Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Kisah: Anak- Anak Surga

Bismillah...


Sudah pernah nonton film “Childern of Heaven” kah? Children of Heaven adalah sebuah film Iran tahun 1997 yang ditulis dan disutradarai oleh Majid Majidi. Film ini dinominasikan dalam Academy Award untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 1998. Dia menceritakan petualangan kakak dan adik karena sepasang sepatu yang hilang.
Film tersebut sangat menyentuh, karna selain bertema tentang kesederhanaan dan perjuangan hidup, didalamnya banyak adegan yang mengharukan. 

Saya pernah nonton film ini, dulu sekali pas waktu masih duduk dibangku SD, tapi sampai sekarang (17th) masih suka untuk menontonnya lagi. Nah, kalau belum pernah nonton filmnya (entah karena baru dengar sekarang atau memang belum sempat nonton) teman-teman bisa baca cerita dibawah ini. Kebetulan, cerita yang berjudul "Anak-anak Surga" ini diadaptasi dari film tersebut. Sang Penulis cerita berhasil menggambarkan alur cerita dan emosi tokoh yang hampir sama persis dengan Filmnya. Nama penulisnya adalah Ahmad Munif yang biografinya bisa dibaca  diakhir cerita. 

Selamat membaca... :)


******
Anak-Anak Surga

SEPATU berukuran anak-anak itu sudah sobek dan kusam, sobeknya terlalu lebar untuk sebuah sepatu, warnanya yang merah muda mulai luntur menjadi agak putih. Seorang tukang sol sepatu mengoleskan lem pada bagian yang sobek. Merasa tak cukup kuat dengan hanya memberi lem, tukang sol sepatu dengan baju putih yang sudah berubah menjadi buram itu pun menjahitnya.

Ruangan tempat sol sepatu tak begitu lebar, hanya sekitar dua meter persegi, cat dindingnya sudah kusam, beberapa sepatu bekas dan peralatan sol sepatu tertata seadanya. Suara-suara orang menawarkan dagangan terdengar keras dari kios sol sepatu itu. Ali Mandegar, seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar, duduk di depan tukang sol sepatu. Tak seberapa lama tukang sol sepatu itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Ali menerima sepatu dan memberikan uang kepada tukang sol sepatu.

“Terima kasih,” ucap tukang sol sepatu.

“Sama-sama. Sampai jumpa,” ucap Ali.

Ali ke luar dari kios, dia berjalan masuk ke sebuah warung makanan yang khusus menjual opak. Di dalam dia membungkus sendiri opak-opak yang dibelinya. Beberapa orang terlihat antri di depan warung, Ali keluar dari warung opak dan menuju ke pedagang sayur-mayur. Sebelum masuk ke dalam toko, Ali menaruh tas plastik yang berisi sepatu yang baru diambilnya dari tukang sol sepatu tadi di tumpukan keranjang kayu di depan toko. 

“Akbar Aqa, aku perlu kentang,” ucap Ali pada pria setengah baya di toko itu.

Ali mengambil kentang yang berada di rak atas, berukuran besar-besar.

“Jangan yang itu, Nak. Ambil yang di bawah,” ucap sang pedagang. Ali bergegas mengambil kentang yang diletakkan di lantai, ukuran kentang itu separuh dari ukuran kentang yang di rak. “Apa kabar? Aku minta izin,” kata seorang pemulung di depan toko kepada pedagang. Pemulung buta itu mengambil plastik-plastik yang sudah tidak dipakai. Tanpa sengaja plastik Ali yang berisi sepatu terbawa sang pemulung. Sementara Ali masih memilih kentang di dalam kios. Selesai mengambil plastik pemulung itu meninggalkan kios.

“5 Ribu,” kata pedagang setelah Ali menyodorkan plastik yang berisi kentang.

“Kata ibu utang dulu,” ucap Ali.

“Utangnya sudah mencapai batas, minta ia bayar sebagian dulu,” ucap pedagang dengan gerak tangan dan mimik yang kesal.

“Baik,” jawab Ali.

Ali keluar dari kios, menuju ke tempat semula dia menaruh sepatu. Tapi dia tidak menemukan sepatunya. Ali mencari di sela-sela tumpukan keranjang tapi juga tidak menemukan. Dia terus mencari hingga tumpukan keranjang oleng dan sayur yang berada di atasnya berjatuhan. Pedagang sayur marah melihat sayurnya jatuh.

“Apa yang kau lakukan? kenapa kau tumpahkan? Kau gila?” seru pedagang dengan suara keras.

“Sepatu adikku hilang,” ucap Ali dengan mimik ketakutan. Takut karena menumpahkan sayur dan takut karena menghilangkan sepatu adiknya.

“Pergilah!” bentak pedagang kesal.

“Aku meletakkan sepatu adikku di sini,” tutur Ali berharap pedagang itu mau mengerti kesulitannya. Tapi pedagang itu tampaknya sudah dipenuhi dengan rasa kesal, dan Ali hanya menjadi puncak kekesalan dan amarahnya. “Kubilang pergi!” bentak pedagang itu sambil melemparkan tomat sebagai pelampiasan kekesalannya. Beberapa saat Ali kembali ke kios itu. Ia mengambil belanjaannya yang masih tertinggal. 

Melihat Ali kembali, pedagang sayur bertambah marah. “Kau masih disini!” serunya dengan suara tinggi.

Ali berlari, dia terus berlari melewati lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Wajahnya menahan tangis, nafasnya tersenggal-senggal. Tapi dia terus berlari hingga sampai di depan pintu halaman rumahnya. Di halaman itu, ibu Ali sedang bersiteru dengan seorang pria.

“Kau tak bayar sewa. Kau pakai banyak air, halamannya bisa hancur,” ucap pria itu.

“Bagaimana lagi? Cuciannya kotor,” jawab ibu Ali.

“Tak peduli.”

“Kau tak pernah mencuci?”

Ali berjalan lambat, dia melihat ibunya sedang beradu mulut. Wajah Ali nampak tak menentu. Dia baru dimarahi pedagang sayur, dia juga baru menghilangkan sepatu adiknya, dan di rumah dia melihat ibunya ditagih sewa rumah.cTapi Ali tampak tegar, mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Sementara umpatan-umpatan penagih utang yang bersitegang dengan ibu Ali masih terdengar sangat keras.

“Dengarkanlah kau bisa menghancurkan aku, lima bulan tak bayar sewa, halaman rusak,” ucap pria itu.

“Kau tak punya keluarga?” jawab ibu Ali.

“Ini terakhir kali. Kuperingatkan!”

“Beraninya bila sedang tak ada pria.”

Ali berjalan menuju teras rumah, saat dia melepas sepatu, pria yang menagih uang sewa sudah pergi.

“Suruh Zahra mengupas kentang setelah menidurkan adik bayi,” ucap ibu kepada Ali.

Ali berjalan menaiki tangga rumah yang lusuh. Di depan pintu rumahnya yang berkaca, Ali melihat Zahra, adiknya, sedang duduk di lantai sedang menidurkan adik mereka yang masih bayi. Zahra tersenyum saat melihat Ali sudah datang. Ali kemudian masuk ke rumahnya dan menata barang bawaannya.“Ali sudah ambil sepatuku?” ucap Zahra penuh harap.

“Ibu suruh kau kupas kentang jika adik sudah tidur,” jawab Ali mengalihkan perhatian.

“Kau sudah mengambil sepatuku?”

“Sudah diperbaiki?”

“Sudah,” kejar Zahra.

Ali masih menata belanjaannya. Zahra berdiri setelah meletakkan adik bayi dalam pangkuannya. “Mau kemana?” kata Ali sambil berdiri di depan Zahra.

“Mau lihat sepatuku.”

“Sepatumu tak ada.”

“Kau bercanda.”

“Tidak, aku serius. Aku pergi ke toko dan sepatumu hilang. Sudah kucari tapi tak ada,” kata Ali dengan wajah memelas.

“Jadi sepatuku hilang?”

“Jangan bilang ibu, nanti kucari.”

“Bagaimana aku sekolah besok?” ucap Zahra yang mulai menangis.

“Jangan menagis nanti akan kucari.”

“Katamu sudah mencarinya,” kata Zahra sambil mengusap air mata.

“Belum ke semua tempat, kumohon jangan bilang ibu,” ucap Ali sambil menuju pintu untuk ke luar rumah kembali mencari sepatu Zahra. Ali bergegas memakai sepatunya yang lusuh kemudian berlari.

“Ali mau ke mana? Bantu aku melipat karpet,” ucap ibu Ali saat Ali sedang berlari meninggalkan rumah. Ali masih berlari dengan perasaan kalut. Dia melewati teman-teman sepermainannya yang sedang bermain sepakbola.

