Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Penjelasan Tentang Qiro'at Sab'ah

Bismillah...


Apa sih Qira'at Sab'ah itu? Pembagiannya apa saja? Oke, begitulah pertanyaan seorang teman kepada saya, padahal saya sendiri saat itu belum begitu mengerti tentang masalah 'perbedaan versi bacaan Al-Qur'an' ini... atau barangkali teman-teman juga pernah ditanyai seperti itu dari yang lain? Jawab apa kira-kira? Ya sudah, lebih baik belajar sama-sama yuk! :)


Qiro’at sab’ah atau qiro’at tujuh adalah macam cara membaca Al-Qur'an yang berbeda. Disebut qiro’at tujuh karena ada tujuh Imam qir’at yang terkenal masyhur yang masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri. Tiap imam qiro’at memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. Tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca Al-Qur'an. Sehingga ada empat belas cara membaca Al-Qur'an yang masyhur.

Perbedaan cara membaca itu sama sekali bukan dibuat-buat, baik dibuat oleh imam qiro’at maupun oleh perawinya. Cara membaca tersebut merupakan ajaran Rasulullah SAW dan memang seperti itulah al-qur’an diturunkan.

"Dari Umar bin Khathab, ia berkata, “aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqon di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. Maka, aku menunggunya sampai salam. Begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ‘Siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah yang membacakannya kepadaku. Lalu aku katakan kepadanya, ‘Kamu dusta! demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. Kemudian aku bawa dia menghadap Rasulullah, dan aku ceritaan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surat al-furqon dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surat al-furqon kepadaku. Maka rasulullah berkata, ‘lepaskanlah dia, hai Umar. Bacalah surat tadi wahai Hisyam!’ Hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasulullah, ‘Begitulah surat itu diturunkan.’ Ia berkata lagi, ‘Bacalah, wahai Umar!’ Lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah, ‘Begitulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir]"
 Mengenai makna dari ‘tujuh huruf’ tersebut ada dua pendapat yang kuat. pertama adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai satu makna: Quraisy, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman.

Hikmah diturunkannya al-Qur’an dengan tujuh huruf antara lain: Memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa ummi, Bukti kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi kebahasaan orang arab, dan Kemukjizatan dalam aspek makna dan hukum (ketujuh huruf tersebut memberikan deskripsi hukum yang dikandung al-qur’an dengan lebih komprehensif dan universal).


Pengertian ‘Tujuh Huruf’

Pendapat yang paling masyhur mengenai pentafsiran Sab’atu Ahruf adalah pendapat Ar- Razi dikuatkan oleh Az-Zarkani dan didukung oleh jumhur ulama. Perbedaan yang berkisar pada tujuh wajah;

1. Perbedaan pada bentuk isim , antara mufrad, tasniah, jamak muzakkar atau mu’annath. Contohnya,

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (Al-Mukminun)

Lafad bergaris dibaca secara jamak لأمَانَاتِهِمْ dan mufrad لأمَانتِهِمْ.

2. Perbedaan bentuk fi’il madhi , mudhari’ atau amar. Contohnya,

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَاٍ (Saba’ : 19)

Sebahagian qiraat membaca lafad ‘rabbana’ dengan rabbuna, dan dalam kedudukan yang lain lafad ‘ba’idu’ dengan ‘ba’ada’.

3. Perbedaan dalam bentuk ‘irab.

Contoh: Lafaz إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ (Al-Baqarah: 282) dibaca dengan disukunkan huruf ‘ra’ sedangkan yang lain membaca dengan fathah.

4. Mendahulukan (taqdim) dan mengakhirkan (ta’khir).

Contoh:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَق (Surah Qaf: 19) dibaca dengan didahulukan ‘al-haq’ dan diakhirkan ‘al-maut’,وَجَاءَتْ سَكْرَةُالْحَق بِالْمَوْتِ . Qiraat ini dianggap lemah.

