Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

PERTANYAAN SEPUTAR ADZAN

Bismillah...
 
Soal    : Apakah sebenarnya hukum adzan dalam shalat (untuk) shalat di dalam islam? 
Jawab : Para Ulama’ berselisih pendapat dalam masalah ini, namun pendapat yang paling rajih(kuat) adalah yang menghukumi fardhu kifayah, hal itu berdasarkan dalil-dalil berikut:

“Dari Malik bin al-Ruwairits Radhiyallahu 'Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:Bila telah tiba waktu shalat maka hendaklah salah seorang dari kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam”.
    “Dari Abu Darda’ Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:Tidaklah tiga orang yang tidak adzan dan tidak didirikan shalat di dalamnya(sebuah desa) kecuali syetan akan menguasai mereka”.
    “Dari Malik bin al-Ruwairits Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:Ada dua orang laki-laki yang mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keduanya bermaksud mengadakan perjalanan maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:Bila kamu berdua keluar maka adzanlah kemudian qomatilah, lalu hendaklah orang yang paling besar diantara kamu menjadi imam”.
Kesimpulan:

1.Hukum adzan adalah fardhu kifayah maka apabila dalam sebuah kota tidak ada seorang pun yang mengumandangkan adzan maka berdosalah seluruh penduduk kota tersebut.
2.Dalil-dalil di atas merupakan hujjah yang kuat dalam membantah pendapat yang mensunnahkan adzan.
    Daftar Pustaka:
1.Tamamul Minnah hal. 144.
2.al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin hal. 171-173.
3.Nailul Authar juz 2 hal. 32-36.
4.Subulus Salam juz 1 hal. 218-220.

Soal    :Apa hukum membaca shalawat dengan suara jahr (keras) bagi muadzdzin setelah adzan?
Jawab :Ini adalah bid’ah yang menyalahi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Lihatlah sejarah terjadinya bid’ah ini dan komentar para Ulama’ tentang hal ini dibeberapa rujukan berikut:    a. ad-Darul Mukhtar juz 1 hal. 390 d. al-Madkhal juz 2 hal. 255-256   b. Mirqatul Mafatih juz 1 hal. 423 c. ad-diinul Khalish juz 2 hal. 88-89 d. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 22 hal. 470   e. al-Fatawa al-Fiqhiyah Kubra juz 1 hal. 131  

Bahkan tidak ada dalil atas bacaan shalawat bagi muadzdzin dengan bacaan yang sirr(pelan) sesudah adzan. Maka jika hal tersebut dikatakan bahwa hal itu masuk ke dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
    “Jika kalian mendengar muadzdzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzdzin kemudian bershalawatlah atas ku”.
Maka jawabannya adalah sesungguhnya khitab(yang dituju) dalam hadits tersebut adalah bagi orang yang mendengar adzan maka diperintahkan untuk menjawab adzan dan muadzdzin tidak termasuk dalam kategori ini.
Dan jika dikatakan apakah muadzdzin tidak boleh membaca shalawat atas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan pelan? Maka hendaklah dijawab dengan:Hal tersebut tidak dilarang mutlaq namun yang dilarang adalah apabila hal tersebut diwajibkan setiap selesai adzan. Hal ini dikhawatirkan karena akan menambah lafadz adzan serta menyesuaikan dengan apa yang tidak sesuai dengannya dan menyamakan antara orang yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hal ini adalah orang yang mendengar, sedangkan orang yang tidak ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah muadzdzin, dan semua itu tidak diperbolehkan, pikirkanlah.
    Daftar Pustaka:
 1.al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin hal. 173-174  
 2.Tamamul Minnah hal. 158

Soal:  Bolehkah adzan dengan menggunakan tape recorder yang berisi suara adzan seserang dalam kaset ? Dan apakah sah shalat dengan adzan dari kaset tersebut?
Jawab : Sesungguhnya adzan dengan cara menyalakan tape recorder memiliki dampak yang negatif diantaranya:

1).Melupakan pahala para muadzdzin dan membatasi muadzin yang asli.
2) Menyalahi sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
    “Bila tiba waktu shalat maka hendaklah salah seorang diantara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling besar menjadi imam kalian”. )
3.) Menyalahi warisan orang islam abad pertama hijriyah sampai sekarang yang mereka semua senantiasa adzan di setiap waktu shalat lima waktu walaupun ada beberapa masjid dalam sebuah kota/desa.
4.) Sesungguhnya niat adalah syarat bagi muadzdzin maka tidak sah adzan orang gila atau orang mabuk karena tidak ada niat untuk melaksanakan adzan demikian juga dengan tape recorder.
5.) Sesungguhnya adzan adalah ibadah badaniyah, Ibnu Qudamah berkata:Tidak boleh bagi seseorang untuk ikut membantu adzan orang lain, karena adzan adalah ibadah badaniyah, maka tidak sah jika dilakukan oleh dua orang.
6) Sesungguhnya adzan dengan cara menyalakan tape recorder atau radio adalah merupakan bentuk yang mempermainkan agama islam dan menyebabkan masuknya bid’ah diantarakaum muslimin baik dalam ibadah maupun dalam syari’ah, dengan anggapan bahwa cukup dengan hanya menyalakan tape recorder atau radio tanpa susah-susah mencari muadzdzin.
    Dari dasar dampak-dampak di atas maka Majlis al-Fiqh al-Islamy milik Rabithah al-Alamy al-Islamy membahas masalah tersebut yang berlangsung di Makkah pada hari sabtu 12-7-1406 H dan menetapkan sebagai berikut:
    “Sesungguhnya adzan dibeberapa masjid ketika tiba waktu shalat dengan menggunakan perantara tape recorder atau yang semisalnya dengannya adalah tidak sah dan tidak boleh, untuk melaksanakan ibadah shalat dan memenuhi adzan yang disyari’atkan maka wajib bagi orang-orang islam untuk segera adzan apabila telah tiba waktu shalat di setiap masjid, sebagaimana yang diwariskan oleh orang-orang islam pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sampai sekarang”.
    Kesimpulan:
1.Tidak boleh adzan dengan perantara tape recorder atau yang semisal dengannya.
2.Tidak boleh mendirikan shalat dengan adzan tersebut dan harus menunjuk seseorang untuk adzan apabila telah tiba aktu shalat.
    Daftar Pustaka:
1.al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin hal. 175-177.
2.al-Mughny juz 1 hal. 425.

Soal : Bolehkan menyalakan tape reorder yang berisi qira’atul Qur’an atau dzikir-dzikir yang lain sebelum adzan shaubuh dengan maksud membangunkan orang-orang yang masih tidur?
Jawab : Ini adalah bid’ah-bid’ah yang terjadi pada zaman ini, yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan alasan membangunkan orang-orang yang masih tidur, apakah mereka tidak mengerti bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan Bilal Radhiyallahu 'Anhu untuk adzan sebelum(waktu) shubuh dengan tambahan …………
“Shalat itu lebih baik daripada tidur” yang maksudnya tidak lain adalah untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur, ini ini adalah petunjuk darirasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan apakah mereka lebih berhak membuat petunjuk dengan menyalakan tape recorder yang berisikan dzikir-dzikir daripada petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?
    Dalam kitab “Kasyaful Qana” dijelaskan sebagai berikut:”Apa-apa selain adzan awal(sebelum adzan shubuh) baik berupa tasbih, nasyid, atau mengeraskan do’a dan semacam itu di tempat adzan maka semua itu tidaklah digunakandantidak seorang pun dari para Ulama’ mengatakannya sunnah bahkan itu adalah bid’ah yang sangat dibenci, karena tidak pernah dilakukan di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu 'Anhum”.(Kasyaful Qana’ juz 1 hal. 168, Fathul Bary juz 2 hal. 92, Tafsir al-Alusy juz 3 hal. 284, dan ad-Diinul Khalish juz 2 hal. 96-97)
    Ibnu Jauzy berkata:Dan sungguh saya telah banyak melihat orang yang bangun malam dan naik ke atas menara, dia berdzikir dan membaca beberapa surat di dalam al-Qur’an dengan suara yang keras maka orang-orang yang tidur terganggu dengan suaranya, begitu pula orang-orang yang sedang shalat tahajjud terganggu dengan bacaannya, dan semua itu merupakan perbuatan yang munkar”.(Talbisul Iblis hal.137)