“Ali, besok kita main lawan Shahin. Kau mau ke mana?” kata seorang temannya yang sedang bermain bola sambil mendekat ke arah Ali. Tapi Ali terus berlari.

Sampai di dekat toko Ali mengendap-endap untuk melihat keadaan. Di dalam toko Akbar Aqa sedang melayani seorang pembeli. Melihat Akbar Aqa sedang sibuk, Ali langsung menuju tumpukan keranjang dan mencari sepatu Zahra di sela-sela keranjang. Saat Ali sedang berusaha keras mencari sepatu adiknya, Akbar Aqa ke luar toko untuk membuang sampah.

“Kenapa kau ke sini lagi? Sudah kubilang pergi! Mengesalkan!” ucap pedagang itu saat melihat Ali sedang mencari sepatu. Ali berlari meninggalkan toko itu, sampai di sebuah toko lainnya, pemilik toko menyapa Ali. “Apa kabar, Nak? Kau mau pulang?”

“Ya,” jawab Ali.

“Sebentar aku minta tolong,” ucap pria itu sambil masuk ke dalam rumah.

Dalam waktu yang singkat pria itu telah ke luar dari rumahnya.

“Ini gula untuk upacara duka. Minta ayahmu pecahkan. Jaga dirimu,” ucap pria itu sambil memberikan karung plastik kecil yang berisi gula kepada Ali yang mendekatinya.


*******


“KAU tak ada urusan dengan induk semang. Tugasku mengurusnya. Kenapa kau ribut dengannya. Kuhajar dia! Kupatahkan lehernya! Kubuat ia sadar dengan tempatnya. Kenapa kau tak mematuhiku. Dokter sudah bilang kau tak boleh bekerja atau marah-marah. Kenapa kau mencuci? Karpet itu berat jika basah,” kata ayah Ali pada istrinya.

Ayah Ali terus berbicara, dia khawatir dengan kesehatan istrinya. Kecemasan itu bahkan tak bisa redam meski dia mengayun-ayunkan palu untuk memecahkan gelondongan gula. Sesekali palu dia letakkan untuk meluapkan kekesalannya dengan mengacung-acungkan tangan. Ibu Ali duduk di tempat tidur, badannya disandarkan ada bantal, wajahnya tampak pucat karena sakit. Ali duduk di depan ayahnya.

“Kenapa kau tak bantu ibumu? Seharusnya kau sadar. Akan kuurus jika kupulang. Apa kewajibanmu di rumah. Makan, tidur, dan main? Kau bukan anak kecil lagi, sudah 9 tahun. Pada usia 9 tahun aku membantu orang tuaku. Kau membuatku marah. Apa kau tolol? Kau tak mengerti?” kata ayah kepada Ali yang menangis.

“Sudah jangan marah-marah,” kata ibu Ali dengan lirih.

“Mereka membuatku marah,” kata ayah Ali sambil memecah gula.

Hari sudah mulai gelap, Zahra beranjak untuk mengambil pakaian keluarganya yang dijemur di depan rumah. Sesaat ketika akan memasuki rumah, Zahra terdiam melihat sepatu kakaknya yang tergeletak di teras rumah. Zahra bergegas masuk ke rumah, di dalam Ali sedang belajar. Di ruang utama rumah kecil yang sangat sederhana itu keluarga Ali berkumpul. Ali duduk di lantai, tangannya sedang menulis di buku. Zahra meletakkan pakaian di keranjang, kemudian dia duduk di dekat Ali dan membuka buku.

“Entah kenapa si bayi merasa tak enak seharian. Zahra ambilkan teh untuk ayahmu,” kata ibu yang duduk di tempat tidur tak jauh dari tempat Ali dan Zahra belajar.

Zahra beranjak untuk mengambilkan teh, ibu kelihatan sedih. Zahra mengantarkan teh kepada ayahnya yang sedang memecah gula tepat di depan ibu yang sedang duduk sedih. “Terima kasih sayang, seharian aku menyediakan teh di kantor. Tapi teh Zahra istimewa. Kau tak bawa mangkuk pula,” kata ayah kepada Zahra karena Zahra tidak membawa mangkuk yang berisi gula.

“Gulanya banyak sekali,” kata Zahra melihat gula yang sedang di pecah-pecah oleh ayahnya.

“Ini milik Masjid dipercayakan kepada kita,” kata ayah.

“Ambil gula batu di mangkuk,” kata ibu menengahi. Zahra pun bergeges mengambil gula yang berada di rak di belakangnya.

“Memang gulanya habis?” tanya ayah.

“Aku bawa kupon ke toko. Tapi gulanya belum datang,” kata ibu.

“Lupakan. Ia tak memperhatikan berita. Ia distribusikan seenaknya. Berikan kuponnya padaku kuambil dari toko di kantor saja.”

“Ada di bawah karpet,” kata ibu sambil memegangi kepalanya.

Setelah mengambilkan gula Zahra kembali duduk di dekat kakaknya. Terdengar suara tangis bayi. Zahra membuka buku tulis dan menulis untuk Ali: “Ali bagaimana aku sekolah tanpa sepatu besok?” tulis Zahra. Saat Zahra menulis terdengar ibu berbicara kepada ayah, “Pergilah ke kantor, susu bayi juga sudah habis”.

“Tak masalah,” kata ayah.

Zahra dengan hati-hati memberikan buku tulisnya kepada Ali. Setelah membaca Ali tampak gundah.

“Istri Rahim Aqa juga tumor. Operasi justru memperparah. Terima saja,” kata ayah kepada ibu. Sebentar Ali memperhatikan orang tuanya. Kemudian dia menulis.

“Apa aku harus diam saja seharian?” tanya ibu.

“Dokter sudah melarang kerja,” jawab ayah.

Ali masih menulis untuk adiknya. “Kau bisa pakai sandal,” tulis Ali kemudian menyerahkan buku kepada Zahra.

“Adik Kokab Khanom dioperasi kini sembuh,” kata ibu.

“Tak usah operasi, aku tak mau kau jadi lumpuh” jawab ayah.

Zahra membaca tulisan Ali dan dia balas menulis: “Ali, kau berani sekali. Kau hilangkan sepatuku. Akan kuberi tahu ayah”. Zahra memberikan buku tulisnya kepada Ali lagi. Sekilas ayah melihat kepada Ali dan Zahra. Keduanya lalu tampak tekun menulis. Saat ayah kembali berkonsentrasi memecah gula, Ali kembali
memberikan tulisan kepada Zahra: “Nanti kita berdua dipukuli ayah, karena ayah tak punya uang untuk membelikan sepatu”.

Zahra membalas tulisan Ali: “Lalu bagaimana?”. “Pakailah sepatuku, aku sekolah setelah kau pulang,” balas Ali. “Aku tak mau” tulis Zahra. Kumohon padamu,” pinta Ali dalam tulisannya.

Sejenak Zahra termenung membaca tulisan Ali yang terakhir, saat itu Ali memberi Zahra pencil. “Ini untukmu,” kata Ali. Zahra masih memegang pensilnya yang sudah pendek, dia meletakkannya dan mengambil pencil yang diberi Ali.


********


PAGI itu matahari bersinar cerah, burung-burung berkicauan, seperti hari lain, pagi ini Zahra berangkat sekolah. Saat membuka pintu dia tak bersemangat, geraknya pelan dan langkahnya lambat. Satu persatu tangga teras dia jejak dengan lemah. Sampai di tangga paling bawah sejenak dia melihat sepatu kakaknya yang akan dia pakai. Warnanya yang putih sudah berubah buram karena termakan usia. Satu persatu Zahra memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Ukuran sepatu itu lebih besar dari ukuran kaki Zahra. Dia berjalan pelan, bagian belakang sepatu turun naik mengikuti gerak kaki Zahra.

Di depan gerbang sekolah, Zahra melihat sepatunya, dia tidak percaya diri. Namun dia harus tetap masuk. Zahra berlari menuju gerbang sekolah, bergabung bersama teman-teman sekolah yang lain.

Hari itu Zahra menerima pelajaran praktek olah raga lompat jauh. Murid-murid berbaris rapi untuk menanti giliran melompat. Dalam barisan Zahra kembali melihat sepatu yang dikenakannya, dia memandang sepatu lain yang dipakai teman didekatnya. Merasa minder, dia berlahan pindah ke belakang barisan.

Satu persatu murid dipanggil oleh guru untuk melakukan lompat jauh. Salah satu dari mereka terjatuh. “Kau baik-baik saja? Kau diam di sini,” kata guru pengajar sambil menolong murid yang jatuh itu dan membawanya ke tempat yang teduh.

“Ferestah jatuh karena sepatunya. Sepatu olah raga sangat penting. Kulihat beberapa tak pakai, tapi ada yang pakai,” jelas sang guru kepada para murid-muridnya.