5. Perbedaan dalam menambah dan mengurangi.

Contoh: Ayat 3, Surah al-Lail,

وَمَا خَلَقَالذَّكَرَ وَالأنْثَى

Ada qiraat yang membuang lafad ‘ma kholaqo’(bergaris).

6. Perbedaan ibdal (ganti huruf).

Contoh, kalimah ‘nunsyizuha’ dalam ayat 259 Surah al-Baqarah dibaca dengan ‘nunsyiruha’ (‘zai’ diibdalkan dengan huruf ‘ra’).

7. Perbedaan lahjah

Seperti dalam masalah imalah, tarqiq, tafkhim, izhar, idgham dan sebagainya. Perkataan ‘wadduha’ dibaca dengan fathah dan ada yang membaca dengan imalah (teleng) dengan bunyi ‘wadduhe’ (sebutan antara fathah dan kasrah)



A. Penjelasan Qira’at dan Perbedaanya dengan Riwayat dan Tariqah


Menurut bahasa, Qira’at (قراءات) adalah bentuk jamak dari qira’ah (قراءة) yang merupakan isim mashdar dari qara' (قرأ), yang artinya : bacaan. Pengertian Qira’at menurut istilah cukup beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh ulama tersebut.

Berikut ini akan diberikan dua pengertian Qira’at menurut istilah:
Qira’at menurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan lafal-lafal al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya terbatas pada lafal-lafal al-Qur’an yang memiliki perbedaan Qira’at saja. Ia tidak menjelaskan bagaimana perbedaan Qira’at itu dapat terjadi dan bagaimana pula cara mendapatkan Qira’at itu.

Ada pengertian lain tentang Qira’at yang lebih luas dari pada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu pengertian Qira’at menurut pendapat al-Zarqani.

Al-Zarqani memberikan pengertian Qira’at sebagai : “Suatu madzhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.”

Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qira’at yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah Qira’at, riwayat dan thariqah. Berikut ini akan dipaparkan pengertian dan perbedaan antara Qira’at dengan riwayat dan thariqah, sebagai berikut :

a. Qira’at adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas; seperti Qira’at Nafi’, Qira’at Ibn Kasir, Qira’at Ya’qub dan lain sebagainya.

b. Sedangkan Riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi’ mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun ‘an-Nafi’ atau riwayat Warsy ‘an Nafi’.

c. Adapun yang dimaksud dengan thariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil Qira’at dari periwayat qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq ‘an Warsy, atau riwayat Warsy min thaariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan Qira’at Nafi’ min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.

B. Sejarah Perkembangan Ilmu Qira’at

Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan ilmu Qira’at ini dimulai dengan adanya perbedaan pendapat tentang waktu mulai diturunkannya qira’at. Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama, Qira’at mulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an. Alasannya adalah bahwa sebagian besar surat-surat al-Qur’an adalah Makkiyah di mana terdapat juga di dalamnya Qira’at sebagaimana yang terdapat pada surat-surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa Qira’at itu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah.

Kedua, Qira’at mulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, di mana orang-orang yang masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, demikian juga Ibn Jarir al-Thabariy dalam kitab tafsirnya. Hadits yang panjang tersebut menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah sesudah Hijrah, sebab sumber air Bani Gaffar – yang disebutkan dalam hadits tersebut–terletak di dekat kota Madinah.

Kuatnya pendapat yang kedua ini tidak berarti menolak membaca surat-surat yang diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena ada hadits yang menceritakan tentang adanya perselisihan dalam bacaan surat al-Furqan yang termasuk dalam surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat Makkiyah juga dalam tujuh huruf.

Ketika mushaf disalin pada masa Utsman bin Affan, tulisannya sengaja tidak diberi titik dan harakat, sehingga kalimat-kalimatnya dapat menampung lebih dari satu Qira’at yang berbeda. Jika tidak bisa dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis pada mushaf yang lain. Demikian seterusnya, sehingga mushaf Utsmani mencakup ahruf sab’ah dan berbagai Qira’at yang ada.

