Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Anak Kecil Yang Didoakan Ibunya Menjadi Imam Masjidil Haram

Bismillah...

Masjid al-Haram 2010
Seorang bocah mungil tengah asyik bermain tanah. Sementara sang ibu sibuk menyiapkan jamuan makanan, karena keluarga tersebut sebentar lagi akan kedatangan tamu. Ketika hidangan telah hampir siap saji, belum lagi tamu yang akan datang menyantap hidangan, bocah lucu yang tadi bermain tanah masuk ke ruang tamu dengan kondisi tangan yang masih menggenggam debu. Tiba-tiba ia menaburkan debu itu di atas makanan yang sudah dengan susah payah disajikan oleh ibunya.

Alangkah kagetnya sang ibu melihat apa yang dilakukan bocah kecil itu tatkala masuk dan melihatnya. Sontak saja beliau marah dan berkata, “Idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu! Biar kamu jadi seorang imam di Haramain!”

Kini bocah kecil itu tumbuh dewasa dan menjadi orang terkenal. Kemarahan sang ibu puluhan tahun yang lalu sepertinya menjadi doa baginya, yaitu menjadi seorang imam Masjidil Haram di kota suci Makkah. Dan benar, Allah mengabulkannya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Mau tahu siapa dia? Dia adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais, pemilik suara merdu dan bacaan tartil yang banyak disukai dan menjadi favorit kaum Muslimin di seluruh dunia. Subhanallah!

Nama lengkapnya Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi (bahasa Arab: عبد الرحمن السديس), dilahirkan di Riyadh, Arab Saudi tahun 1961 (umur 51/52 tahun). Syaikh Sudais berasal dari Bani Anza. Ia telah hafal al-Qur’an pada umur 12 tahun. Tumbuh di Riyadh, Sudais belajar di SD Al-Muthana bin Harits, dan setelah itu kuliah di Riyadh Scientific Institution dan lulus tahun 1979 (umur 17–18 tahun) dengan nilai baik. Ia memperoleh ijazah Syariah dari Universitas Riyadh pada tahun 1983 (umur 21–22 tahun), dan menjadi anggota PPI (Pengetahuan Pokok Islam) sebagai pemberi ceramah atau dosen. Ia mempelajari Islam dari gurunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud pada tahun 1987 (umur 25–26 tahun) dan menerima gelar Ph.D. Ia aktif di Universitas Syariah Islam Ummul Qura pada tahun 1995 (umur 33–34 tahun) sebagai asisten profesor setelah aktif di Universitas Riyadh.




Inspirasi dan pelajaran

Kisah ini semoga menjadi inspirasi dan teladan bagi para ibu-ibu, calon ibu atau para wanita dan para orangtua. Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah ternyata doa seorang ibu itu mustajab. Sebagaimana disebutkan sendiri oleh Rasulullah bahwa salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orangtua kepada anak-anaknya. Maka, karena itu hendaklah para orangtua mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya meski dalam kondisi marah sekalipun.

Rasulullah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini disebutkan umum, artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…” (HR. Abu Dawud)

Doa para Nabi dan orang shalih untuk keturunannya

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang selalu melaksanakan shalat. Begitu juga anak keturunanku. Wahai Tuhanku, kabulkanlah do’aku.” (QS. Ibrahim: 40)

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Wahai Muhammad, ingatlah ketika Ibrahim berdo’a: “Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri Makkah ini aman dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berdo’a: “Wahai Tuhan kami, jadikanlah istri-istri dan anak-anak kami orang-orang shalih. Jadikanlah anak keturunan kami suri tauladan bagi orang-orang shalih.” (QS. Al Furqan: 74)

*) Kisah diambil dari berbagai sumber, khabar Biladi al-jazaair/ar-risalah ed.131”

from: Zaky Life

Comments

BACA JUGA