Mendengar ucapan gurunya, Zahra terseyum, dia tidak minder lagi memakai sepatu milik kakaknya yang kebetulan sepatu olah raga. Zahra kembali ke barisan depan dan melihat sepatu yang dipakainya di antara sepatu lain yang dipakai teman-temannya.


********


PULANG sekolah Zahra langsung berlari, sementara Ali menunggu di lorong perkampungan dekat rumahnya. Ali tampak cemas menanti adiknya, berkali-kali dia memandang ujung lorong. Zahra terus berlari tak peduli dengan lalu-lalang orang di sekitarnya. Tak berapa lama Zahra sampai di lorong tempat Ali menunggu.

”Cepat....” ucap Ali memanggil Zahra.

Zahra terus berlari sampai di dekat Ali. “Kenapa terlambat?” ucap Ali dengan wajah cemas.

“Tidak aku sudah berlari,” jawab Zahra dengan nafas terputus-putus.

“Lepaskan. Aku terlambat,” kata Ali sambil menukar sandal yang dipakainya dengan sepatu yang dipakai adiknya secara tergesa-gesa.

Ali berlari secepat kemampuannya. Dia tak peduli keramaian di sekitar, dia terus berlari dan berlari, lorong-lorong kampung, pasar, jalan, dan perkantoran dia lewati dengan berlari sepenuh tenaga. Tapi Ali tetap terlambat, sampai di sekolah gerbang sudah tertutup. Karena tidak dikunci Ali tetap masuk ke dalam, halaman sekolah sudah sepi, teman-teman sekolah Ali sudah masuk kelas. Ali terus berlari menuju kelas, larinya sangat cepat sehingga ketika seorang guru memanggilnya Ali tidak mendengar.

********

PULANG sekolah Ali terlihat santai, dia berjalan sambil melambai-lambaikan tas jinjingnya. Ali kemudian duduk di bibir kolam di halaman rumahnya. Kolam tersebut berbentuk bulat berdiamer sekitar dua meter persegi, di bibir kolam beberapa bunga dalam vas berjejer. Di tepi kolam itu Zahra sedang mencuci peralatan rumah tangga.

Ali memutar kran air di depannya dan berkumur.

“Kau tiba di sekolah tepat waktu,” kata Zahra sambil tetap mencuci.

“Aku terlambat, kau harus lebih awal,” jawab Ali.

“Aku langsung pulang seusai sekolah.”

“Kau tak bilang pada Ibu kan?”

“Kalau kubilang tak akan kubilang, aku tak akan bilang.”

“Sepatumu kotor. Aku malu memakainya,” kata Zahra sambil melihat sepatu yang masih dipakai Ali.

“Kau buat alasan lagi,” ujar Ali.

“Sungguh, kotor.”

“Ayo kita cuci,” ucap Ali sambil tersenyum.

Ali kemudian melemparkan secuil makanan ke kolam, sejumlah ikan yang berada di kolam langsung memakannya. Ali dan Zahra kemudian mencuci sepatu bersama. Mereka mencuci dengan hati riang, sesekali Ali meniup busa deterjen hingga gelembungnya beterbangan. Zahra pun tak mau ketinggalan untuk mempermainkan busa di tangannya. Selesai mencuci Ali menjemur sepatunya di atas pagar tembok di depan rumah.

Beberapa saat kemudian teman Ali datang, dia membawa bola. “Ali ayo latihan,” ujarnya kepada Ali yang berdiri di depannya.

“Aku sibuk.”

“Ayolah.”

“Aku tak bisa.”

“Tak akan lama.”

“Ibuku sakit.”

“Payah,” ucap teman Ali sambil berlari pergi.

Ali hanya menatapnya, seolah dia ingin memenuhi ajakan temannya. Ali kemudian berjalan gontai, dia duduk di tangga teras rumah, dan memandangi sepatu yang baru selesai dicucinya.


********


MALAM telah tiba, di ruang utama, Ali dan keluarganya berkumpul untuk makan malam. Mereka duduk melingkar dan asik berbincang-bincang sehingga tak menghiraukan siaran acara di televisi hitam putih yang berada di dekatnya.

“Hari ini putriku lakukan semua pekerjaan rumah. Ali membantunya,” kata ibu di sela-sela makan.

“Aku beli roti dan sayur,” papar Ali.

“Aku menyapu dan mencuci sayur,” tambah Zahra.

“Gadis pintar. Kalian akan kubelikan hadiah jika aku naik gaji,” ujar ayah yang sedang menidurkan bayi dipangkuannya.

“Kau tampak lebih sehat setelah istirahat beberapa hari. Jika kau tak naik- turun tangga, kau akan segera sembuh,” kata ayah kepada ibu. Ali dan Zahra mengalihkan pandangan ke arah telivisi. Saat ada penayangan iklan sepatu, Ali menoleh ke arah Zahra. Keluarga itu berkumpul di ruang utama sampai mereka merasa lelah dan memulai tidur di ruang itu juga.

Tengah malam Zahra masih terjaga, hujan turun deras. Zahra teringat sepatu kakaknya yang masih dijemur di luar rumah.

“Ali, Ali....,” ucap Zahra membangunkan Ali.

“Ada apa?” jawab Ali sembari mengangkat badannya.

”Hujan turun. Sepatumu basah. Aku takut keluar,” jawab Zahra.

Ali langsung bangun, dalam gelap dan hujan Ali berlari menuju tempat penjemuran sepatu di depan rumahnya. Dia membawa sepatu ke teras rumah, sebelum meletakkannya Ali mengetukkan sepatunya yang sudah basah beberapa kali.


********


PAGI itu langit cerah, sisa-sisa hujan semalam tidak terlihat lagi, burung berkicauan. Zahra keluar dari rumah memakai seragam sekolah, jilbab putih dan pakaian biru gelap, serta tas punggung biru muda. Di tangga teras paling bawah Zahra berhenti, dikenakannya sepatu kakaknya yang semalam kehujanan.

Seperti hari yang lain, hari itu Zahra berangkat sekolah melewati jalan yang biasa ditempuhnya. Di depan sebuah toko sepatu, sejenak Zahra berhenti, dia memandangi satu persatu sepatu yang dipajang di etalase toko.

Di sekolah, hari itu, pada jam terakhir pelajaran, Zahra ada ujian, dia tampak gelisah. Sesekali dia mencoba untuk melihat arloji yang dipakai gurunya. 

“Permisi, Bu. Jam berapa sekarang?” tanya Zahra sambil mengacungkan jari. 

“Masih ada waktu lanjutkanlah,” jawab guru tak mengerti apa yang sebenarnya dirisaukan Zahra.

Sementara Ali tampak gelisah menunggu kedatangan Zahra. Di lorong perkampungan yang sempit Ali berdiri, tangan kanannya menggesek-gesek ke tembok rumah di dekatnya, tangan kirinya menjinjing tas ransel. Zahra dengan cepat menyelesaikan soal ujian. Dia berdiri dan menyerahkan hasil pekerjaannya. 

“Permisi, Bu. Boleh aku pulang?” ucap Zahra kepada gurunya.

“Kau terburu-buru sekali,” jawab guru sembari menerima hasil ujian Zahra.

“Pergilah,” lanjut guru tersebut. Zahra keluar kelas dengan berlahan. Sampai di luar pintu Zahra langsung berlari. Dia tampak kesulitan berlari dengan sepatu yang kebesaran. Saat melompat sebuah selokan, sepatu yang di pakainya jatuh dan hanyut terbawa air selokan. Zahra berlari menyusuri selokan untuk mengejar sepatu itu.

Beberapa kali dia menjulurkan tangan untuk meraih sepatu yang hanyut itu, tapi dia tak cukup cepat untuk bisa meraihnya. Zahra tak putus asa, dia terus berlari mengejar sepatu itu sambil sesekali mencoba untuk menangkapnya. Di depan sebuah toko, sepatu itu tersangkut di bawah beton yang ada di atas selokan. Zahra menangis karena tangannya tak mampu menggapai ke dalam. Dia bersandar pada sebuah pohon merenungi nasib yang menimpanya. Saat itu datanglah seorang pria setengah baya mendekati Zahra.

“Ada apa gadis kecil?” ucap pria itu sambil berusaha menenangkan Zahra.

“Sepatuku terjatuh dan tersangkut di bawah jembatan,” jawab Zahra yang masih menangis.

“Jangan menangis akan kuambilkan”.

Pria itu kemudian menengok ke bawah jembatan dan mengambil sebatang kayu. Dia berusaha menyodok sampah yang membuat sepatu itu tersangkut. Penghalang berhasil dibersihkan, dan di depan ada pria lain yang sedang membersihkan selokan.

“Tangkap sepatu itu,” teriak pria yang menolong Zahra.

