Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Tetap Berbaik Sangka

Bismillah...

Surat itu datang di tengah berkecamuknya perang Yarmuk di masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Surat itu ditujukan kepada panglima perang, Khalid bin Walid, yang berisi tentang pemberhentian dirinya sebagai panglima.

Khalid menunda pengumuman isi surat itu. Bukan karena tak siap mundur dan kecewa, tetapi untuk menjaga stabilitas semangat pasukannya. Agar mereka tidak bertanya-tanya dan tak kecewa.
Waktu yang tepat pun tiba.
Khalid mengumumkan isi surat. Di tengah pertanyaan besar pasukannya, Khalid mengatakan, “Aku berperang bukan karena Umar. Aku berperang karena Allah swt.”

Sungguh sempurna ucapan Khalid yang diikuti oleh kesiapannya untuk terus berperang sebagai prajurit biasa. Ucapan dan sikap Khalid menjawab semua tanya dan mengembalikan konsentrasi pasukan Muslim untuk melanjutkan pertempuran.

Siapa tak kenal Khalid bin Walid? Seorang sahabat yang mendapat gelar ‘Saifullah’ (Pedang Allah) dari Rasulullah saw.
Pedangnya tajam menghunus kaum kafir dan orang-orang murtad. Nyaris semua pertempuran yang dipimpinnya berakhir dengan kemenangan sempurna. Lantas apa alasan yang mendorong khalifah memberhentikannya?

Sahabat, walau Khalid hanya enam bulan bersama Rasulullah saw dalam Islam, hatinya telah terang dengan iman. Saat semua orang bertanya tentang pemberhentian dirinya, Khalid menyiapkan jawaban menentramkan, tak menggiring orang pada buruk sangka. Meski Khalid tak pernah bertanya kepada khalifah mengapa ia diberhentikan, padahal wajar bila Khalid bertanya.

Sikap husnudzan telah mengalahkan rasa penasarannya. Husnudzan tumbuh dari hati yang dekat dengan Allah swt. Dan hati yang basah dengan ayat-ayat Allah akan semakin subur dengan pupuk dzikrullah. “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah akan membuat hati menjadi tenang.”

Hati yang demikian membuahkan sikap husnudzan, salamatussadr (lapang dada), tidak mudah resah, rendah hati, dan berpikir positif. Tak terpikir oleh Khalid untuk menggugat keputusan khalifah.

Maka husnudzan itu mendapatkan jawaban. Umar berkata pada Khalid,“Sungguh tak ada satu pun orang yang meragukan kemampuanmu di medan perang. Engkau adalah seorang ksatria. Tapi justru karena itulah aku khawatir mereka mengkultuskanmu.”Prasangka baik Khalid tidak meleset sedikitpun. Dan sungguh mulia alasan khalifah, yaitu agar Khalid tidak dikultuskan masyarakat.

Sahabat, banyak peran yang menempatkan kita pada posisi strategis. Ada saatnya kita berada di posisi puncak. Namun, sanggupkah kita tetap berbaik sangka kepada Allah dan sesama Muslim bila posisi kita berubah menjadi biasa saja? Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan berhati bersih yang akan ber-husnudzan dalam kondisi seperti itu.