Periwayatan dan Talaqqi (si guru membaca dan murid mengikuti bacaan tersebut) dari orang-orang yang tsiqah dan dipercaya merupakan kunci utama pengambilan Qira’atul-Qur’an secara benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Para sahabat berbeda-beda ketika menerima Qira’at dari Rasulullah. Ketika Utsman mengirimkan mushaf-mushaf ke berbagai kota Islam, beliau menyertakan orang yang sesuai qira’ahnya dengan mushaf tersebut. Qira’at orang-orang ini berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka mengambil Qira’at dari sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil Qira’at dari Rasulullah SAW.

Dapat disebutkan di sini para Sahabat ahli Qira’at antara lain adalah : Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu al-Darda’, dan Abu Musa al-‘Asy’ariy.

Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dengan membawa Qira’at masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika Tabi’in mengambil Qira’at dari para Sahabat. Demikian halnya dengan Tabi’ut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil Qira’at dari para Tabi’in.

Ahli-ahli Qira’at di kalangan Tabi’in juga telah menyebar di berbagai kota. Para Tabi’in ahli Qira’at yang tinggal di Madinah antara lain : Ibn al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman dan’ Ata’ (keduanya putra Yasar), Mu’adz bin Harits yang terkenal dengan Mu’ad al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibn Syihab al-Zuhry, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam.

Yang tinggal di Makkah, yaitu: ‘Ubaid bin ‘Umair, ‘Ata’ bin Abu Rabah, Thawus, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.

Tabi’in yang tinggal di Kufah, ialah : ‘Alqamah, al-Aswad, Maruq, ‘Ubaidah, ‘Amr bin Surahbil, al-Haris bin Qais,’Amr bin Maimun, Abu Abdurrahman al-Sulami, Said bin Jabir, al-Nakha’i dan al-Sya’biy.

Sementara Tabi’in yang tinggal di Bashrah , adalah Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nasr bin ‘Ashim, Yahya bin Ya’mar, al-Hasan, Ibn Sirin dan Qatadah.

Sedangkan Tabi’in yang tinggal di Syam adalah : al-Mughirah bin Abu Syihab al-Makhzumiy dan Khalid bin Sa’ad.

Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para imam qira’at yang termasyhur, yang mengkhususkan diri dalam Qira’at– Qira’at tertentu dan mengajarkan Qira’at mereka masing-masing.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qira’at. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu Qira’at adalah Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang wafat pada tahun 224 H. Ia menulis kitab yang diberi nama al-Qira’at yang menghimpun qira’at dari 25 orang perawi. Pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qira’at adalah Husain bin Utsman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dharir yang wafat pada tahun 378 H. Dengan demikian mulai saat itu Qira’at menjadi ilmu tersendiri dalam ‘Ulum al-Qur’an.

Pada penghujung Abad ke III Hijriyah, Ibn Mujahid menyusun Qira’at Sab’ah dalam kitabnya Kitab al-Sab’ah. Dia hanya memasukkan para imam qira’at yang terkenal tsiqah dan amanah serta panjang pengabdiannya dalam mengajarkan al-Qur’an, yang berjumlah tujuh orang. Tentunya masih banyak imam Qira’at yang lain yang dapat dimasukkan dalam kitabnya.

Abu al-Abbas bin Ammar mengecam Ibn Mujahid karena telah mengumpulkan Qira’at sab’ah. Menurutnya Ibn Mujahid telah melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan, yang mengaburkan pengertian orang awam bahwa Qira’at Sab’ah itu adalah ahruf sab’ah seperti dalam hadits Nabi itu. Dia juga menyatakan, tentunya akan lebih baik jika Ibn Mujahid mau mengurangi atau menambah jumlahnya dari tujuh, agar tidak terjadi syubhat.

