Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Resiko Orang Cantik (Dan Jelek)

Bismillah...

Gila, Juleha yang ramping mendadak menjelma bak singa, kuat banget. Jeni sampai kepayahan megangin dia hingga nyaris lepas.

“Nyebut, Juleha, istigfar...,” seru Jeni, lalu dilepaskannya tubuh Juleha.

Bodo ah, ngamuk-ngamuk deh, gue udah nggak kuat lagi... gumam Jeni. Perempuan tadi sudah menghilang.


Tapi juleha malah menggelosor duduk selonjoran di jalanan, ngos-ngosan dan sejurus kemudian menangis bombay. Orang-orang mulai bubar. Sebenarnya Jeni nggak suka sama Juleha, tapi dia nggak tega buat ninggalin. Akhirnya Jeni ikut duduk nemenin Juleha bersama Bono yang setia menunggu tangisannya reda.

“Heran gue, kok bisa-bisanya suami lo selingkuh, lo kurang cantik apa coba?” celetuk Jeni.
Tiba-tiba Juleha berbalik menatap tajam ke arahnya. O ow, salah ngomong nih. Gue udah bangunin singa! pikir Jeni ngeri. Tapi Juleha malah menjawab dan jawabannya ngawur.

“Abis minta cere, gue mau pake burqa aja. Biar nggak ada lagi lelaki mata keranjang dan jelalatan yang mau ngawinin gue!” sejurus kemudian dia mencengkeram kedua bahu Jeni, yang kaget setengah mati. Lalu juleha berucap serius, “Denger baik baik pesen gue, Jen... jangan sekali-kali lo terima cowok yang cuma tertarik sama kecantikan lo doank. Ngerti?” tandas Juleha berapi-api, dia nggak sadar ngasih wejangan sama orang yang salah.

Jeni manggut-manggut aja. Melihat keadaan Juleha yang hancur begini, meski berusaha memungkiri, Jeni kaget sendiri. Dalam hatinya ada perasaan beruntung jadi orang jelek.
Sampai di rumah, baterai di badan jeni Sudah benar-benar soak, kakinya encok,dia mendambakan rebahan di kasurnya dan langsung merem. Tapi ketika membuka pintu kamarnya, Jeni meratap kenapa ada makhluk cantik menyebalkan lainnya nangkring di atas kasur.

“Please, tolongin gue, Jeni... gue ngungsi dulu, ya, di sini,” kali ini Jeni bertekad bulat untuk pingsan.

Tubuh Jeni diguncang-guncang hebat, dia mulai melek. Jeni merasa tadi baru saja mimpi buruk. Didatengin sepupu cantiknya Juwita yang mau ngungsi di kamarnya. Tapi sosok Juwita nggak juga kabur dari pandangan matanya yang sudah melek sempurna, tepatnya melotot.

“Nggak!” Tegas Jeni, "Emang rumah lo kebanjiran apa? Juwita masang muka memelas ke Mama Jeni yang duduk di sampingnya.

“Kamu nggak boleh begitu sama sodara sendiri, Jen... Kasian kan Juwi, dengerin dulu ceritanya,” dukung Mama Jeni.

Jeni berusaha keras untuk mingkem, bukan cuma karena nyabar-nyabarin diri buat mendengar alasan Juwi, tapi juga karena hal itu nyaris mustahil mengingat struktur giginya yang sudah dari sononya maju beberapa senti.

“Emang begini resiko jadi orang cantik,” Juwita mendesah pasrah memulai kisahnya, Jeni buang muka. Pengennya dibuang ke laut aja rasanya.

“Gue dipecat dengan tidak hormat, alasannya sungguh nggak masuk akal. Gue merasa telah dizalimi...,” ucapnya penuh perasaan.

“Justru nggak masuk akal kalo mereka mempertahankan lo!” semprot Jeni nggak tahan lagi, ”Perlu gue ingetin apa yang udah lo lakukan sama warung emak lo yang tutup dalam tempo sesingkat-singkatnya. Emang susah kalo orang nggak nyadar diri!” Jeni makin menjadi-jadi.

“Tapi yang punya mini market nggak pernah komplain soal itu, berarti gue udah pinter ngitung,” elak Juwi. Yang berarti, kalau yang punya juga tidak pandai berhitung dan sangat tidak pandai mencari pegawai.

“Emang sih, tetep aja gue yang dituding sebagai penyebab utama penurunan drastis keuntungan mini market. Tapi itu gara gara Nyonya Preti, istri yang punya mini market dan orang yang mecat gue langsung nyemprot ke muka, dari dulu emang dia sentimen sama gue. Dia ngerasa terancam dengan kecantikan gue dan ketakutan setengah mati kalo suaminya gue sabet. Padahal mestinya dia nggak perlu kuatir, mending kalo suaminya mirip Dude Herlino seupiiil aja! Lha ini, Tuan Monki cuma lebih cakep dikit ketimbang gorilla! Dikasih gratis plus dibayarin duit juga gue ogah! Tapi nggak tahu kenapa, Tuan Monki baik banget sama gue. Ngasih ini itu, semua isi mini market boleh gue ambil tanpa perlu sungkan-sungkan," cerocos Juwi, sementara Jeni nemuin satu lagi kekurangpandaian Juwi.

