Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Global Paradoks

Bismillah...


Pada awal 90 an seorang futuris Amerika Serikat, John Naisbitt mengeluarkan buku yang banyak dibincangkan orang saat itu, Global Paradoks. Buku itu menjadi ternama karena dianggap mampu meramalkan dunia masa datang yang ditandai dengan semacam keanehan, keberlawanan atau paradoks.

Masa depan yang dikenal sebagai era globalisasi dengan tahap kemajuan dan modernisasi yang semakin cepat dan meluas disebut-sebut banyak pihak akan membuat dunia menjadi semakin seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal dan etnis diramalkan akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.

Namun Naisbitt justru meramalkan paradoks dalam era globalisasi. Di dalam bidang ekonomi misalnya, Naisbitt mengatakan "Semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, justru perusahaan-perusahaan kecil dan sedang akan semakin mendominasi". Ia melanjutkan, "Semakin kita menjadi universal, tindakan kita justru akan semakin bersifat kesukuan", "berfikir lokal, bersifat global."

Memang kenyataannya manusia di bumi ini semakin bertambah banyak, tetapi dunia semakin mengecil. Internet telah megubah dunia menjadi sebuah kampung global dimana jarak dan waktu tak lagi menghalangi kita berhubungan satu sama lain.

Produk teknologi semakin kecil namun kekuatannya justru semakin besar. Temuan-temuan processor terbaru yang merupakan otak mesin-mesin jelas menunjukkan “penyimpangan”, ukurannya semakin kecil namun memiliki kapasitas semakin digjaya. Bila dulu orang puas dengan Kilobyte, muncul Megabyte, Gigabyte hingga Terabyte dan entah apalagi.

Dengan waktu, biaya dan tenaga yang lebih sedikit, kini jauh lebih banyak lahan bisa ditanami dan menghasilkan buah atau sayur yang lebih besar, lezat dan cantik. Hedonisme merajalela namun gerakan spiritualism tercatat semakin meningkat. Tragedi WTC 9/11 2001 menekan dan menyudutkan umat Islam di seantero jagad namun angka pemeluk Islam di Amerika Serikat melompat menjadi terbanyak di sepanjang sejarah sehingga Islam pun kini menjadi agama kedua yang terbanyak dianut disana. Pendek kata, segala faktor yang berlawanan dan jungkir balik telah terjadi.

Gelombang paradoks tak terkecuali terjadi juga di Indonesia. Tak hanya bermakna keberlawanan, paradoks kita justru mengarah pada sebentuk penyimpangan, hingga segala hal yang bersifat aneh dan asing kemudian justru melekat menjadi rutinitas dan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Betapa tidak, negeri yang memiliki jumlah muslim terbesar di dunia, dimana mereka semua mengaku setia mensujudkan dirinya pada Allah dan mengikrarkan diri sebagai pecinta Rasulullah justru menjadi surga bagi narkoba, pornografi dan kasus korupsi.

Banyak penegak hukum justru bertindak melawan hukum, wakil rakyat seolah kompak mengkhianati rakyat, saat perzinahan tak malu disiarkan, pelaku poligami justru dihujat dan dicaci.

Lebih sederhana lagi bisa dilihat saat Ramadhan, saat dimana waktu makan berkurang menjadi “hanya” dua kali, nilai belanja dan sampah makanan masyarakat justru meningkat.

Paradoks sosial macam ini sungguh merupakan keanehan dan penyimpangan dari tata aturan yang Allah gariskan. Ketika Allah mensyiarkan diri untuk mengamalkan yang maruf dan mencegah kemungkaran, banyak diri kita justru tak berani bertindak. Menegur orang merokok dalam kendaraan bus kota? Salah-salah kita justru diajak berkelahi, tak peduli perdanya sah berpihak pada kita. Mencegah pencopet beraksi? Yang ada nyawa kita jadi taruhan karena si copet beringas punya kawanan sementara penumpang satu kendaraan malas bersaksi apalagi kompak membela diri. Lapor polisi? Sudah jamak kita dengar pernyataan, tak hanya waktu dan dana sudah pasti tersita, salah-salah kita justru jadi tersangka. Innalillahi…

Tapi tentu kita tak boleh menyerah, tak peduli betapa banyak paradoks tersaji. Karena Allah tak pernah melupakan setiap titik proses yang dijalankan demi tegaknya amal salih. Apalagi semacam paradoks pun pernah juga dilontarkan Rasulullah ketika berbicara tentang Islam yang Allah berkahi dan merupakan rahmatan lil alamin, “Islam itu hadirnya asing (ghuraba) dan kelak di akhir zaman akan kembali menjadi asing (ghuraba).”


Maka berbahagialah para ghuraba, meski mereka dianggap asing, aneh dan berlawanan asas dengan masyarakat pada umumnya. Karena mereka menegakkan amar maruf dan nahi munkar di saat orang-orang menghindarinya. Wallahu’alam. Zirlyfera Jamil

Sumber: Majalah Ummi No.05/XXI Sep. 2009/ 1430 H

BACA JUGA