Pria di depan itu kemudian menangkap sepatu tersebut dengan skop yang digunakannya untuk membersihkan selokan. Sepatu itu akhirnya bisa didapatkan kembali.

Zahra pun pulang, saat bertemu Ali yang menunggunya Zahra berjalan seolah tak peduli. “Dari mana saja? Kenapa terlambat?” kata Ali yang menanggung rasa cemas.

Zahra melepas sepatu dan memberikan kepada Ali. “Kenapa basah,” selidik Ali.

“Aku tak mau pakai lagi,” jawab Zahra gundah.

“Kenapa basah?” kata Ali yang masih penasaran.

“Jatuh ke selokan.”

“Aku tak bisa ke sekolah pakai sepatu basah.”

“Sepatumu besar, jadi jatuh.”

“Bagus sekali,” kata Ali meledek Zahra.

“Ini salahmu. Kau hilangkan sepatuku. Cari atau kuberi tahu Ayah,” jawab Zahra sambil meneteskan air mata.

“Aku tak takut dipukuli. Ayah tak punya uang hingga akhir bulan. Jadi ia harus pinjam,” jawab Ali dengan suara agak keras. Zahra mengalihkan pandangan ke bawah, air matanya masih mengalir. Ali memakai sepatu, Zahra melihatnya.

“Kukira kau mengerti itu,” ucap Ali kepada Zahra. Sejenak Ali menatap wajah adiknya, dia berbalik dan berlari menuju sekolah. Ali terus berlari, sampai di tangga sekolah, terdengar suara yang memanggilnya.

“Tunggu,” kata suara itu.

Ali berhenti dan berbalik ke arah suara berasal.

“Ke sini,” lanjutnya.

Ali berjalan menuruni tangga. Seorang guru berjalan mendekat.

“Dari mana saja? Kenapa terlambat?” tanya guru tersebut.

“Maaf, Pak. Rumahku jauh sekali,” jawab Ali dengan mimik sedikit takut sambil mengangkat jari ke atas.

“Mungkin kau main dulu di jalan. Kemarin kau juga terlambat,” selidik guru.

“Lain kali kau tak boleh masuk,” imbuh guru.

“Ya, Pak,” jawab Ali.

Sebelum Ali beranjak, guru tersebut melihat ke bawah.

“Kenapa sepatumu basah?” tanya guru.

“Maaf, Pak. Aku jatuh di selokan,” jawab Ali sambil kembali mengangkat jari ke atas.

“Celanamu tak basah,” selidik guru sambil melihat celana Ali.

“Maaf, Pak. Selokannya dangkal,” jawab Ali.

“Begitu,” kata guru tersebut. Dia lalu melihat saku celana Ali dan mengambil kaus kaki yang ada di saku itu.

“Kenapa kaus kakimu tak basah?”

Ali hanya diam, mimiknya penuh dengan kesedihan, dia tidak tahu harus mencari alasan apalagi untuk menyakinkan guru tersebut.

“Jangan sampai terlambat lagi, masuk ke kelasmu.”

“Ya, Pak,” jawab Ali. Dia berbalik dan berlari menaiki tangga menuju ruang kelasnya di lantai dua.

“Permisi, Pak,” kata Ali saat memasuki kelas sambil mengangkat jari ke atas.

“Duduk,” jawab guru pengajar.

Ali menutup pintu dan menuju tempat duduknya. Dia duduk semeja dengan dua murid lainnya. Ali duduk dan mengeluarkan peralatan dari tas. Teman di belakangnya menepuk pundak Ali sambil memberikan secarik kertas. Ali menerima dan membacanya: “Hari ini kita main lawan Shahin”.

Ali melihat ke arah temannya. Temannya menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Ali membalas tulisan tersebut. Ali kemudian menulis: “Aku tak bisa ikut. Ibuku sakit”. Setelah membaca balasan Ali, teman Ali tersebut langsung berdiri. “Ini pertandingan final,” ucapnya.

Semua murid di kelas itu pun tertawa mendengar perkataan tersebut. Pak guru yang sedang tekun mengoreksi soal merasa terganggu.

“Ada apa ini? Jangan berisik. Duduk yang benar,” ujarnya.

Murid-murid kembali diam, mereka melanjutkan mengerjakan pekerjaanya. Pak guru selesai mengoreksi soal.

“Yang tadi tertawa kini akan menangis. Hanya 15 murid yang lulus. Hanya tiga yang bernilai hebat,” ujar pak guru sambil mengambil hasil koreksiannya.

“Karim Nanva, Ali Mandegar, dan Salman Nanjafi,” ucap guru tersebut.

“Aku mau bicara dengan mereka seusai pulang sekolah,” tambahnya.

Pulang sekolah Ali tampak senang, dia berlari sepanjang jalan yang dilaluinya. Di sebuah lorong dia melihat Zahra sedang berjalan sendirian. Ali memanggilnya, tapi Zahra tetap berjalan dengan wajah menunduk ke bawah melewati lorong lain. Ali mengejarnya.

“Kenapa tak berhenti saat kupanggil? Kau, mau ke mana?” kata Ali saat sampai di depan Zahra dengan nafas tersenggal-senggal. “Mengembalikan mangkuk sop Kobra Khanom,” jawab Zahra masih tetap menunduk memandangi mangkok yang dibawanya.

“Kau masih marah padaku,” kata Ali ingin memastikan.

Ali membuka tasnya, dia mengambil sebuah bolpen, “ini bagus kan?” ucap Ali.

“Dapat dari mana?” tanya Zahra sambil menatap Ali penuh selidik.

“Hadiah dari guruku. Ini untukmu. Ambilah, ambilah,” kata Ali sambil mengulurkan bolpen di tangannya kepada Zahra.

“Sungguh untukku.”

“Ya.”

“Aku tak bilang pada ibu.”

“Aku tahu kau tak akan bilang.”

“Aku akan segera pulang,” kata Zahra sambil meninggalkan Ali.


********


HARI telah gelap, Ali dan keluarganya berkumpul di rumah. Ibu sedang memasak,

Zahra menggendong bayi, ayah sedang asyik mendengarkan radio, dan Ali sendiri

sedang belajar.

“Ali tolong ambilkan nampan,” kata ibu sambil mengisi mangkuk dengan

masakannya.

Ali beranjak dari belajar dan mengambil nampan. Ibu menaruh mangkuk di

atas nampan yang dibawa Ali, “bawakan sop ini pada Kokab Khanom,” kata ibu

kepada Ali.

Ali berjalan keluar dan menuju rumah yang berdempetan dengan rumahnya.

Di luar tampak gelap, hanya beberapa lampu menerangi halaman itu dengan sinar

yang temaram, tapi suara nyanyian terdengar keras dari radio-radio yang dinyalakan

orang-orang di dalam rumah yang berdempetan itu.

Sampai di depan rumah Kokab Khanom Ali mengetuk pintu.

“Siapa,” kata suara dari dalam rumah.

“Ali. Aku bawa sop untuk Khokab Khanom.”

“Masuklah, Nak.”

Ali membuka pintu dan masuk mendekati Khokab Khanom yang sedang

menjahit pakaiannya. Di depannya, istri Khokab Khanom sedang tiduran

bersandarkan bantal di dinding.

“Terima kasih bagaimana ayahmu,” sambut Khokab Khanom saat Ali

meletakkan mangkok sop di dekatnya.

“Baik, terima kasih,” jawab Ali.







22 







“Ali ibumu baik sekali,” kata istri Khokab Khanom yang sedang berbaring

kepada Ali sambil tetap berdzikir dengan tasbih di tangannya.

“Tak apa.”

“Bagaimana ibumu?”

“Lumayan,” jawab Ali sambil mengangkat badannya.

“Sampaikan salamku,” kata istri Khokab Khanom.

“Ya Bu,” jawab Ali.

“Jangan pergi dulu, ini tak seberapa,” cegah Khokab Khanom sambil

mengambil sesuatu di bawah meja.

“Ambillah ini,” ucap Khokab Khanom sambil mengulurkan kacang di

genggaman tangannya.

“Tidak, terima kasih.”

“Ambillah Nak,” pinta Khokab Khanom.

Ali kemudian menerimanya.

“Tuhan memberkatimu,” kata Khokab Khanom masih menggenggam tangan

Ali.

“Salam untuk ayahmu,” pesan Khokab Khanom kepada Ali yang sedang

meninggalkan rumah itu.




********




PAGI telah datang lagi, terlihat murid-murid sedang berbaris di depan sekolah, salah

satunya adalah Zahra. Mereka sedang menerima instruksi dari salah seorang guru.




23 







“Angkat tangan,” teriak instruktur.

“Aku kembang negara,” teriak murid-murid serentak sambil mengangkat

tangan ke atas.

“Perhatian,” teriak instruktur lagi.

“Patuh pada pimpinan,” teriak murid-murid sambil mengangkat tangan ke

depan.

