Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Jangan Jadi Mediocre Boy

Bismillah...

Sebelum banyak ngobrol tentang masalah ini, saya mau nanya dulu,  sobat-sobat udah tau belum, apa itu Mediocre (bacanya medioker). Oke deh, kalau belum tahu, kita bahas dulu yuk, Apa mediocre itu.
Coba buka kamus Bahasa Inggris-mu. Di sana, bahwa Mediocre (‘miedie’owkur) merupakan kata sifat yang artinya sedang-sedang, rata-rata atau cukupan, berarti laki-laki cukupan? 


Terus,  kenapa nggak boleh jadi mediocre boy’s alias laki-laki cukupan?

Sobat-sobat  jadi bajang mediocre sih, nggak masalah. Asal, cukupnya itu, cukup berprestasi, cukup berprinsip, cukup kreatif, cukup Pede, cukup alim, cukup mandiri, cukup Pinter, (nggak abis-abis cukupnya) dan lain-lain. Masalahnya, yang umum berlaku di masyarakat kita tidak begitu. Di Negeri kita,  yang namanya cukupan itu ya…, yang rata-rata, yang tengah-tengah, serba tanggung lah!! Contoh…

“Ah, anak saya mah, nggak juara satu nggak apa-apa, yang penting bukan yang paling bontot (terakhir)!”. Kata seorang ibu yang anaknya dapat rangking 25 dari 40 siswa

 “Jadi orang yang sedang- sedang aja. Nggak usah macem-macem ta! Semprol!!”. Kata seorang bapak yang anaknya NGEBET ingin ikut banyak ekstrakurikuler di sekolah.

“Asal sudah bisa cari duit sendiri, si mbok sudah ayem nduk, nggak usah buat rumah gedongan, nggak papa” kata seorang siMbok saat anaknya pengen kuliah S1.

******

Bukan maksud saya untuk mendakwa bahwa mereka salah. Kadang-kadang nasehat seperti diatas berguna saat kita gagal mencapai suatu asa.  Tapi semua pernyataan tadi bener-bener berdampak buruk bagi kamu saat kamu sedang di tuntut untuk bersemangat. Bayangkan jika masa-masa ujian kamu di bilangin si ibu, yang merasa cukup puas asal kamu nggak jadi paling bontot. Tentunya semangatmu akan berkurang untuk belajar. Ah, buat apa aku belajar? Toh, ibuku puas asal aku nggak jadi anak yang paling bodoh satu kelas, mungkin gitu fikiranmu.

Saat kamu lagi ingin menunjukkan eksistensi (keberadaan) dirimu dengan bergabung di ekstrakurikuler yang di adakan di sekolahmu, eh malah di bilangin ga’ usah macem-macem sama si bapak. Mediocre di masyarakat lebih bermakna ‘rata-rata‘. Mayoritas masyarakat kita (terutama yang kurang berpendidikan) lebih suka menjadi apa yang sering di sebut “kebanyakan”. Seolah menjadi pribadi yang terlihat/ menonjol itu menakutkan, berisiko tinggi, membahayakan hidup, dan di anggap semacam monster. Padahal, jadi pribadi yang menonjol itu sangat mengesankan lho! Nggak percaya? Coba tanya ama orang yang kamu anggap menonjol di sekolah dan lingkunganku, kamu bakalan tahu, bahwa bagi mereka, hidup terlalu sayang untuk mengalir begitu saja tanpa membuatnya berkesan. He he he

Hidup Cuma sekali lho, di dunia ini. Umur manusia Sayang jika di biarkan berlalu begitu saja. Setiap detik, menit, jam, hari-hari dan umur kita sangat berharga. Hanya orang-orang yang cerdas yang bisa menghargai waktu.  Pepatah Arab dalam Mahfudzhat yang sudah kita hafal mengatakan: waktu bagaikan pedang, jika kau tidak mampu menggunakannya, kau yang akan di tebas olehnya. Eh, ini bukan Cuma kata kiasan, ternyata betapa banyak manusia yang menyesali terbuang-nya umur mereka dengan sia-sia.

JADI, UNTUK APA JADI MEDIOCRE, KALAU KAMU BISA JADI SUPERRRR……

faqiheljauzy