Banyak sekali kitab-kitab qira’at yang ditulis para ulama setelah Kitab Sab’ah ini. Yang paling terkenal di antaranya adalah : al-Taisir fil-Qira’atul-Sab’i yang disusun oleh Abu Amr al-Dani, Matan al-Syatibiyah fi Qira’atul-Sab’i karya Imam al-Syatibiy, al-Nasyr fi Qira’atul -‘Asyr karya Ibn al-Jazari dan Itaf Fudala’ al-Basyar fi> al-Qira’atul-Arba’ah ‘Asyarah karya Imam al-Dimyati al-Banna. Masih banyak lagi kitab-kitab lain tentang Qira’at yang membahas qira’at dari berbagai segi secara luas, hingga saat ini.

C. Pembagian Qira’at dan Macam-macamnya

Ibn al-Jazari, sebagaimana dinukil oleh al-Suyuthiy, menyatakan bahwa Qira’at dari segi sanad dapat dibagi menjadi 6 (enam) macam, yaitu :

a) Qira’at Mutawatir

Qira’at Mutawatir adalah Qira’at yang diriwayatkan oleh orang banyak dari banyak orang yang tidak mungkin terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berbuat kebohongan.

Contoh untuk Qira’at mutawatir ini ialah Qira’at yang telah disepakati jalan perawian-nya dari imam Qira’at Sab’ah

b) Qira’at Masyhur

Qira’at Masyhur adalah Qira’at yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh beberapa orang yang adil dan kuat hafalannya, serta Qira’ahnya sesuai dengan salah satu rasamu Utsmani; baik Qira’at itu dari para imam Qira’at sab’ah, atau imam Qira’at ’asyarah ataupun imam-imam lain yang dapat diterima Qira’at-nya dan dikenal di kalangan ahli Qira’at bahwa Qira’at itu tidak salah dan tidak syaz, hanya saja derajatnya tidak sampai kepada derajat Mutawatir

Misalnya ialah Qira’at yang diperselisihkan perawiannya dari imam Qira’at Sab’ah, di mana sebagian ulama mengatakan bahwa Qira’at itu dirawikan dari salah satu imam Qira’at Sab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.

Dua macam Qira’at di atas, Qira’at Mutawatir dan Qira’at Masyhur, dipakai untuk membaca al-Qur’an, baik dalam shalat maupun di luar shalat, dan wajib meyakini ke-Qur’anan-nya serta tidak boleh mengingkarinya sedikitpun.

c) Qira’at Ahad

Qira’at Ahad adalah qira’at yang sanadnya bersih dari cacat tetapi menyalahi rasamu Utsmani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Juga tidak terkenal di kalangan imam qira’at.

Qira’at Ahad ini tidak boleh dipakai untuk membaca al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an.

d) Qira’at Syazah

Qira’at Syazah adalah Qira’at yang cacat sanadnya dan tidak bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Hukum Qira’at Syazah ini tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar shalat.

Qira’at Syazah dibagi lagi dalam 5 (lima) macam, sebagai berikut :

1. Ahad, yaitu Qira’at yang sanadnya shahih tetapi tidak sampai mutawatir dan menyalahi rasamu Utsmani atau kaidah bahasa Arab.

2. Syaz, yaitu Qira’at yang tidak mempunyai salah satu dari rukun yang tiga.

3. Mudraj, yaitu Qira’at yang ditambah dengan kalimat lain yang merupakan tafsirnya.

4. Maudhu’, yaitu Qira’at yang dinisbahkan kepada orang yang mengatakannya (mengajarkannya) tanpa mempunyai asal usul riwayat qira’at sama sekali.