    Kesimpulan:
1.) Menyalakan tape recorder dan sejenisnya yang berisikan qira’atul Qur’an ataupun yang lain dengan suara yang keras apalagi dengan pengeras suara(load speaker) hal ini merupakan perbuatan yang munkar karena mengganggu orang-orang yang sedang tidur dan shalat tahajjud.
2.) Petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk membangunkan orang yang sedang tidur adalah dengan lafadz taswib ………………………………. “Shalat itu lebih baik daripada tidur” dan barangsiapa yang menyalahi petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dia berada dalam kesesatan yang nyata.

    Daftar Pustaka:
1.al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin hal. 177.
2.Talbisul Iblis hal. 137.

Soal:  Benarkah adzan shubuh harus ditambah dengan lafadz taswib ……………………. “Shalat itu lebih baik daripada tidur”?
Jawab:  Tidak benar karena lafadz taswib hanya untuk adzan awwal (sebelum shubuh) dan hadits yang menyatakan bahwa adzan shubuh harus ditambah dengan lafadz taswib adalah dhaif(lemah).
    “Dari Bilal Radhiyallahu 'Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadaku: Janganlah kalian membaca lafadz taswib di beberapa shalat kecuali pada shalat fajr (shubuh)”.(HR.at-Tirmidzy)
    Keterangan:
Hadits di atas dhaif dan sanadnya munqathi’(terputus), al-Baihaqy berkata:Hadits ini mursal karena sesungguhnya Abdurrahman bin Abi Laila tidak pernah bertemu Bilal Radhiyallahu 'Anhu dan dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi yang bernama Abu Isra’il yaitu Ismail bin Khalifah al-Abbasy. Imam al-Bukhary berkata:Ibnu Mahdy mengatakan dia itu matruk(ditinggal). Al-Jauzjany berkata:Dia itu orang yang suka membuat-buat dan menyipang. An-Nasa’i berkata: Dia tidak tsiqah.(Sunan tirmidzy juz 1 hal. 241)
……………………………………………………
“Abu Mahdzurah Radhiyallahu 'Anhu berkata:ya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ajarilah aku sunnah adzan maka beliau memnngajarinya: Jika shalat shubuh hendaklah engkau mengucapkan ………………”Shalat itu lebih baik daripada tidur”.(HR.Ahmad dan Abu Daud)