Instruktur berbicara di atas podium dengan menggunakan pengeras suara.

“Ujian akan tiba. Aku ada saran untuk kalian. Selama ujian kalian ingin lihat hasil

belajar kalian. Belajarlah lebih keras. Atur waktu. Aku akan bicara dengan orang tua

kalian untuk mamastikan kalian sudah belajar di rumah. Jangan nonton TV sampai

larut. Atur waktu istirahat untuk nonton film kartun, selebihnya belajar. Minta tolong

pada ibu untuk membahas pelajaran agar yakin kalian paham.”

Ketika instruktur berbicara, murid-murid mendengarkan dengan caranya

masing-masing. Zahra mendengarkan pidato instruktur sambil mengamati satu

persatu sepatu yang dipakai temannya. Dia terlihat malu dan kemudian menutupi

sepatu yang dipakainya dengan tas ketika melihat sepatu temannya bagus-bagus.

Zahra terus melihat satu persatu sepatu temannya, sampai akhirnya dia melihat sepatu

merah muda yang sudah agak luntur warnanya. Zahra sunguh-sungguh melihat sepatu

itu, dia tahu bahwa itu adalah sepatunya. Zahra mencoba menghafal wajah murid

yang memakai sepatunya.

“Potong kuku secara teratur. Potong setiap Jumat bila sempat. Jadi bersih hari

Sabtu. Kenapa? Bakteri terkumpul di bawah kuku. Bila makan pakai tangan kalian

bisa sakit. Masuk ke kelas,” ujar instruktur di depan.




24 







“Masuk dengan tertib. Kelas satu, dua, tiga, empat, dan lima,” instruksi guru

tersebut dengan menunjuk satu persatu barisan untuk masuk ke kelas masing-masing.

Murid-murid tampak serius mengerjakan soal ujian, mereka mencatat soal-

soal yang dibacakan oleh gurunya. Zahra tidak hanya serius mengerjakan ujian, dia

juga masih risau melihat sepatunya yang hilang dipakai oleh murid lain.

“Angkat kertas kalian. Cepat. Farrokhi, kumpulkan yang di sini,” perintah

guru tersebut saat bel istirahat berbunyi.

Murid-murid mengangkat kertas ujian, guru mengambil hasil ujian sambil

berpesan pada murid-muridnya. “Tetap konsentrasi. Gunakan waktu istirahat dengan

baik. Ingat berikutnya pelajaran matematika.”

Saat istirahat, Zahra berjalan berlahan di halaman sekolah mencari murid yang

memakai sepatunya. Dia melihat ke bawah, ke arah sepatu yang dipakai teman-teman

sekolahnya. Zahra berjalan kesana kemari untuk menemukan orang yang memakai

sepatunya, sampai di sebuah sudut sekolah dia melihatnya. Zahra berjalan mendekati

murid yang memakai sepatunya yang sedang bersandar di dinding dan memakan

makanan dalam plastik. Dia tidak langsung berbicara pada murid itu, tapi berdiri di

sebelahnya, bersandar di dinding dan memperhatikannnya.

Bel berdering, murid-murid berlari masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran

hingga selesai. Pulang sekolah Zahra berdiri tidak jauh dari gerbang, dia menunggu

murid yang memakai sepatunya. Tak lama kemudian Zahra sudah mengikuti murid

tersebut. Lorong-lorong kampung telah dilewatinya, hingga akhirnya Zahra tahu

rumah murid yang memakai sepatunya. Dia pun kemudian pulang untuk bergantian

sepatu dengan kakaknya.




25 







Ali pun terlambat masuk sekolah lagi. Meski telah berlari hingga nafasnya

tersenggal-senggal. Saat memasuki teras sekolahan Ali sangat hati-hati agar tidak

ketahuan guru pengawas lagi. Namun naas, saat menaiki tangga, guru pengawas

sudah berdiri menunggu di sana.

“Kenapa terlambat lagi? Kau tidak bisa memakai alasan sepatu basah lagi?”

selidik guru pengawas itu sambil mendekati Ali yang nampak kelelahan.

Ali hanya diam saja, dia tak mungkin mengungkapkan alasan sesungguhnya

yang membuat dia terlambat.

“Ikut aku,” kata guru pengawas sambil menuruni tangga.

Ali mengikuti langkah guru tersebut sampai di pintu teras sekolah.

“Ayo pergi,” perintah guru tersebut sambil menunjuk ke arah luar.

Ali hanya diam. Matanya berkaca-kaca. Tapi guru pengawas itu tak mau tahu.

“Pulanglah dan kembali bersama ayahmu.”

“Maaf Pak. Ayahku sedang bekerja,” bela Ali sambil mengangkat jari telunjuk

ke atas.

“Suruh ia datang besok. Pergilah.”

“Maaf Pak. Besok juga ia bekerja.”

“Kembalilah dengan ibumu.”

“Maaf Pak. Ibuku sakit.”

“Tak ada alasan, ini cara kami memperlakukan murid nakal. Pergi.” Tegas

guru pengawas sambil menggerakkan tangannya menyuruh Ali meninggalkan

sekolah.







26 







Ali menurutinya. Dia berjalan lunglai melewati halaman sekolah. Di halaman

Ali bertemu seorang guru pengajarnya.

“Ada apa Ali?” tanya guru tersebut melihat Ali mengusap air matanya.

Guru pengajar tersebut kemudian mengajak Ali kembali ke sekolah. Guru

pengawas masih di pintu teras sekolah.

“Tunggu di sini,” kata guru pengajar menyuruh Ali.

Guru pengajar itu kemudian mendekati guru pengawas. Dia mengucapkan

salam dan kemudian meyakinkan kepada guru pengawas bahwa Ali adalah murid

yang baik dan tertib.

“Mandegar ke sini,” panggil guru pengajar.

Ali berjalan mendekat ke arah mereka.

“Kali ini kuijinkan masuk, berkat Pak Jafari. Jangan sampai terulang,” nasehat

guru pengawas.

Ali berjalan menuju ke kelas. Pak Jafari mengucapkan terima kasih pada guru

pengawas.




********
 




SORE
 




itu
 




Ali
 




dan
 




Zahra
 




berjalan
 




terburu-buru
 




melewati
 




lorong-lorong
 

perkampungan. Sampai di depan sebuah rumah, mereka berhenti.

“Itu dia rumah mereka,” tunjuk Zahra ke arah rumah yang ada di depannya.

Rumah itu adalah rumah murid satu sekolah Zahra yang siang tadi dibuntuti Zahra

karena memakai sepatunya.




27 







Ali dan Zahra berlari ke balik sebuah bangunan saat melihat pintu rumah itu

terbuka. Dari dalam rumah keluar gadis kecil yang memakai sepatu Zahra saat

sekolah tadi. Gadis kecil itu terlihat sedang bersenda gurau dengan orang yang masih

berada di dalam rumah.

“Anak nakal. Main-main lagi? Di mana kau sayang?” ucap ayah gadis kecil

itu sambil berjalan meraba-raba pintu untuk keluar.

Orang itu tidak melihat anaknya yang berada di samping kiri pintu. Dia

berjalan ke arah kanan pintu sambil meraba-raba dinding. Gadis kecil itu kemudian

mendekati ayahnya dan merekapun berpelukan. Dari dalam rumah keluar seorang ibu

yang membawa barang asongan. Ibu itu memakaikan tempat asongan di dada ayah.

Gadis kecil itu menggandeng ayahnya utuk menunjukkan jalan secara berlahan untuk

berkeliling berjualan asongan.

Ali dan Zahra hanya memandangi kejadian itu. Wajah keduanya tampak iba

melihat keluarga gadis kecil yang memakai sepatu Zahra. Mereka berdua akhirnya

pulang dengan lunglai.

Malam harinya, Ali membantu ayahnya membuatkan teh untuk jamaah

masjid. Setelah selesai, Ali dan keluarganya berkumpul di rumah. Ayah Ali

merencanakan pekerjaan yang akan dilakukannya besok pagi.

“Besok Jumat. Ali dan aku akan ke kota dan berkeliling,” kata ayah sambil

membetulkan sabit.

“Itu menyenangkan dan mungkin kita akan dapat uang,” lanjut ayah Ali

dengan mimik optimis.

********




28 










PAGI itu cuaca cerah, gedung-gedung berkilauan diterpa cahaya matahari. Ali duduk

di depan ayahnya yang menggenjot sepeda. Mereka berdua melewati jalan-jalan kota

di antara mobil-mobil dan kendaraan bermotor. Ali tampak sedang asik menikmati

kemegahan gedung-gedung yang dilewatinya.

Ayahnya Ali kelelahan, sepeda yang tadi dinaiki kini dituntun. Di sebuah

perumahan dengan bangunan rumah yang megah dan tertata rapi serta halaman yang

sangat luas, ayah Ali mulai merencanakan untuk menawarkan jasa.