5. Masyhur, yaitu Qira’at yang sanadnya shahih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir serta sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab dan Rasam Utsmani.

e) Qira’at Maudhu’

Qira’at Maudhu’ adalah Qira’at yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan sama sekali.

f) Qira’at Syabih bil Mudraj

Qira’at Syabih bil Mudraj adalah Qira’at yang menyerupai kelompok Mudraj dalam hadits, yakni Qira’at yang telah memperoleh sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari ayat tersebut.

D. Beberapa pembagian qira’at menurut tingkatan

Berikut ini adalah pembagian tingkatan qira’at para imam qira’at berdasarkan kemutawatiran qira’at tersebut, para ulama telah membaginya ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu :

1. Qira’at yang telah disepakati kemutawatirannya tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ahli Qira’at yaitu para imam Qira’at yang tujuh orang (Qira’at Sab’ah)

2. Qira’at yang diperselisihkan oleh para ahli Qira’at tentang kemutawatirannya, namun menurut pendapat yang shahih dan masyhur qira’at tersebut mutawatir, yaitu Qira’at para imam Qira’at yang tiga; imam Abu Ja’far, Imam Ya’kub dan Imam Khalaf.

3. Qira’at yang disepakati ketidak mutawatirannya (Qira’at syaz) yaitu Qira’at selain dari Qira’at para imam yang sepuluh (Qira’at ‘Asyarah).

E. Mengenal Imam-Imam Qira’at


Qira’at ada yang mengartikan qira’at sab’ah, qira’at sepuluh dan qira’at empat belas. Semuanya yang paling terkenal dan nilai kedudukannya tinggi ialah qira’at sab’ah.

Qira’at sab’ah (tujuh) adalah qira’at yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan terkenal, yaitu: Nafi’, Ashim, Hamzah, Abdullah bin Amir, Abdullah ibnu Katsir, Abu Amer ibnu ‘Ala’ dan Ali al-Kisaiy.

Qira’at ‘asyar (sepuluh) adalah qira’at yang tujuh ditambah dengan qira’at: Abi Ja’far, Ya’qub dan Khalaf.

Qira’at arba’ ‘asyar (empat belas) yaitu qira’at yang sepuluh ditambah empat qira’at: Hasan al-Bashry, Ibnu Mahish, Yahya al-Yazidy dan asy-Syambudzy.


Berikut ini adalah para imam Qira’at yang terkenal dalam sebutan Qira’at Sab’ah dan Qira’at ‘Asyarah , serta Qira’at Arba’ ‘Asyara :

1. Nafi’al Madani

Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laitsi, maula Ja’unah bin Syu’ub al-Laitsi. Berasal dari Isfahan. Wafat di Madinah pada tahun 177 H.

Ia mempelajari Qira’at dari Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’, Abdurrahman bin Hurmuz, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumiy; mereka semua menerima qira’at yang mereka ajarkan dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah.

Murid-murid Imam Nafi’ banyak sekali, antara lain : Imam Malik bin Anas, al-Lais bin Sa’ad, Abu ‘Amar ibn al-‘Alla’, ‘Isa bin Wardan dan Sulaiman bin Jamaz.

Perawi Qira’at Imam Nafi’ yang terkenal ada dua orang, yaitu Qaaluun (w. 220 H) dan Warasy (w.197 H).

2. Ibn Kasir al-Makky

Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Kasir bin Umar bin Abdullah bin Zada bin Fairuz bin Hurmuz al-Makky. Lahir di Makkah tahun 45 H. dan wafat juga di Makkah tahun 120 H.

Beliau mempelajari Qira’at dari Abu as-Sa’ib, Abdullah bin Sa’ib al-Makhzumiy, Mujahid bin Jabr al-Makky dan Dirias (maula Ibn ‘Abbas). Mereka semua masing-masing menerima dari Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Umar bin Khattab; ketiga Sahabat ini menerimanya langsung dari Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Ibn Katsir banyak sekali, namun perawi qira’ahnya yang terkenal ada dua orang, yaitu Bazzi (w. 250 H) dan Qunbul (w. 251 H).

