Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Komentar Orang Takkan Ada Habisnya!

Bismillah...


keledai
Suatu saat, seorang bapak bersama anaknya mengadakan perjalanan. Ia dan anaknya hanya membawa seekor keledai. Si bapak menunggangi keledai tersebut, sedang si anak berjalan. Melihat kejadian ini, beberapa penduduk kampung yang mereka lewati berkomentar, ‘Lihat bapak it tidak sayang kepada anaknya, bagaimana mungkin ia bisa menunggang keledai sedang anaknya dibiarkan berjalan kaki.‘



Dua orang bapak dan anak ini terus berjalan. Dan pada perjalanan ini, karena terpengaruh oleh komentar penduduk kampung yang ia lewati akhirnya si bapak menyuruh anaknya untuk naik di atas keledai dan sekarang gilirannya berjalan. Sama, orang-orang kampung sekitar yang ia lewati melihat kejadian ini lantas berkomentar, ‘Anak ini tidak menghormati ayahnya, ayahnya berjalan sedang ia enak menunggang keledai.’

Si anak dan si bapak ini masih dan terus melakukan perjalanan. Namun kali ini, si bapak dan anaknya menunggangi satu ekor keledai secara bersamaan, ia dan anaknya sekarang persis berada di atas punggung seekor keledai. Orang-orang di sekitar mereka juga tidak berbeda dengan sebelum-sebelumnya memberikan komentar, ‘Dua orang bapak dan anak ini menunggangi keledai kecil yang lemah (karena bentuk dan ukuran keledai lebih kecil dari kuda), bagaimana mereka akan mendapatkan rahmat sedang mereka mendzhalimi keledai ini.’

Bapak dan anaknya ini yang sejak awal terpengaruh dengan komentar orang-orang, pada perjalanan berikutnya akhirnya memutuskan untuk tidak sama sekali menunggang keledai. Sekarang mereka berdua berjalan sambil menggandeng keledai yang mereka bawa. Dalam perjalanan, orang-orang kampung kembali berkomentar, ‘Dua orang ini aneh, mereka memiliki keledai namun tak seorang pun dari mereka menungganginya.’

Akhirnya karena kesal atas komentar orang yang tak ada habis-habisnya, si bapak berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku! Komentar orang tidak ada habisnya, walaupun kita masing-masing membawa keledai tetap saja ada orang akan berkomentar.’

Temen-temen, begitulah fenomena kehidupan yang sering terjadi di sekitar kita. Cerita di atas adalah sebuah contoh, apapun yang di lakukan oleh si bapak dan si anak, ada saja komentar orang yang mereka terima, walaupun mereka berusaha menurutinya. Artinya, kegiatan apapun yang kita jalani tetap ada saja komentar orang, baik karena senang, benci, iri dan sebagainya. Walaupun kita ikuti semua komentar orang (dan itu tidak mungkin) tidak menutup kemungkinan komentar lain (baru) akan keluar. Dan tentu saja kita tidak bisa menuruti semua kata hati dan kemauan mereka yang keluar melalui komentar-komentar yang mereka sampaikan, karena beda orang beda cara pandang. Bila kita ikuti belum tentu yang lain setuju, pun demikian seterusnya.  Tidak baik juga tidak ada manfaatnya terpengaruh dengan komentar mereka, tentunya komentar yang tidak bermanfaat. Toh kalaupun di turuti apa pula manfaatnya buat kita juga buat mereka.

Jadi, jika kita yakin melakukan sesuatu–berdakwah, mengambil keputusan, dll–berada diatas kebenaran maka tetaplah istiqamah di atasnya. Dan benar tentunya benar menurut Al-Quran dan sunnah, karena patokan kebenaran ada pada keduanya. Maka jalani semuanya, selama Allah ridha atas apa yang kita lakukan apa lagi yang mesti kita khawatirkan? Jangan dengar apalagi terpengaruh dengan ucapan dan komentar orang yang tidak bermanfaat. Wallahu A’lam..

zakylifes.worpress.com

BACA JUGA