“Tapi tentu aja si Nyonya Preti nggak bakal ngakuin kecemburuan gilanya itu. Masak dia bilang gara-gara gue, mini marketnya sering kedatangan para cowok nggak penting dan nggak tau malu. Mereka keluar masuk mini market, tapi nggak beli apa apa. Kalaupun beli, palingan cuma permen loli sebiji , rokok sebatang, atau sebungkus sabun colek doank. 'Kamu pikir ini warung ketengan apa?'“ Lengking Juwita menirukan gaya Nyonya Preti lagi ngomelin dia.

“Semua kelakuan nggak tahu malu para pengunjung itu memiliki satu maksud tersembunyi yang sama, yaitu mereka cuma mau ngeliatin sembari mengagumi pesona kecantikan gue! Para cowok itu ngantri di depan meja kasir untuk mengajukan berbagai macam pertanyaan seputar biodata seperti nomer hp, nomer rumah, nomer keberuntungan, nomer wajib pajak dan anak nomer berapa. Jelas nggak gue kasih! Dikiranya gue cewe gampangan apa? Tapi demi meredam kekecewaan mereka, gue kasih satu deh, yaitu nomer rekening gue. Otomatis Mini market jadi kelihatan penuh kan, padahal jualannya nggak banyak yang laku. Karena itu, dengan senang hati Nyonya Preti mendepak gue keluar...,“ Juwi mulai menangis bombay.

“Menurut gue alasannya tetep masuk akal,” ujar Jeni tanpa perasaan, lalu sontak dia berdiri keingetan sesuatu, ”Eh, tapi tunggu dulu... Kalo dipecat , ya udah, lo kan tinggal diem di rumah lo sendiri. Kenapa pake ngungsi segala ke rumah gue? Jaka sembung naek odong odong, nggak nyambung dooong!”sempet-sempetnya Jeni berpantun, sementara tangis Juwi makin keras dan Mama jeni menimpuk bantal ke muka Jeni.

“Itulah puncak penderitaan gue sebagai cewek cantik...,” raung Juwi.

Di sela tangisannya dia ngomong, ”Abis gue di-phk, Tuan Monki tetep keukeh melanjutkan perbuatan baiknya ke gue. Dia dateng ke rumah bawa kado, memohon maaf dan amat menyesal atas kezaliman istirinya. Gue udah maafin, harusnya habis perkara, kan? Tapi besoknya dia datang lagi, bawa kado lagi, minta maaf lagi, gue maafin, selesai. Dan besoknya lagi, datang lagi, bawa kado lagi….”

“Stooop!!! Lo mau ngomong sampe ubanan? Bilang aja kek dia datang tiap hari!” sembur Jeni.

“Maksud gue itu,” jawab Juwi polos. ”Gue udah bilang cukup sekali aja minta maafnya, tapi katanya dia nggak bisa ngilangin perasaan bersalahnya yang mendalam. Kalo bukan karena tiap datang bawa kado, gue juga nggak bakal sabar ngadepinnya,” Jeni mendelik sinis ke Juwi, dasar matre!

“Tapi suatu hari yang naas...,” Juwi menghela napas menahan perasaan sedihnya, terus nada suaranya meninggi, ”Tepat ketika gue sampoan di kamar mandi sambil berdendang, terdengar suara orang menggedor pintu rumah, keras banget! 'Mungkinkah sang penagih utang?' pikir gue waktu itu. Tapi biasanya nggak se-ekstrim ini. Denger punya denger dan ternyata bener, bukan penagih utang! Karena gue denger ledakan keras amarah Nyonya Preti, dia nyariin gue. Seketika sekujur badan gue menggigil kedinginan, padahal baru sampoan. Belom sabunan! Gue meyakini bahwa Nyonya Preti akhirnya tahu juga kelakuan baik suaminya. Dia ngamuk besar dan berambisi penuh ngejambak rambut dan mencakar wajah gue yang mulus,” suara Juwita melengking diikuti tangisan kerasnya.

“Untung aja nyawa gue masih bisa terselamatkan, karena yang bukain pintu emak gue yang malang, Dari jendela kamar mandi gue bisa loncat keluar dengan rambut masih penuh busa, mata perih kelilipan sambil lari pontang-panting. Kecantikan gue telah terhinakan!” Juwi kembali sesenggukan, ”Karena itu, sebelum si nyonya diamankan, gue harus ngungsi di tempat yang aman. Jadi,wahai Jeni sepupuku yang semanis brownis (pun nyaris sama itemnya, batin Juwi), sudilah kiranya membagi kamar yang nggak seberapa bagus ini dengan gadis teraniaya yang nggak berdosa kecuali karena kecantikannya yang memukau,” ucapnya mendramatisir sambil masang muka merana. Meski tetap aja nyebelin, tak urung Jeni mrasa prihatin juga sama nasib Juwi.

