Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Tak Seorangpun Akan Lolos Dari Hukuman di Dunia Ini

Bismillah...


Banyak orang beranggapan bahwa tidak semua orang mendapat hukuman atas kesalahan dan kejahatannya di dunia ini. Banyak pelaku kejahatan hidup bebas, berongkang-ongkang kaki, jalan-jalan bahkan hidup senang. Benarkah anggapan ini?? Jawabannya: SALAH!!
Jangankan orang yang melakukan kejahatan besar, kesalahan-kesalahan kecil yang kita lakukan pun (selama tidak disadari dan diperbaiki) tidak akan lolos dari hukuman di dunia ini. Ada 5 wilayah hukuman yang tak seorang pun akan bisa lolos darinya: agama, negara, warga, keluarga dan raga.

Setelah kita melakukan dosa, kesalahan, pelanggaran dan kejahatan, mungkin kita lolos dari hukum agama di dunia ini karena masyarakat atau negara tidak memberlakukan hukum agama (syari’at Islam). Bila kita lolos dari hukum agama, maka kita akan menghadapi hukum yang kedua, hukuman negara.

Bila ketahuan, polisi akan mencari, mengejar dan menangkap kita. Hukum negara akan menjerat kita dengan pasal-pasal dalam KUHP untuk menghuni kamar sempit dan sumpek bertahun-tahun bernama penjara. Tapi, kita masih bisa lolos dari hukum negara karena mungkin tidak ketahuan, tak ada bukti dan saksi atau, kalaupun ketahuan dan terbukti, hukum dunia bisa dipermainkan dan diperjualbelikan. Bila itu terjadi, kita masih belum bisa lolos karena akan menghadapi hukuman yang ketiga: warga.

Warga masyarakatlah yang akan menghukum kita dengan hukuman sosial: diperbincangkan, disebarkan, dipermalukan, dicerca, dijauhi, dihujat, digusur, diarak, diusir, diasingkan atau mungkin dibakar. Seringkali, hukum sosial lebih kejam dari hukum negara. Tapi, mungkin kita masih lolos dari hukum sosial atau hukum warga karena juga tidak ketahuan. Bila itu terjadi, maka hukuman lain sedang menanti: keluarga.

Orang tua sakit hati karena kita telah mempermalukan keluarga, lalu memarahi habis-habisan, kita dikutuk, tidak ditanya, diusir dari rumah atau tidak diakui sebagai keluarga. Tapi, lagi-lagi, mungkin keluarga juga tidak mengetahui dosa dan kesalahan kita, malah ada keluarga yang melindungi. Keluarga pun tidak menghukum kita. Tapi, ada hukum terakhir di dunia ini yang tak seorang pun akan bisa lolos darinya: raga.

Kita bisa jadi lolos dari semua hukuman luar, tapi tak akan pernah bisa lolos dari hukuman diri: dikejar-kejar perasaan bersalah, dihantui perasaan berdosa, merasa malu, tidak tenang karena takut ketahuan, kesini takut kesana takut sehingga tersiksa oleh ketidakbebasan, lebih jauh lagi takut mati karena merasa banyak dosa. Akhirnya, resah, gelisah, stres bahkan paranoid, jauh dari ketenangan, ketentraman dan kenyamanan. Itu semua adalah hukuman pasti dari kejahatan-kejahatan yang menyangkut orang lain.

Bila kesalahan dan pelanggaran-pelanggarannya menyangkut diri, seperti kebiasaan bohong, kebiasaan melanggar janji, kebiasaan iri hati, kebiasaan berburuk sangka, pelit, menyepelekan dosa-dosa, mulut menyinggung orang, lalai pada kewajiban agama, selalu mengejar-ngejar kesenangan, pesta, hura-hura, foya-foya, tak ada perhatian pada orang tua, sombong, kufur nikmat, tak suka pada nasehat dll, maka hukumannya adalah pelupa, otak tumpul, sulit belajar, susah memahami ilmu, susah menerima kebenaran, bicara gagap, sulit rejeki, tak disukai orang, ucapan tidak berkualitas, harta tidak berkah, urusan selalu tidak lancar, hidup selalu banyak masalah, dst.

Ketika dosa-dosa, kesalahan dan pelanggaran tersebut di atas dilakukan terus menerus, tak ada penyadaran, perubahan, penghentian dan taubat, akhirnya jiwa tak sanggup lagi menanggungnya. Ketika jiwa sudah tak sanggup menanggung beban keburukan dan ketidakseimbangan hidup yang demikian berat, raga menerima resikonya, jadilah penyakit: darah tinggi, insomnia, kanker, asam urat, kolesterol, hepatitis, ginjal, jantung, stres, psikosomatik, diabetes, stroke dll. Dan semua itu baru hukuman di dunia. Di akhirat, sudah pasti lebih pedih lagi.

Kelima wilayah hukuman itu akan menyergap setiap diri akibat dari kebiasaan melakukan dosa-dosa, kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran agama, kecil maupun besar. Setiap diri tidak akan lolos dari hukuman-hukuman itu. Inilah makna dari “wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” (Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan merasakan balasannya pula) (QS- Al-Zalzalah: 8).

Marilah belajar dan berusaha bersama-sama menghindari dosa-dosa dan tidak membiasakan kesalahan-kesalahan sekecil apapun. Tak perlu menyoroti orang lain, sorotilah diri, diri dan diri!! Nabi SAW bersabda: “Hasibuu anfusakum qabla antuhasabuu ..!” (Hisablah diri kalian sendiri sebelum menghisab orang lain). Semoga Allah memberikan petunjuk.

Semoga bermanfaat