3. Abu ’Amr al-Basri

Nama lengkapnya Zabban bin ‘Alla’ bin ‘Ammar bin ‘Aryan al-Mazani at-Tamimiy al-Bashr. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya. Beliau adalah imam Bashrah sekaligus ahli qira’at Bashrah. Beliau lahir di Makkah tahun 70 H, besar di Bashrah, kemudian bersama ayahnya berangkat ke Makkah dan Madinah. Wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Beliau belajar Qira’at dari Abu Ja’far, Syaibah bin Nasah, Nafi’ bin Abu Nu’aim, Abdullah ibn Kasir, ‘Ashim bin Abu al-Nujud dan Abu al-‘aliyah. Abu al-‘Aliyah menerimanya dari Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Abbas. Keempat Sahabat ini menerima Qira’at langsung dari Rasulullah SAW.

Murid beliau banyak sekali, yang terkenal adalah Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi (w. 202 H.) Dari Yahya inilah kedua perawi qira’at Abu ‘Amr menerima qira’ahnya, yaitu al-Duuri (w. 246 H) dan al-Suusii (w. 261 H).

4. Abdullah bin ‘Amir al-Syami

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi. Nama panggilannya adalah Abu ‘Amr, ia termasuk golongan Tabi’in. Beliau adalah imam qira’at negeri Syam, lahir pada tahun 8 H, wafat pada tahun 118 H di Damsyik.

Ibn ‘Amir menerima Qira’at dari Mughirah bin Abu Syihab, Abdullah bin Umar bin Mughirah al-Makhzumiy dan Abu Darda’ dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qira’ahnya yang terkenal adalah Hisyam (w. 145 H) dan Ibn Zakwaan (w. 242 H).

5. ‘Ashim al-Kufi

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin Abu al-Nujud. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah, sedang Abu al-Nujud adalah nama panggilannya. Nama panggilan ‘Ashim sendiri adalah Abu Bakar, ia masih tergolong Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 127 H.

Beliau menerima Qira’at dari Abu Abdurrahman bin Abdullah al-Salami, Wazar bin Hubaisy al-Asadi dan Abu Umar Sa’ad bin Ilyas al-Syaibaniy. Mereka bertiga menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud menerimanya dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qira’ahnya yang terkenal adalah Syu’bah (w.193 H) dan Hafs (w. 180H).

6. Hamzah al-Kufi

Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin ‘Ammarah bin Ismail al-Kufi. Beliau adalah imam qira’at di Kufah setelah Imam ‘Ashim. Lahir pada tahun 80 H., wafat pada tahun 156 H di Halwan, suatu kota di Iraq.

Beliau belajar dan mengambil qira’at dari Abu Hamzah Hamran bin A’yun, Abu Ishaq ‘Amr bin Abdullah al-Sabi'i, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ya’la, Abu Muhammad Thalhah bin Mashraf al-Yamani dan Abu Abdullah Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul ‘Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi Qira’at-nya yang terkenal adalah Khalaf (w. 150 H) dan Khallad (w. 229 H).

7. Al-Kisa’i al-Kufi

Nama lengkapnya adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman al-Nahwi. Nama panggilannya Abul Hasan dan ia bergelar Kisa’i karena ia mulai melakukan ihram di Kisaa’i. Beliau wafat pada tahun 189 H.

Beliau mengambil Qira’at dari banyak ulama. Di antaranya adalah Hamzah bin Habib al-Zayyat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laia, ‘Ashim bin Abu Nujud, Abu Bakar bin’ Ilyasy dan Ismail bin Ja’far yang menerimanya dari Syaibah bin Nashah (guru Imam Nafi’ al-Madani), mereka semua mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Kisaa’i yang dikenal sebagai perawi yang dikenal sebagai perawi qira’at-nya adalah al-Lais (w. 240 H) dan Hafsh al-Duuri (w. 246 H).