“Aku bunyikan bel di sisi ini, kau di seberang,” kata ayah Ali.

“Bilang apa?” tanya Ali.

“Tanya apa mereka butuh tukang kebun.”

Sampai di depan sebuah rumah, ayah Ali berhenti dan ingin memberi contoh

kepada Ali cara menawarkan jasa. “Dengarkan dan pelajari ini. Lalu kau lakukan,”

ucap ayah Ali menuju ke arah alat pemanggil yang ada di pagar depan rumah itu.

Ayah Ali membunyikan bel dan berkonsentrasi untuk mendengarkan jawaban

dari dalam rumah.

“Ya, siapa,” kata suara yang keluar dari alat pemanggil

“Ini aku,” jawab ayah Ali.

“Siapa?”

“Karim, Bu.”

“Cari siapa?”

“Tidak, Bu.”

“Siapa kau?”




29 







“Kami....”

“Kenapa kau ganggu orang?”

“Tunggu,” pinta ayah Ali mulai panik dan memandangi Ali yang juga mulai

panik.

“Parviz lihat siapa yang ganggu itu!” teriak suara dari dalam yang terdengar di

alat pemanggil.

“Lari Ali,” ajak ayah Ali kepada Ali sambil berlari ke arah sepedanya.

“Siapa itu? Jangan kabur jika berani!” tantang seorang lelaki dari dalam

rumah.

Ali dan ayahnya bergegas meninggalkan tempat itu. Ayah Ali menggenjot

sepeda sekencang-kencangnya. Saat dirasa aman, ayah Ali meminta Ali turun dari

sepeda, kemudian dia menuntunnya.

“Orang-orang aneh. Aku tak bicara salah,” ucap ayah Ali sambil memeriksa

ban sepeda.

Di depan sebuah rumah, mereka mencoba untuk menawarkan jasa lagi.

“Siapa.”

“Selamat pagi.”

“Bisa kubantu.”

“Ya, terima kasih.”

“Siapa kau?”

“Karim.”

“Cari siapa?”

“Aku.......” jawab ayah Ali gugup.




30 







Melihat itu Ali membantu ayahnya menjawab, “kami tukang kebun, kami

menyemprot pohon, potong rumput, pangkas dahan.”

“Kami tak butuh jasa kalian,” jawab orang di dalam.

Ayah Ali memandang Ali kagum. “Hebat kau tau banyak”.

Ali tersenyum kepada ayahnya.

“Ayo pergi,” ucap ayah Ali mengajak Ali untuk melanjutkan menawarkan

jasa mereka.

Ali dan ayahnya berbagi tugas. Mereka menawarkan jasa ke setiap rumah

yang ada di perumahan itu. Namun setiap Ali ataupun ayahnya menawarkan jasa,

orang-orang di perumahan itu menolaknya. Tapi Ali dan ayahnya tetap berusaha.

Sampai akhirnya mereka merasa lelah dan beristirahat. Di depan sebuah rumah Ali

mencuci muka dengan air dari kran yang tersedia di situ. Dari alat pemanggil yang

ada di dekatnya, Ali mendengar ada suara yang memanggilnya.

“Siapa itu? Kenapa kau tak menjawab. Kau sudah pergi?” kata suara anak

kecil yang keluar dari alat pemanggil.

“Aku di sini apa ayahmu butuh tukang kebun?”

“Ayahku tak ada.”

“Tanya ibumu.”

“Tak ada juga. Hanya aku dan kakekku.”

“Tanya kakekmu.”

“Kau tukang kebun.”

“Bukan tapi ayahku.”

“Di mana ayahmu?”




31 







“Di jalan. Tanyakan kakekmu.”

“Siapa namamu?”

“Aku Ali.”

“Aku Alireza. Kau kelas berapa?”

“Kelas tiga.”

“Kini tanyakan kakekmu.”

“Kakekku tidur.”

“Kenapa tak bilang dari tadi.”

Ayah Ali telah selesai istirahat, dia mengajak Ali untuk melanjutkan

menawarkan jasa.

“Ayo Ali,” ajak ayahnya sambil menuntun sepeda.

“Kau mau masuk dan main denganku,” pinta anak di dalam rumah kepada Ali

melalui alat pemanggil.

“Aku harus pergi,” jawab Ali sambil beranjak untuk mengikuti ayahnya.

“Tunggu,” pinta anak kecil dari dalam rumah itu kepada Ali yang sudah pergi.

Ali dan ayahnya yang menuntun sepeda tampak lesu. Mereka berjalan lebih

lambat daripada saat berangkat tadi. Saat akan berbelok jalan, terdengar teriakan dari

seorang anak kecil. Ternyata dia adalah Alireza, anak kecil yang berbicara dengan Ali

tadi. Alireza berjalan bersama kakeknya untuk memanggil Ali.

Ali dan ayahnya terseyum, mereka berbalik dan masuk ke pekarangan rumah

kakek tersebut. Ayah Ali kagum melihat pekarangan rumah itu yang luas dan dihiasi

tumbuh-tumbuhan yang mewah.







32 







“Ada pupuk yang bisa kau gunakan. Setelah itu semprotlah pepohonan.

Terutama ceri dan aprikot. Aku sendiri yang tanam. Kusemprot tiap tahun. Pernah tak

kusemprot, keduanya langsung mati,” jelas kakek itu kepada ayah Ali.

“Ali ayo main,” ajak Alireza kepada Ali.

“Pergilah Nak, kutemani ayahmu,” kata kakek itu kepada Ali.

Ayah Ali bergeges mempersiapkan diri. Ia letakkan sepeda yang dituntunnya.

Ia persiapkan alat-alat untuk memelihara kebun. Setelah semua siap, ayah Ali mulai

bekerja di pekarangan rumah itu.

Sementara Ali dan Alireza bermain di arena mainan yang ada di rumah

tersebut. Keduanya sangat senang. Hingga akhirnya saat ayah Ali telah selesai dengan

pekerjaannya, Alireza sudah tertidur di ayunan.

“Terima kasih. Ini,” ucap kakek itu sambil memberikan uang kepada ayah Ali.

“Uang tak penting,” jawab ayah Ali.

“Kumohon,” pinta kakek itu.

“Ini terlalu banyak,” kata ayah Ali saat menerima uang itu.

“Kerjamu berat.”

“Terima kasih.”

“Kau yang bekerja. Aku yang berterima kasih,” ucap kakek kepada ayah Ali.

Merasa sudah menyelesaikan pekerjaannya, ayah Ali mengajak Ali pergi.

“Ayo pergi Ali,” ajaknya.

“Bila aku kembali ke sini, aku akan mampir, mungkin ada kerja untukku,”

ucap ayah Ali kepada kakek pemilik rumah itu.







33 







Ali dan ayahnya kemudian pulang menaiki sepeda. Dalam perjalanan ayah Ali

banyak berbicara.

“Aku bisa libur sebulan. Siang hari tak usah lembur, tapi kerja di sini. Hidup

kita akan lebih baik. Kita bisa beli segalanya. Aku akan beli sepeda motor, lemari,

setrika untuk ibumu, lemari es. Mungkin sewa rumah yang lebih besar. Aku akan beli

segalanya,” bayang ayah Ali sambil menggenjot sepeda.

“Beli sepatu untuk Zahra,” kata Ali yang duduk di depan ayahnya.

“Bukan hanya itu. Kau juga akan kubelikan,”

“Belikan untuk Zahra lebih dulu. Sepatunya sudah sobek.”

“Baik.”

Ali dan ayahnya terus berbincang dalam perjalanan. Saat melewati jalan yang

menurun ayah Ali tampak panik. Rem sepedanya tak berfungsi. Sepeda itu meluncur

dengan kecepatan tinggi. Ali dan ayahnya ketakutan. Sepeda itu terus meluncur

hingga sebatang pohon besar di tepi jalan menghentikannya.

Ali dan ayahnya terluka. Mereka mendapatkan perawatan kesehatan hingga

menghabiskan uang hasil jerih payah mereka merawat kebun.




********




DI RUANG yang temaram itu keluarga Ali berkumpul. Ali, Zahra, dan bayi sudah

tertidur. Ayah Ali dengan tangan dan kepala yang diperban masih terjaga bersama ibu

yang sedang menjahit.

“Induk semang minta uang sewa lagi,” keluh ibu Ali kepada suaminya.




34 







“Pria yang menyebalkan,” jawab ayah Ali yang terduduk lunglai.

“Aku baru menjumpainya beberapa hari yang lalu. Kubilang akan kubayar. Ia

tak bisa diajak bicara,” imbuh ayah Ali.

“Ia menunggumu 2-3 jam di halaman,” kata ibu Ali.

“Tolol! Akan kutemui besok.”

