Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Komik, Anime dan Games


Bismillah...
Ada yang aneh di masyarakat kita. Saya seringkali diceletukin "bacaan anak es-de dibawa-bawa"; kadang lebih nylekit. Seperti, “Astagaa!!  Udah lulus SMA, bacaannya masih komik?! Ck ck ck ck.” atau “Ya Allah, umur segini kamu masih nonton pilem kartun?!? PILEM KARTUN?!”
Apa ada yang salah dengan saya? Apa menjadi dewasa kemudian harus serius? Bacaannya harus novel atau buku ilmiah, tontonannya harus film drama?

Oh, please…
Ada yang aneh di masyarakat kita. Selalu. Yang dipermasalahkan adalah ‘cover’, bukan isi. Yang diributkan adalah kemasakan tampak luar secara sekilas; tanpa berusaha memahami kandungan esensinya. *Cieh, bahasanya*. Misalnya ya, jika mereka sekilas melihat anaknya membaca manga berjudulVagabond (Takehiko Inoue)  –mereka akan membiarkan. “Ah, komik gituan. Samurai2. Bacaan ringan.”
Padahal itu adalah komik untuk Dewasa. Memang, sudah ada sensor dari Level Comics (penerbit resmi di Indonesia) –namun tetap; Vagabond bukanbacaan buat anak-anak. Beberapa komik keluaran Level, (seperti Homonculus, Psychometrist Eiji  dll) yang jelas-jelas di-rating ‘Dewasa’ beredar dengan bebas.
Coba lihat di sudut rak di Gramedia. Saya yakin pasti ada anak-anak (SD, SMP) yang nongkrong membaca-baca komik yang tidak sesuai umur mereka. Judul-judul populer seperti One Piece, Naruto, Bleach, Deathnote yang memiliki rating REMAJA juga dikonsumsi oleh anak-anak SD yang belum baligh.
Namun, komik masih mending.  Bagaimana dengan pilem animasi / kartun?! Olala. Mungkin; jarang sekali ada orang tua yang menemani anaknya nonton animasi (atau anime) di layar tipi; padahal udah jelas ada tulisan BO : Bimbingan Orangtua. Mereka mungkin mikirnya, “Ah pilem kartun ~cocok buat anak-anak. Gak mungkin berbahaya!”
Padahal yah, adegan pilem animasi justru jauh lebih brutal daripada pilem biasa. Adegan yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia secara nyata bisa dilakukan di pilem animasi.
Dan kalau tidak salah, One Piece, Naruto, Bleach, Samurai X, Detektif Conan dan kawan-kawan itu PG-13. Yup. Parental Guide 13 years and over. Kenyataannya, balita dan anak-anak SD bebas sekali nonton. Kemudian mereka membahasnya di sekolah, pura-pura berantem atau meniru adegan di tipi.
Ini sama kayak para orang-tua yang membiarkan anak-anak mereka nonton  The Dark Knight di biskup. Mereka cuma melihat luarnya, “Oh, pilem Batman ini! Gak papa ah ngajak anak-anak nonton.” ~dan baru sadar ketika Joker membuat anak-anak mereka menangis ketakutan.
Maka, saaaangat aneh jika ada yang nyeletuk dan ngetawain (“Umur berapa kamu?!?”) saat saya sedang membaca 20th Century Boys, atau nonton The Simpsons. Homer pun pastinya langsung bilang, “D’oh!!!!”
:dies:
Untuk ‘games’  gimana, Mas?
Setali tiga uang. Ada yang aneh di masyarakat kita!!
ESRB (Entertainment Software Rating Board) mengeluarkan rating yang cukup strict. Namun coba lihatlah di rental-rental PS. Anak-anak kecil SD bebas main gulat WWF  atau Grand Theft Auto. Yoi. Dar der dor!! Mereka menggerakkan tokoh mereka untuk saling menghajar, merampok dan membantai orang.
Saya ketika sedang memainkan game brutal (seperti Assassin’s Creed atau Resident Evil yang penuh darah) langsung seketika memijit shortcut pindah ke desktop; ketika ada keponakan yang masuk kamar. Yeah, bukan saya pelit. Tapi keponakan-keponakan saya masih di bawah 13 jeh. Jika mereka ingin main game, saya pun memberikan game-game casual dari Pop Cap, atau yang semacam Spongebob Bubbles gitu.
( Oh ya. Saya kemudian memberikan Disclaimer pada game saya Quiz Parampaa; agar para orang-tua menemani anak mereka saat memainkannya.  Seorang Ibu  melaporkan anaknya sampai menangis karena ada ‘kejutan’ di level berapa gitu. Ampun!! )
:-w
Okay. Kembali ke rating. Hmmm, tidak melulu merujuk ke entertainment. Ternyata semua hal itu ada rating-nya yah. Mulai dari minuman, makanan (pernah baca: “Tidak cocok untuk anak di bawah umur 3 tahun.” ?) rokok, obat, lagu, website (tau khan kalau Facebook itu musti 13th ke atas?),  lokasi, buku, omongan, diskusi, dan bahkan. . . *uhuk* cinta.
Jika ada seseorang mengucapkan cinta; hati-hati. Lihat rating-nya. Teliti. Apakah ‘tontonan’ cinta yang dia berikan itu cinta sekilas? Cinta main-main? Serius?! Apakah rating cintanya itu ‘Semua Umur’, ‘Bimbingan Orang Tua’ atau cinta ‘Dewasa’?!
Hasyah. Malah jadi kemana-mana. Hahag.
So, rating-lah sendiri hal-hal yang akan kita berikan pada diri sendiri ~dan pada orang-orang terdekat yang kita sayangi.
Be careful..
thanks to: mustova.com