    Keterangan:
Hadits di atas tidak dapat dijadikan hujjah untuk menambah lafadz taswib pada waktu shalat shubuh karena pengertian hadits tersebut masih umu dan mengandung dua adzan tetapi adzan yang kedua tidaklah yang dimaksud melainkan yang pertama yang dimaksud oleh Rasuullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Hal ini di karenakan ada riwayat yang mengkhususkannya pada adzan awwal dengan lafadz hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
    “Jika engkau adzan pertama dari shubuh mak ucapkanlah …………………”Shalat itu lebih baik daripada tidur”.(HR.Abu Daud no.501, an-Nasa’I :2/13-14 dan at-Thahawy :1/137). Hadits ini adalah shahih yang telah ditahrij dalam shahih Abu daud no. 510-516.
    Dari keterangan diatas dapatlah kita lihat bahwa lafadz taswib hanyalah pada adzan pertama (sebelum shubuh). Hal ini juga diperkuat dengan hadits shahih berikut:
    “Dari Ibu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:janganlah salah satu dari kalian tertahan makan sahurnya dikarenakan adzannya Bilal Radhiyallahu 'Anhu maka sesungguhnya ia adzan pada waktu masih malam agar orang yang bangun(shalat tahajjud) pulang dan untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur diantara kalian”.(HR.Jamaah kecuali at-Tarmidzi)
    “Dari Aisyah dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:Sesungguhnya Bilal Radhiyallahu 'Anhu adzan pada waktu masih malam maka makanlah(sahur) dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum adzan(adzan shubuh)”.(HR.al-Bukhary dan Muslim)
Ibnu Ruslan berkata:Maka disyari’atkannya taswib pada waktu adzan pertama adalah untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur dan adapun adzan kedua(shubuh) maka itu merupakan pemberitahuan masuknya waktu shalat dan ajakan untuk shalat shubuh.(Subulus Salam juz 1 hal.221)
As-Shan’any berkata:Dan atas dasar inilah maka lafadz ……………………….”Shalat itu lebih baik daripada tidur”, bukanlah lafadz adzan yang disyari’atkan untuk mengajak orang shalat dan memberitahu masuknya waktu shalat tetapi lafadz tersebut adalah merupakan lafadz yang disyari’atkan untuk membangunkan orang yang masih tidur.(Subulus Salam juz 1 hal.222)
    Maka mengucapkan lafadz taswib pada adzan kedua(shubuh) adalah bid’ah yang menyalahi sunnah.(Tamamul Minnah hal. 147-148)
    Daftar Pustaka:
1.) al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin hal. 180-181.
2.) Tamamul Minnah hal. 146-148.
3.) Subulus Salam jilid 1 hal. 221-222.
4.) Nailul Authar jilid 2 hal. 48-52.
5.) Sunan at-Tirmidzy jilid 1 hal. 241

Soal    :Adakah dalil yang menerangkan tentang dua adzan pada waktu shalat jum’at?
Jawab :  Ada, diantaranya adalah hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
…………
    “Dari az-Zuhry dia berkata:Saya mendengar Said bin Yazid berkata:sesungguhnya adzan pada hari jum’at pada permulaannya adalah ketika imam duduk pada hari jum’at di atas mimbar pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar Radhiyallahu 'Anhuma, maka ketika masa pemerintahan Utsman Radhiyallahu 'Anhu dan orang-orang islam semakin banyak maka ia memerintahkan adzan ketiga pada hari jum’at maka ia adzan di pasar az-Zaura’ maka tetaplah perkara yang demikian itu”.(HR.al-Bukhary)
    Keterangan:
1. Adapun sebab-sebab adanya adzan pertama (adzan Utsman Radhiyallahu 'Anhu) adalah banyaknya orang-orang yang rumah merekajauh dari masjid.
2. Adzan Utsman Radhiyallahu 'Anhu tidak dilakukan di masjid akan tetapi di pasar az-Zaura’
Syaikh Nashiruddin al-Albany berkata:Kami menganggap cukup dengan adzan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yaitu satu kali adzan ketika imam keluar dan naik ke atas mimbar karena hilangnya sebab-sebab yang mendorong Utsman Radhiyallahu 'Anhu menambah adzan dan karena ittiba’ kepada sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang beliau bersabda: ”Barang siapa membenci sunnahku maka tidaklah ia dari golonganku”.
Imam asy-Syafi’i berkata : “ Saya suka apabila adzan pada Hari Jumat ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar, maka bila ia ( imam ) sudah melakukannya mulailah mu’adzin untuk adzan, dan apabila sudah selesai dia(imam) berdiri untuk khutbah, tidak lebih dari itu.(al-Umm juz 1 hal.172-173 al-Ajwibah an-Nafi’ah hal. 11-12)
    Kesimpulan :
1. Adanya dalil tentang adzan dua kali.
2. Adzan pertama bertujuan memberitahukan bahwa waktu Jum’at telah tiba.
3. Adzan pertama dilakukan diluar masjid dan bila dilakukan didalam masjid maka itu bid’ah.
 4. Lebih afdhol mengikuti sunnah Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yaitu satu kali adzan ketika imam masuk masjid dan anik diatas mimbar.    

    Daftar Pustaka:   
1. Shohih Bukhori Juz 1 hal.162-163.
2. al-Ajwibah an-Nafi’ah al-Albany hal. 6-14.

Dokumentasi pen.

Comments

BACA JUGA