“Kau harus bawa uang.”

“Percayalah pada Tuhan. Jangan cemas.”

“Kau bisa pergi dengan keadaan ini?”

“Aku tak apa-apa,” jawab ayah Ali kepada istrinya.

Sementara Ali ternyata belum tertidur. Dia mendengar apa yang dibicarakan

oleh kedua orang tuanya. Setelah orang tuanya berhenti berbincang, Ali pun

memejamkan mata berusaha untuk tidur.




********




SEPERTI biasa hari itu Zahra masuk sekolah pagi, sedang Ali masuk siang.

Sepulang sekolah Zahra masih juga harus berlari untuk bergantian sepatu dengan

kakaknya. Siang itu karena terburu-buru pulang bolpen Zahra terjatuh, dia tidak tau.

Zahra terus berlari dia hanya berhenti sebentar untuk membetulkan tali sepatu. Saat

itulah gadis kecil yang memakai sepatu Zahra menemukan bolpen Zahra yang

terjatuh. Gadis kecil itu tahu, bolpen itu adalah milik Zahra yang sedang

membetulkan sepatu.

“Tunggu bolpenmu,” teriak gadis kecil itu kepada Zahra.




35 







Zahra tidak mendengarnya. Dia langsung berlari setelah selesai membetulkan

sepatunya. Gadis itu mengejar Zahra, tapi Zahra telah menghilang di balik lorong

perkampungan.

Zahra berlari sangat cepat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Zahra telah

sampai di tempat Ali menunggu. Merekapun bertukar alas kaki. Seperti hari-hari yang

lalu semenjak sepatu Zahra hilang, Ali langsung berlari. Dia tidak mau terlambat lagi

dan diusir guru pengawasnya.

Di sekolahan, hari itu ada pengumuman yang disampaikan guru oleh raga.

“Perahatikan murid-murid! Aku bicara pada kalian! Ada lomba balap lari jarak jauh

di propinsi ini. Ronde pertama untuk kelas 3 dan 4. Yang ingin ikut harap mendaftar.

Waktu kalian akan dihitung.”

Ali mendengar pengumuman itu, tapi melihat kondisi sepatunya yang tidak

layak lagi, Ali terlihat tidak antusias. Sementara teman-temannya terlihat sangat

antusias untuk mengikuti lomba tersebut.




********




ESOK harinya gadis kecil yang menemukan bolpen Zahra terlihat mendekati Zahra

di halaman sekolah. Di antara teman-temannya yang sedang bermain Zahra ditemui

gadis yang menemukan bolpennya.

“Ini bolpenmu, kemarin jatuh,” kata gadis kecil itu kepada Zahra.

Zahra masih terdiam, dia mengamati gadis itu dari muka hingga ke sepatu

yang dipakainya. Zahra tahu itu adalah sepatunya. Dia kemudian menerima bolpen itu




36 







dan tersenyum kepada gadis kecil di depannya. Gadis kecil itu kemudian berlari

meninggalkan tempat tersebut. Sedang Zahra tampak mengamati bolpennya.




********




DI SEBUAH toko sepatu, tampak orang buta yang tak sengaja mengambil sepatu

Zahra akan membelikan sepatu untuk anak gadisnya. Orang itu berjalan diantar oleh

seorang pria tua.

“Aqo Davood, lihat apa kebutuhan pria baik ini,” kata pria yang

mengantarkan itu, kemudian pergi meninggalkan toko.

“Selamat pagi,” sambut pria penjaga toko.

“Semoga kau sehat,” jawab orang buta itu.

“Terima kasih. Bisa kubantu.”

“Aku perlu sepatu ukuran gadis kecil.”

“Ukuran berapa?”

“Entahlah ia kelas satu.”

Penjaga toko sepatu itu kemudian memilihkan sepatu yang sekiranya cocok

untuk anak pria buta itu. Saat itu ayah Zahra datang ke toko sepatu tersebut, dia

melihat-lihat sebentar. Tapi tanpa berkata apapun dia langsung pergi, tidak

membelikan sepatu untuk Zahra.

Selesai membelikan sepatu untuk anaknya, orang buta itu pun pulang.

Rumahnya sepi. Suara orang pembeli barang bekas memecahkan suana sepi itu. Istri







37 







orang buta tadi keluar dan menukarkan sepatu bekas yang dipakai anaknya dengan

keranjang plastik kecil.

Pagi harinya gadis kecil anak orang buta itu memakai sepatu yang baru

dibelikan ayahnya. Wajahnya berbinar. Di tengah jalan dia bertemu dengan Zahra.

Keduanya berjalan beriringan.

“Sepatumu bagus. Baru beli?” tanya Zahra.

“Ayahku yang belikan,” jawab gadis kecil itu.

“Di mana sepatu lamamu?”

“Dibuang ibuku.”

“Dibuang? Kenapa?” tanya Zahra sambil berdiri di depan gadis kecil itu

seolah tak rela sepatu yang telah membuatnya bersusah payah bergantian sepatu

dengan kakaknya dibuang percuma.

“Sudah sobek,” jawab gadis kecil itu tak tahu permasalahan yang dihadapi

Zahra.

Sejenak Zahra memandangi sepatu baru itu, kemudian dia lanjutkan

perjalanan.

“Bila nilaiku bagus, Ayah belikan aku sesuatu. Kali ini ia belikan aku sepatu,”

kata gadis itu sambil berjalan bersama Zahra menuju sekolah.




********




PULANG sekolah, seperti hari-hari lain semenjak sepatunya hilang, Zahra berlari

mengejar waktu. Dia tidak ingin kakaknya terlambat sekolah karena menunggunya.




38 







Masa pulang sekolah Zahra adalah masa paling menegangkan bagi Zahra dan Ali.

Tak peduli hujan atau panas, Ali dan Zahra terus berlari.

Sampai suatu saat Ali membaca pengumuman hasil seleksi siswa yang berhak

mengikuti lomba lari. Dalam pengumuman itu, juga tercantum hadiah yang akan

diberikan pada pemenang lomba. “Hadiah pertama: 2 minggu di kamp liburan dan

pakaian olah raga. Hadiah kedua: 2 minggu di kamp liburan dan peralatan sekolah.

Hadiah ketiga: seminggu di kamp liburan dan sepatu olah raga”.

Membaca pengumuman itu, Ali memutuskan untuk menemui guru olah raga

yang menyeleksi peserta lomba.

“Permisi, Pak,” kata Ali.

”Masuk,” jawab guru itu.

Ali mendekati guru olah raga itu.

“Ada apa?” tanya guru itu.

“Aku ingin ikut lomba,” jelas Ali.

“Kau serius? Kau terlalu awal,” sindir guru itu sambil memandang Ali.

“Kemana saja kau? Tidur?” kata guru itu sambil meneruskan pekerjaannya.

“Aku lupa.”

“Kesempatanmu telah lewat, lain kali jangan lupa.”

“Aku ingin ikut lomba.”

“Tidak bisa.”

“Kumohon.”

“Tak bisa.”

“Aku sangat ingin ikut,” kata Ali memohon pada guru itu.




39 







“Itu bukan keputusanmu. Kau tak ikut tes,” jelas guru itu tak peduli dengan

permohonan Ali.

“Tolong aku. Izinkan aku Pak. Aku ingin ikut.”

“Keras kepala. Sudah kubilang tidak bisa. Pergilah.”

“Kumohon, Pak. Aku janji akan menang. Kumohon daftarkan namaku,” pinta

Ali sambil sesenggukan.

“Kumohon, Pak. Aku bisa lari sangat cepat. Aku janji akan menang,” ulang

Ali.

Melihat kesungguhan Ali dan air mata yang mengalir di pipinya, guru itu

akhirnya mau untuk mengetes lari Ali. Dalam tes lari, Ali berusaha secara maksimal

untuk mencapai kecepatan yang memenuhi syarat agar dia bisa ikut lomba. Di luar

dugaan gurunya, Ali mampu mencatat waktu lebih cepat dari teman-teman lainnya

yang lebih dahulu lolos seleksi. Ali pun akhirnya diperbolehkan mengikuti lomba.

Pulang sekolah Ali tampak gembira. Dia langsung menemui Zahra yang

sedang mencuci di kolam di depan rumah.

“Zahra, ada kabar gembira,” kata Ali.

“Apa,” jawab Zahra.

“Aku terpilih ikut lomba.”

“Lomba apa?”

“Balap lari jarak jauh.”

“Pemenang ketiga dapat sepatu baru.”

“Kenapa ketiga?”







40 







“Hadiah pertama dan kedua lain lagi. Jika aku jadi pemenang ketiga sepatunya

akan kuberikan kepadamu.”

“Tapi itu sepatu laki-laki.”

“Nanti kutukarkan dengan sepatu perempuan.”