***

Dan kini, Jeni pun tengah mengungsi di rumah Meri. Tapi ini nggak ada urusannya sama soal dendam-mendendam terhadap orang cantik, yaitu keberadaan Juwi di kamar tercintanya. Ini disebabkan Jeni pun nggak habis pikir, kenapa cewek secantik Juwi tidurnya bisa ngorok yang bunyinya nggak beda sama kodok, sehingga sukses bikin Jeni menderita insomnia bermalam-malam yang mengerikan. Selain itu, sebenarnya ada satu alasan lagi... Jeni membutuhkan tempat dan teman yang nyaman untuk merenungkan, berbagi pikiran dan perasaannya yang sekarang ini berubah terhadap orang cantik, kebenciannya mulai rontok.

“Ternyata jadi cewek cantik nggak selalu ngenakin... Tapi tetep aja, gue masih heran kenapa bisa begitu?” ujar Jeni setengah ngelamun sambil tiduran di kamar Meri.

“Nggak ada yang aneh, lo sangka kita di surga!” jawab Meri. ”Di dunia ini, mau yang cantiknya selangit atau jeleknya nggak terkatakan, kayaknya sampe tujuh turunan atau melarat, majikan atau pembokat, yang sehat atau sakit, tetep bakal susah-susah juga! Namanya juga hidup, semua punya masalah, jadi nggak perlu sirik sama mereka."

“Lagian, semua kenyamanan itu juga nggak ngejamin bisa bikin lebih bahagia dari yang nggak memilikinya. Buktinya, artis-artis top dunia, putri raja dan para konglomerat banyak yang depresi berat tuh... Padahal Bang Ali, tukang benerin sepiteng aja selalu kelihatan ceria. Soalnya kebahagiaan kan yang ngerasain hati, bukan muke lo! Bahkan, kalaupun emang semua kemudahan itu bisa bikin bahagia, toh sebentar lagi pasti bakalan lenyap nggak bersisa kalo udah masuk liang kubur. Lebih lanjut lagi, mesti dipertanggungjawabin, berat, Neng... Apalagi yang namanya kecantikan, lebih cepet lagi ngilangnya, tuaan dikit aja udah keriput, kan? Jadi apapun yang menimpa kita, baik atau buruk, sama-sama ujian hidup yang mesti disikapi dengan bener.”

Serta merta Meri loncat dari tempat tidur ke lantai. Lagaknya macem Jetli lagi kesurupan, mamerin jurus-jurus nggak jelas, sebelum tiba-tiba berhenti mendadak, mengacungkan dua jari ke depan muka Jeni.

“Double S!” serunya kayak ngasih tau jawaban acara kuis.

Sekarang Jeni hampir yakin, Meri beneran kesambet.

“Syukur dan sabar!” nyanyinya lagi, tapi Jeni nggak kelihatan terinspirasi sama sekali.

“Ngomong sih gampang, sabar tuh susah, tauk!” ujar Jeni.

Meri tetep melanjutkan, “Yap, gue tau itu!” katanya mantap. ”Karena itu, gue kasih lagi jurus-jurus yang diajarin sama ustad gaul gue,” Meri tersenym cerah.

“Bersabar akan lebih mudah kalau kita bersyukur dulu, gue kasih contoh yang sesuai sama kondisi lo...,” Meri menatap Jeni lekat lalu berujar, ”Meskipun jidat nongnong, hidung pesek, gigi mancung, kulit item dekil, kuping lebar...,” Jeni mulai naik darah, Meri cuek ngelanjutin, ”Tapi kan,semua masih berfungsi dengan sempurna. Sementara ada banyak orang yang mau nafas aja kudu beli, nggak bisa denger, ngomong atau melihat. Kulitnya kena luka bakar atau panuan, kudisan, kutilan serta sebangsa jamur lainnya. Selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri, nggak bakal kehitung malah! Dengan begitu, lo akan merasa kalo nggak cantik itu bukan sesuatu yang mesti dipermasalahkan. Bahkan, seperti yang lo tau, ada baiknya juga kan? Paling nggak lo nggak bakal disangkain ngerebut suami orang dan dinikahin cuma karena cantik doank!” Jeni terlihat manggut-manggut.

“Tenang aja,” kata Meri lagi. ”Rejeki sama jodoh nggak bakal direbut orang, kok, lo harusnya bersyukur nggak dapet si Armando itu. Keikhlasan dalam menerima takdir Allah, baik atau buruk, juga akan bikin perasaan makin lega.Yang penting, kita berusaha aja melakukan yang terbaik. Urusan hasil, serahin sama Allah yang lebih tau mana yang paling baik buat kita!" Meri mengakhiri wejangan panjangnya.

Kali ini,mata Jeni berbinar binar cerah.

"Cakep! Gue suka gaya lo, Ustadzah Meri. Hhhiii!" Jeni merangkul Meri erat.

"Aamiin min min min buat doanya. Hheee." (*)

from: annida-online.com