Untuk melengkapi jumlah Qira’at menjadi Qira’at ‘Asyarah, maka ditambahkan imam-imam Qira’at berikut ini :

8. Abu Ja’far al-Madani

Nama lengkapnya adalah Yazid bin Qa’qa’ al-Makhzumiy al-Madani. Nama panggilannya Abu Ja’far. Beliau salah seorang Imam Qira’at ‘Asyarah dan termasuk golongan Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 130 H.

Beliau mengambil qira’at dari maulanya, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah, Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, mereka bertiga menerimanya dari Ubay bin Ka’ab. Abu Hurairah dan Ibn Mas’ud mengambil qira’at dari Zaid bin Tsabit, dan mereka semua menerimanya dari Rasulullah SAW.

Murid Imam Abu Ja’far yang terkenal menjadi perawi qira’ahnya adalah Isa bin Wardaan (w. 160 H) dan Ibn Jammaz (w. 170 H).

9. Ya’qub al-Bashri

Nama lengkapnya adalah Ya’qub bin Ishaq bin Zaid bin Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrami al-Mishriy. Nama panggilannya Muhammad. Beliau seorang imam qira’at yang besar, banyak ilmu, shalih dan terpercaya. Beliau merupakan sesepuh utama para ahli qira’at sesudah Abu ‘Amr bin al-‘Alla’. Beliau wafat pada bulan Zul Hijjah tahun 205 H.

Beliau mengambil qira’at dari Abdul Mundzir Salam bin Sulaiman al-Muzani, Syihab bin Syarnafah, Abu Yahya Mahd bin Maimun dan Abul Asyhab Ja’far bin Hibban al-‘Autar. Semua gurunya ini mempunyai sanad yang bersambung kepada Abu Musa al-Asy’ariy dari Rasulullah SAW.

Murid sekaligus perawi dari qira’at Imam Ya’qub yang terkenal adalah Ruwas (w. 238 H) dan Ruh (w. 235 H).


10. Qiraat Yazid bin Al- Qa’qa dikenali sebagai Abu Ja’far. Meninggal 130 Hijrah.

Disamping itu terdapat pula Qiraat 14, yakni ditambah :

11. Qiraat Hasan Al Bashri. Meninggal 110 Hijrah.

12. Qiraat Yahya bin Al Mubarak Al Yazid. Meninggal 202 Hijrah.

13. Qiraat Muhammad bin Abdurrahman yang dipanggil Ibnu Muhaishan. Meninggal 123 Hijrah.Q

14. iraat Abil- Faraj Muhammad bin Ahmad Asy- Syanbuzi. Meninggal 388 Hijrah.[5]


F. Syarat-Syarat Sahnya Qira’at

Para ulama menetapkan tiga syarat sah dan diterimanya qira’at. yaitu :

1) Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab.

2) Sesuai dengan tulisan pada salah satu mushaf Utsmani, walaupun hanya tersirat.

3) Shahih sanadnya.

Yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab“ ialah: tidak menyalahi salah satu segi dari segi-segi qawaa’id bahasa Arab, baik bahasa Arab yang paling fasih ataupun sekadar fasih, atau berbeda sedikit tetapi tidak mempengaruhi maknanya. Yang lebih dijadikan pegangan adalah qira’at yang telah tersebar secara luas dan diterima para imam dengan sanad yang shahih.

Sementara yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu tulisan pada mushaf Utsmani” adalah sesuainya qira’at itu dengan tulisan pada salah satu mushaf yang ditulis oleh panitia yang dibentuk oleh Utsman bin ‘Affan dan dikirimkannya ke kota-kota besar Islam pada masa itu.

Mengenai maksud dari “shahih sanadnya” ini ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggap cukup dengan shahih saja, sebagian yang lain mensyaratkan harus mutawatir.

sumber: ruruls4y.wordpress.com, mohammad-alfitroh.blogspot.com, sabapersonalalbum.blogspot.com

BACA JUGA