Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Mengenal Ideolog Jihad Global, Syaikh Abdullah Azzam

Bismillah...

Nama lengkap beliau adalah Abdullah Yusuf Azzam. Lahir pada tahun 1360 H/1941 M di desa Sailatul Haritsiyah, Jenin, Tepi Barat, Palestina. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di desa kelahirannya tersebut.

Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknologi Pertanian dan lulus dengan gelar diploma dengan derajat imtiyaz (Istimewa). Selepas kuliah, bekerja di bidang pendidikan dan menikah dengan Ummu Muhammad pada usia 18 tahun.



Hafal Al-Qur’an, ribuan hadits, juga syair. Melanjutkan studi keislaman di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus, Suriah, dengan cara intisab (studi jarak jauh). Berhasil meraih gelar sarjana (Lc.) pada tahun 1386 H/1966 M dengan predikat jayyid jiddan (Sangat Memuaskan).

Pada Perang Arab-Negara Israel 1387 H/1967 M, Abdullah Azzam kembali ke Palestina untuk melaksanakan kewajiban i’dad dan jihad serta berpartisipasi dalam banyak pertempuran mengusir penjajah. Di sela-sela perjuangannya, beliau masih sempat melanjutkan studi magister dan berhasil meraih gelar master (M.A.) pada tahun 1389 H/1969 M juga dengan predikat jayyid jiddan.

Setelah wilayah Tepi Barat jatuh ke Israel, beliau berhijrah ke Yordania pada 1390 H/1970 M dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Syariah, Universitas Yordania, Amman. Kemudian mendapat beasiswa tugas belajar dari kampusnya untuk studi doktoral pada bidang Usul Fikih di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Gelar doktor pun berhasil diraih pada tahun 1393 M/1973 M dengan predikat asyraful ‘ula (Dengan Pujian). Disertasi beliau berjudul Dalatul Kitabi was Sunnati ‘alal Ahkam, setebal 930 halaman.

Pada tahun 1980 M/1400 H keluar surat pemberhentian beliau sebagai dosen dari Otoritas Militer Yordania karena aktivitas keislaman beliau. Selama di Yordania beliau memang aktif berjihad di sekitar perbatasan Palestina–Yordania. Beliau kemudian hijrah ke Arab Saudi dan kemudian mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Di sinilah memulai interaksi secara intens dengan mahasiswa yang kelak dianggap sebagai pendukung dan penerus utamanya di Maktab Al-Khidmat, yaitu Usamah bin Ladin.

Setahun kemudian beliau pindah mengajar sebagai “dosen terbang” di Universitas Islam Internasional di Islamabad atas permintaan sendiri, agar lebih dekat dengan jihad Afganistan. Mulai terlibat kembali dengan amal jihadi sejak tahun 1402 H. Puncaknya adalah berdirinya Maktab Al-Khidmat (Kantor Pelayanan Mujahidin) pada tahun 1404 H; sebuah lembaga yang menjadi cikal-bakal Tanzhim Al-Qa’idah.

Setelah berakhirnya masa tugas beliau di Pakistan, pihak Universitas Raja Abdul Aziz menolak untuk memperpanjang kontrak. Beliau pun mengajukan pengunduran diri dan mulai tahun 1406 H bekerja di Rabithah Al-‘Alam Islami sebagai mustasyar (konsultan) di bidang pendidikan bagi mujahidin Afganistan. Selama di Pakistan beliau berinteraksi dengan para pemimpin utama Mujahidin Afghan, seperti Abdu Rabbirrasul Sayyaf, Hikmatyar, Burhanuddin Rabbani, Muhammad Yunus Khalish, Jalaluddin Haqqani dan Ahmad Syah Mas’ud.

Dr. Abdullah Azzam pun semakin intens pergi ke medan jihad Afganistan. Beliau pun sampai pada kesimpulan bahwa jihad Afgan adalah jihad islami dan hukumnya fardhu ‘ain bagi yang mampu. Mengingat nilai strtejiknya, umat Islam seluruh dunia wajib mendukung jihad ini. Beliau pun mengonsentrasikan seluruh potensi dirinya dan memotivasi umat dengan jihad Afganistan.

Pada hari Jumat, 24 Rabiul Akhir 1410 H, Syekh Abdullah Azzam menjemput kesyahidan—insya Allah—ketika menuju ke Masjid Sab’ul Lail, Peshawar. Ketika dalam perjalanan untuk memberikan khotbah Jumat, mobilnya melaju di atas ranjau yang ditanam oleh musuh. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya serta mengaruniakan pahal yang sebaik-baiknya.

Musuh-musuh Islam mungkin mengira bahwa jihad akan padam dengan meninggalnya beliau. Jasad beliau memang binasa, namun kata-kata dan motivasi beliau tetap hidup. Terbukti, akademi militer mujahidin (muaskar) yang beliau rintis berhasil meluluskan alumni-alumni yang kelak terlibat dalam berbagai kancah jihad internasional.

Karya-karya Abdullah Azzam pun tetap hadir di tengah umat. Maktab Al-Khidmat sendiri setidaknya berhasil mendokumentasi khotbah dan muhadharah (ceramah) beliau dan membukukannya hingga lebih dari 50 karya, di antaranya serial At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah wa Al-Bina’ (16 buku), Al-Hijrah wa Al-I’dad (3 buku), dan Hadamul Khilafati wa Bina’uha (1 buku). Lebih dari 40 karya beliau dalam versi digital hingga kini juga bisa diakses di situs internet Minbar At-Tauhid wa Al-Jihad pada URL: http://tawhed.ws/a?a=a82qriko.

kiblat.net

Comments

BACA JUGA