“Jika kau tak jadi pemenang ketiga?”

“Aku pasti akan jadi pemenang ketiga,” kata Ali menyakinkan.

Zahra pun tersenyum. Dan keduanya kemudian melanjutkan aktifitas masing-

masing.




********




MATAHARI pagi menyinari kawasan perbukitan itu, di salah satu lerengnya, di

sebuah jalan yang lebar dan dihiasi taman, anak-anak yang akan mengikuti lomba lari
 

sedang
 

mempersiapkan
 

diri.
 

Ada
 

yang
 

sedang
 

melakukan
 

pemanasan,
 

mempersiapkan pakaian lomba, dan ada pula yang terburu-buru karena baru sampai

di tempat itu.

Ali dan kawan-kawannya datang terlalu dekat dengan saat dimulainya lomba.

Meraka pun tak punya waktu untuk melakukan pemanasan. Guru olah raga langsung

memberikan pakaian olah raga untuk mereka pakai. Ali dan kawan-kawannya

bergegas memakai pakaian tersebut. Saat itu Ali melihat anak-anak yang diantar oleh

keluarga mereka. Anak-anak itu terlihat bahagia. Ali membetulkan sepatunya

kemudian berlari dan menyatu ke barisan panjang anak-anak yang mengikuti lomba

lari.




41 







“Perhatian, anak-anak. Lomba berjarak 4 kilometer. Garis akhir ada di

seberang danau. Jangan saling dorong, kemenangan bukan segalanya. Yang penting

sportivitas. Semoga sukses untuk kalian semua,” jelas panitia yang akan melepas

lomba lari itu.

Peserta yang berjumlah ribuan anak itu mendengarkan apa yang dikatakan

panitia lomba.

“Siap. Satu ... Dua...,” teriak panitai lomba sebelum menembakkan pistol ke

atas untuk memulai lomba lari.

Perserta lomba langsung berlari, jarak mereka masih berhimpitan. Mereka

terus berlari melewati jalan-jalan yang tepinya dihiasi pepohonan. Saat memasuki

tanjakkan, jarak antar perserta lomba mulai renggang. Ada yang mulai kelelahan dan

ada pula yang terjatuh.

Di tepi jalan, panitia mengibar-ngibarkan bendera untuk memberi arah peserta

lomba. Anak-anak peserta lomba terus berlari, mereka melewati jalan yang menanjak,

tikungan, jalan yang menurun, jalan yang teduh, hingga jalanan yang gersang tanpa

pepohonan. Keringat membasahi tubuh mereka.

Saat melewati jalan di tepi danau, Ali dan beberapa peserta lomba telah

meninggalkan peserta lomba yang lain. Ali terus berlari. Saat perserta lomba lain

menyalipnya, Ali teringat Zahra yang sedang berlari saat pulang sekolah. Hal itu

membuat Ali termotifasi dan memacu larinya secepat mungkin.

Ali berada di depan sendiri meninggalkan peserta lain. Saat itu dia teringat

tujuannya mengikuti lomba, yaitu mengganti sepatu Zahra yang dihilangkannya.







42 







Karena itu, Ali harus meraih posisi ketiga untuk mendapatkan hadiah sepatu. Ali

menengok kebelakang dan membiarkan dua peserta lomba mendahuluinya.

Ali terus berlari mempertahankan posisinya di tempat ketiga. Tapi tak semua

perserta lomba menjunjung tinggi sportivitas. Ali dijatuhkan oleh peserta lomba yang

tepat berada di belakangnya. Ali terjatuh dan didahului oleh peserta lomba lainnya.
 

Ali
 

pantang
 

menyerah,
 

dia
 

langsung
 

bangun
 

dan
 

berusaha
 

mengejar
 

ketertinggalannya.

Ali terus berlari sekuat tenaga, dan itu tak sia-sia, Ali telah berada di

kelompok terdepan peserta lomba. Ali berusaha mempertahankan posisi di urutan

ketiga di antara empat peserta lomba lainnya yang berada di depan. Tapi jarak Ali dan

empat peserta lomba lainnya terlalu dekat bahkan berjajar.

Ali tetap berusaha mempertahankan posisinya di tempat ketiga hingga

menjelang finis. Tapi pelari lain tak mau ketinggalan. Mereka mengerahkan seluruh

tenaganya untuk meraih kemenangan. Persaingan mereka berlima sangat ketat, terjadi

susul menyusul antara satu pelari dengan yang lainnya. Ali tak bisa lagi melihat

posisinya, dia hanya berlari sekuat tenaga agar tak tertinggal dari pelari lainnya. Ali

mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga garis finis.

Ali terjatuh, dia tidak tahu berada di posisi berapa saat finis. Guru olah raga

Ali langsung mendekat dan mengangkatnya.

“Hebat, Ali,” katanya bersemangat.

“Apa aku pemenang ketiga?” tanya Ali kepada gurunya.

“Kenapa ketiga? Kau juara pertama! Kau memenangkan perlombaan!” tegas

guru itu bersemangat.




43 







Ali tertunduk lesu. Gurunya tak tahu masalah yang dihadapi Ali, guru olah

raga itu memanggul Ali dan mengelu-elukannya. Ali masih tampak lelah dan sedih.

Dia tak memahami keadaan yang dialaminya. Ali melihat sekelilingnya. Dia melihat

peserta lain yang kalah, mereka sedang dihibur oleh teman-teman ataupun orang tua

mereka. Kemudian Ali menengok ke arah meja tempat hadiah. Dia memandangi

sepatu hadiah bagi pemenang ketiga.

Ali dipanggil untuk menerima hadiah. Dia berjalan lunglai dan sedih. Saat

medali juara dikalungkan di lehernya, Ali masih bersedih. Begitu pula saat panitia

dan gurunya bergantian berfoto bersama Ali, dia masih tampak sedih dan

menundukkan muka. Sampai saat fotografer meminta Ali foto sendirian, Ali masih

tertunduk sedih. Saat fotografer meminta Ali menegakkan kepala, tampak air mata

Ali mengalir.




********




SEMENTARA itu di sebuah kawasan pertokoan, ayah Ali sedang berjalan

meninggalkan toko dengan membawa barang yang dibungkus tas plastik hitam. Dia

menuju ke sepedanya yang diparkir tak jauh dari toko itu. Sampai di tempat sepeda,

ayah Ali meletakkan barang pembeliannya di keranjang belanjaan di jok belakang

sepeda. Di keranjang itu telah banyak barang belanjaan yang dibeli ayah Ali,

termasuk dua pasang sepatu untuk anak lelaki dan anak perempuan. Ayah Ali

kemudian menaiki sepedanya untuk pulang ke rumah.







44 







Di rumah, Ali telah pulang dari lomba, dia bertemu dengan Zahra di tepi

kolam. Saat Zahra menatap wajah Ali, Ali menunduk. Mereka saling mendekat tanpa

berbicara. Ali tak bisa mengatakan bahwa dia gagal meraih hadiah sepatu karena finis

di urutan pertama. Zahra pun hanya menunggu Ali bicara, dia memandang sepatu

yang dipakai Ali masih sepatu yang dulu. Zahra kemudian berlari masuk ke rumah

saat mendengar tangis bayi.

Ali berjalan menuju tepi kolam. Dia melepaskan sepatunya yang sangat kotor

dan sobek. Ali duduk di tepi kolam. Berlahan dia memasukkan kedua kakinya yang

melepuh ke dalam kolam. Ali menunduk, menenggelamkan mukanya dalam tekukan

dua tangan. Di dalam air kolam, kumpulan ikan mas merah mendekati kaki Ali yang

melepuh. Ikan-ikan itu seolah mengatakan, ada syurga di kaki Ali.


Tamat.



********



Biografi Penulis

Ahmad Munif lahir di Semarang pada tanggal 15 April 1978. Tulisannya pernah dimuat di harian Semarang Post (sebuah koran dalam kelompok Jawa Pos yang pernah terbit di Semarang), Suara Merdeka, Majalah Missi, Layarperak.com, dan di beberapa buletin serta weblog pribadinya. Selama kuliah di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Walisongo aktif di Lembaga Penerbitan Mahasiswa MISSI dan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah MISSI selama tiga periode. Selain itu juga aktif di komunitas film Calm Indiego. Skripsinya mendapat penghargaan Puslit award dari Pusat Penelitian IAIN Walisongo.

Pernah bekerja selama lebih dari dua tahun sebagai desk Artistik di Semarang Post. Dan sekarang banyak mengisi waktunya dengan menjadi pemateri pelatihan jurnalistik untuk mahasiswa maupun umum, menjadi moderator, dan juri presentasi makalah. Selain itu juga aktif di Kampoeng Sastra “Suket Teki”, komunitas Gambaridup, dan komunitas blogger Semarang Loenpia dot net...