Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Remaja Yang Berkurung Di Kamar

Bismillah...


Saya teringat percakapan dengan salah seorang orangtua saat kami bertemu dalam acara pembagian rapor di sekolah. Anaknya, sama-sama siswa SMP kelas 2 seperti anak saya, dikeluhkan ibunya. Menurut sang ibu, anaknya senang sekali mengurung diri di kamar.


”Pulang sekolah, ia langsung masuk kamar. Paling keluar cuma buat ke kamar mandi dan makan. Nggak mau tuh ngumpul atau ngobrol dengan keluarga...,” kata ibu itu.

Menurut si ibu, sesekali ia mendengar anaknya mengobrol dengan temannya melalui handphone. Atau terdengar suara film dari dalam kamar, karena anaknya menonton film dari laptop (komputer jinjing) yang dimilikinya. Kadang, anaknya juga mendengarkan radio.

Saya tak heran mendengar cerita itu. Kisah remaja yang berkurung di kamar tidurnya bukanlah cerita baru. Dan anak saya atau anak ibu itu yang duduk di bangku SMP masuk dalam kelompok remaja, sehingga cerita ”berkurung di kamar” pun mereka alami.

Makin besar, anak-anak mengalami individualisasi, sebuah konsep yang oleh Livingstone dan Bovill (peneliti studi anak dan media) disebut sebagai ”budaya kamar tidur” (bedroom culture). Kamar tidur anak-anak menjadi arena di mana mereka dapat menggunakan media menurut kesukaan mereka sendiri, dan ini mencerminkan gaya hidup yang individualistis.

Media memang menyumbang banyak bagi kesenangan anak-anak remaja untuk berkurung diri di kamarnya. Media-lah yang justru membuat anak-anak yang beranjak dewasa itu untuk betah berlama-lama di kamarnya.

Adanya telepon, televisi, komputer, radio, perangkat untuk memainkan videogame, atau VCD/DVD player adalah beragam media yang bisa membuat seorang anak tak lagi ingin diganggu oleh orang lain di kamarnya. Sebenarnya, sindrom yang umumnya melanda kaum remaja yang disediakan fasilitas macam-macam media di kamarnya bisa saja melanda siapapun anggota keluarga di rumah, termasuk orangtua.

Jika kamar orangtua juga dilengkapi berbagai media, bisa jadi ayah atau ibu pun akan senang berdiam di kamar, karena ibu dan ayah akan menikmati segenap fasilitas itu dalam kamarnya yang nyaman. Ibu atau ayah bisa menonton TV di kamar, menggunakan komputer di kamar (untuk browsing artikel, gambar atau film, untuk menerima dan mengirim surat melalui email, berinteraksi melalui faceboook, untuk bekerja, dan banyak lagi lainnya).

Sebagaimana media memudahkan orang-orang yang berjauhan untuk saling bertemu atau kontak (melalui surat, telepon, email, facebook), sebaliknya media juga potensial untuk saling menjauhkan orang. Media yang diletakkan di kamar membuat si pemilik kamar betah berlama-lama di sana menggunakan segala media itu, dan akibatnya, sebagaimana dikatakan Hagen, seorang peneliti komunikasi, rumah menjadi tempat untuk hidup bersama, tetapi sesungguhnya orang-orang di dalamnya hidup terpisah.

Saat remaja, masa berkembangnya individualitas seorang anak dan ia mulai melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua, kecenderungan ia makin terpisah atau memisahkan diri dengan orang-orang di rumahnya makin dimungkinkan jika si anak remaja dilengkapi dengan berbagai media di kamarnya. Bahkan, satu media saja sudah cukup membuat anak betah berlama-lama di kamar.

Misalnya, adanya TV atau komputer di kamar. TV atau komputer sudah dapat membuat anak asik berlama-lama di kamar. Apalagi jika komputer dilengkapi dengan internet.

Media lainnya adalah handphone. Satu media ini saja sudah dapat membuat sang remaja mengasingkan diri. Ia akan sibuk mengobrol atau meng-sms teman-temannya. Apalagi handphone sekarang ini makin canggih, tidak sekadar untuk menelepon atau meng-sms, tetapi juga mengirim gambar, video, bisa untuk radio, kamera, dan juga ber-internet. Jadi, satu media ini sudah mencakup berbagai media (bersifat multimedia).
Para ahli sangat menganjurkan agar komputer dan TV diletakkan di ruang publik di rumah, di ruang terbuka, bukan di kamar (apalagi di kamar anak!). Jika media-media ini diletakkan di ruang tertutup atau kamar, maka anggota keluarga akan mengakses media tersebut seorang diri, dan kemungkinan akan mengisolasi diri dari anggota keluarga lainnya.

Ditambah lagi, jika TV dan komputer diletakkan di kamar anak, maka hanya anak tersebut dan Tuhan yang tahu anak tersebut menonton apa atau mengakses apa! Padahal kita tahu, isi TV dan komputer (internet dan videogame) banyak sekali yang tidak ramah untuk anak karena mengandung muatan-muatan dewasa yang belum pantas dikonsumsi anak, kekerasan, bahasa kasar, mistis, dan sebagainya.

Para ahli juga sangat menyarankan untuk tidak memiliki lebih dari satu pesawat TV di rumah. TV cukup satu dan letakkan di ruang terbuka -–itulah saran ahli. Jika TV lebih dari satu, umumnya TV kedua, ketiga dan seterusnya akan ditaruh di kamar bukan? Nah jika keluarga memiliki TV lebih dari satu, bisa jadi apa yang dikatakan Hagen terbukti: anggota keluarga sesungguhnya hidup terpisah satu sama lain di rumah. Sedih kan?
Barangkali Anda adalah orangtua yang berkelimpahan materi, atau Anda adalah orangtua yang amat menyayangi anak Anda, sehingga Anda membelikan anak Anda komputer, TV dan yang lainnya dan kemudian menempatkannya di kamar anak.

Sebaiknya, Anda tak usah membanggakan itu semua. Jika dianalisis, mudharatnya jauh lebih besar ketimbang Anda mengeluarkan media-media itu dari kamar anak dan menempatkannya di ruang terbuka di rumah. Jika Anda tetap membolehkan anak-anak memiliki berbagai fasilitas media di kamarnya, ya siap-siap saja jika anak-anak Anda menjadi makin jauh dengan anggota keluarga lainnya. Bagi remaja, daya tarik media-media ini luar biasa –umumnya jauh lebih menarik ketimbang berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya.

Dengan TV atau komputer di luar kamar, terbuka kesempatan besar untuk interaksi antar anggota keluarga. Paling tidak, saat anak-anak menggunakan internet misalnya, kita dapat menyapa anak kita, “Hai, Sayang, sedang lihat apa? Ada yang menarik?” Dari sapaan kecil semacam inilah dapat lahir obrolan panjang. Hal-hal seperti inilah yang mengeratkan hubungan ayah-ibu-anak atau kakak-adik.

Di tangan kita, para orangtua, terletak tanggungjawab agar anak-anak kita tidak menganggap bahwa media-media di kamarnya adalah sahabat setia anak-anak kita dan karenanya ia senang mengurung diri di kamarnya.

(Nina Armando)