Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Kita dan Persahabatan

Bismillah...

Kita semua pasti Sering mendengar bahwa memiliki sahabat atau teman banyak adalah hal yang paling menyenangkan dan membahagiakan. Bahkan ada yang mengutarakan senang dan bangganya karena dia punya teman dimana-mana, dari orang biasa sampai orang tak biasa, (wkwkwk). Sehingga dimana pun kita berada jika kebetulan mendapat masalah/ kesulitan akan mudah mendapat pertolongan. Begitukah?


Tentu hal ini tergantung teman-teman sendiri, seberapa besar kita dapat membina kualitas persahabatan atau pertemanan. Bisa saja diartikan dalam kelompok lebih kecil, misalnya dalam lingkungan sekolah. Kita menjalin persahabatan dari kalangan anak-anak yang bernilai kurang, hingga anak-anak top ten, hehehe. Kenapa tidak, ini mungkin-mungkin saja kan?

Setidaknya setelah membaca artikel ini, teman-teman dapat melihat diri, seberapa banyak sih jaringan persahabatan yang kamu punya di muka bumi ini? Baik itu teman maya atau teman at the real world. Asal jangan sampai cuma punya teman cuma dua orang, atau satu orang... apalagi tidak punya sama sekali (impossible cuy)

Mungkin saja kita berfikir kita tidak membutuhkan begitu banyak teman saat ini, tapi siapa tahu di kemudian hari? Apapun pendapat teman-teman, memiliki banyak orang yang memberi perhatian dan mencintai diri kita, adalah sebuah hal yang indah. Bahkan bagi sebagian orang, bersahabat dengan banyak orang bagaikan gizi yang menghidupkan kehidupan mereka.

Tidak ada salahnya menyimak kembali bagaimana strategi seputar persahabatan kita masing-masing, dan apa yang perlu direvisi. Jika selama ini kita merasa punya banyak ‘cacat cela’, jangan berpikir, simpati orang lain tak lagi bisa dibangun. Optimis.

Beberapa hal yang mempengaruhi urusan persahabatan

• Perhatian itu penting; Perhatian menjadi faktor yang menentukan kualitas seperti apa yang kita bangun dalam pertemanan. Bagaimana mungkin seseorang akan menganggap kita sebagai teman penting, jika senyumnya tak pernah kita balas. Tentu saja itu hanya contoh kecil. Renungkanlah, apakah kita selama ini cukup mengetahui problem teman-teman dekat kita, memberi uluran tangan (dan hati) saat mereka susah. Apakah kita cukup perhatian pada hari-hari bahagia rekan-rekan dekat kita. Jangan-jangan dari 10 undangan yang dikirim oleh seorang teman, kita hanya menghadiri 1 saja!

• Janji juga penting; kita tidak senang kan jika dijuluki sebagai si tukang ngegombal. Hal ini sangat berpengaruh pada nilai diri kita. Sekali orang sudah tak mempercayai janji-janji yang keluar dari mulut kita, maka kita sudah masuk dalam daftar orang tak penting buatnya. Mungkin kita memang baik hati, menyenangkan, tapi bila tidak dipercaya, kualitas pertemanan juga tidak maksimal bukan? Revisi sikap kita terhadap janji. Biasakan menjanjikan sesuatu yang biasa namun sangat mungkin dilaksanakan. Kita harus berjuang untuk menepatinya.

• Kepercayaan dan Loyalitas; Misalnya nih kita baru mendengar keluhan seorang teman, eh, besoknya kita langsung menyiarkan keluhan itu sebagai bahan gosip pada sejumlah orang. Kepercayaan dan loyalitas itu besar pengaruhnya pada kualitas persahabatan kita. Rasa empati, setia, menjadi tuntutan tersendiri. Kita tidak perlu selalu menyetujui apapun yang diucapkan sahabat, tapi setidaknya kita memiliki sikap yang konsisten. Jika kita seperti angin yang mengikut kemana saja kita merasa nyaman, berarti kita tak lebih sebagai sahabat musiman.

Nah, semoga apa yang Jauzy tulis ini bermanfaat bagi kita semua. Perbaikilah hubungan kita dengan orang lain jika selama ini masih ada kasak-kusuk yang menyelimuti hati untuk tidak berbaik sangka.

Alhamdulillah...