut laporan gurunya, si anak sekitar 15 menit sekali merasa HARUS updating.



 Tentu saja kegiatan ini mengganggu konsentrasinya saat di sekolah! Anak ini dengan “bergerilya”, pastilah tanpa sepengetahuan guru, melakukannya melalui ponselnya yang canggih di kolong meja.

BEDA CANDU DAN SUKA

Kecanduan akan media-media baru memang potensial terjadi pada penggunanya. Dalam hal ini harus dibedakan antara kesukaan dan kecanduan. Orang umumnya suka dengan media baru. Kesukaan (preference) dan kecanduan (addiction) jelas berbeda. Ketika seseorang masih bisa menikmati harinya dengan atau tanpa gadget, itu artinya seseorang masih pada taraf suka. Namun, ketika misalnya seorang anak mulai mengeluh, “Saya tidak bisa tenang tanpa memeriksa Facebook di handphone,” itu tandanya anak mulai kecanduan. Kegelisahan yang muncul jika tidak melakukan aktivitas untuk beberapa waktu tertentu dengan gadget(misalnya SMS, membuka media-media sosial seperti Facebook dan Twitter, main game, chatting, membuka situs, dan sebagainya) itulah yang disebut kecanduan. Ini menimbulkan masalah. Kegelisahan atau perasaan tidak nyaman itu membuat orang terdorong untuk terus memainkan gadget-nya. Kecanduan membuat seseorang rasanya tidak mau berhenti melakukan aktivitas dengan gadget-nya. Misalnya, seorang anak atau remaja yang berjam-jam main game. Kalau disuruh berhenti, ia akan marah. Ia tidak ingin dihentikan. Bayangkan apa akibat kecanduan ini. Gara-gara main game terus, seorang anak akan kehilangan waktu untuk melakukan kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat (misalnya bermain dengan teman, belajar, bercengkerama dengan keluarga, dan sebagainya). Begitu pula yang terjadi dengan remaja yang terlalu asyik dengan Facebook, Twitter, Youtube, dan lain-lain.

ASYIK SENDIRI

Intinya, kecanduan membuat seseorang seperti tercerabut dari lingkungannya, ia hanya asyik sendiri dengan gadget-nya dan melupakan hal-hal lainnya yang seharusnya ia lakukan. Karena gadget masa kini digunakan oleh semua kalangan tanpa terbatas kelompok usia dan pendidikan, maka kecanduan gadget juga bisa melanda siapa saja, termasuk orang dewasa. Saya punya seorang teman yang kini saya nilai amat menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, jika setiap kali berbicara dengannya, ia terus memainkan BlackBerry-nya. Bayangkan, saat ngobrol dengan saya, ia menunduk melihat BB-nya, mengetik-ngetik sesuatu di sana entah apa. Saya pernah jengkel sekali karena detik saat ia mengobrol dengan saya, ia mengubah display picture-nya, dan itu tentu saja terkirim ke saya karena kontak dia ada di BB saya! Saya merasa sangat tidak dihargai karena ia melakukan hal-hal lain saat berbicara dengan saya! Ternyata, yang jengkel bukan saya seorang. Hal itu jadi kebiasaannya yang membuat kesal orang-orang lainnya. Bahkan, ia juga memainkan BB-nya saat rapat! Yang saya tahu, ia bukan hanya mengirim BBM, meng-update status, tetapi juga asyik ber-Twitter-ria. Saya juga melakukan pengamatan kecil-kecilan terhadap aktivitas yang dilakukan orang di BB. Ada sejumlah orang dewasa yang sering melakukan update contact profile-nya baik itu mengubah personal message (PM), status atau display picture. Perubahan di personal message dan display picture akan memberi sinyal pada recent update di BB orang lain yang tersambung dengannya. Saya menilai, orang-orang yang sering mengubah-ubah contact profile-nya adalah orang-orang yang dalam derajat tertentu sudah kecanduan BB. Bagaimana tidak? Mereka cukup sering mengubah-ubah gambar (display picture) atau mengirim PM baru. Mereka ingin terus memperbarui informasi tentang diri mereka dan mengabarkannya kepada banyak orang. Banyak dari informasi tersebut (terutama dari PM) yang berisi suasana hati atau kondisi fisik. Misalnya, dini hari ia menulis “Memulai hari dengan semangat!”. Siang hari ia menulis “Suntuuuuk…”, “Beteee…!!”. Sore atau malam ia menulis “Jalan macet amat seeeeh…” atau “Capek sekaleee….” Bisa juga yang ditampilkan adalah hal-hal yang sifatnya sangat pribadi, berupa kemarahan, kerinduan akan seseorang, kesedihan, dan sebagainya. Misalnya, PM yang saya terima antara lain, “Tidakkah kau mengerti?” (saat itu saya kebetulan tahu ia sedang bertengkar dengan kekasihnya), “I miss you so much” (saya tak tahu ia merindukan siapa), “Tuhan, beri saya kekuatan…” (itu PM sahabat saya yang membuat saya ingin menangis membacanya, karena itu ditulisnya saat ia memiliki masalah besar dalam perkawinannya). Beberapa update dalam contact profile memberikan informasi tentang seseorang sedang berada di mana. Beberapa orang senang memberitahukan hal ini. Kadang PM atau status mengenai hal ini hanya menulis tentang nama tempatnya. Misalnya, “@ Bali” (saat ia berlibur ke Bali) atau “@ Jakarta” (saat ia sudah kembali ke Jakarta dari perjalanan luar kota atau luar negeri). Namun kadang lokasi di mana seseorang berada ditulis dengan cara lain, seperti “Brrrr… Suhu London di bawah nol memang kejam! Ngga tahaaaan…!” (itulah caranya memberitahukan bahwa ia sedang di London!) Ada pula yang memberitahukan keberadaannya dengan mengirim foto-foto di mana ia berada. Foto-foto itu di-upload-nya dalam display picture di BB atau di Facebook. Dengan demikian semua orang yang terhubung dengannya melalui BB atau Facebook akan dapat melihatnya di tempat-tempat tertentu baik di dalam maupun di luar negeri. Kan, keren tuh! Dalam pengamatan saya, aktivitas semacam ini hanya dilakukan oleh beberapa orang. Artinya, melakukan updating melalui gadget bukanlah gejala umum yang menghinggapi semua orang pengguna media baru.

MELEK MEDIA

Kunci agar tidak kecanduan gadget adalah kontrol diri. Pada orang dewasa, mekanisme kontrol diri untuk menggunakan media baru ini harus tumbuh dari diri sendiri. Pada anak-anak dan remaja, jika mereka kecanduan, orangtua dan guru harus turun tangan membantu. Agar tidak kecanduan, agar mampu mengontrol diri dalam penggunaan media-media, maka pada setiap orang masa kini adalah penting memiliki kemampuan literasi (melek) media baru. Kemampuan ini bukan hanya mencakup bagaimana terampil menggunakan gadget-gadget yang canggih itu, tetapi juga memahami dampak penggunaan gadget itu bagi diri dan orang lain.

Ummi Online Com

BACA JUGA