Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Film Kingdom of Heaven: Etika Kaum Muslimin di Perang Salib

Bismillah...

Sudah pernah nonton film yang satu ini? Saya baru pertama kali menyaksikan film ini tadi malam secara tidak sengaja, dan sungguh memberikan beberapa kesan di hati saya terhadap holywood. Awalnya saya mengira kalau film ini sama saja seperti film kolosal lainnya yang menceritakan tentang keunggulan suatu kaum dalam pertumpahan darah, sehingga saya jump frame kesana kemari untuk menemukan adegan yang asyik untuk ditonton. Kemudian saya pun menemukan beberapa dialog yang menyebutkan kata "Saladin" atau dalam ejaan arab "Salahuddin", sehingga saya menjadi penasaran bagaimana gambaran seorang tokoh besar sekaliber beliau di mata orang-orang barat dan akhirnya memutuskan menonton sampai habis film ini.

Kingdom of Heaven adalah film buatan Hollywood yg disutradarai oleh Ridley Scott, dan di bintangi antara lain oleh Orlando Bloom (pemain di film Pirates of Carribean) dan Liam Neeson. Tidak ada orang Islam yg terlibat dalam film ini kecuali mungkin bintang figuran dan kru lapangan. Juga tidak ada modal yg disuntikkan orang Islam.

Namun film ini bercerita tentang Perang Salib dalam sudut pandang yg sangat berbeda dari kebanyakan film hollywood. Di sini tentara muslim yg dipimpin Salahudin Al Ayubi digambarkan sebagai pihak yg memegang penuh etika perang, toleransi beragama dan hak asasi manusia. Di lain pihak, tentara Salib justru digambarkan sebagai tentara yg haus darah, doyan perang, dan tidak mengenal belas kasihan meskipun kepada wanita dan anak-anak.

Orang-orang yg benci atau apriori dengan Islam boleh saja bilang bahwa itu hanyalah film. Namun seandainya mereka mau membaca kembali catatan sejarah secara obyektif dan dengan hati yg jernih tentulah mereka akan menemukan pesan-pesan yg sama seperti di film KINGDOM OF HEAVEN.


Ketika Tentara Salib merebut Jerusalem pada Perang Salib I tahun 1099, mereka membantai habis penduduk Jerusalem, tidak hanya muslim tetapi juga penduduk yahudi serta penganut nasrani ortodox, termasuk kaum Arian, dan sekte-sekte lain yg dicap sesat oleh Paus. Tak terhitung masjid, sinagog, gereja ortodox dan perpustakaan habis dijarah, dirusak bahkan dibakar. Sebelumnya, di sepanjang jalan menuju Jerusalem Tentara Salib juga melakukan pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan penganiayaan serupa. Selama Perang Salib I, ratusan ribu wanita, anak dan orang tua menjadi korban. Ribuan rumah penduduk, masjid, sinagog, gereja ortodox, dan perpustakaan dirusak dan dibakar.

Namun ketika Salahuddin merebut kembali Jerusalem pada tahun 1187, boleh dikatakan tidak ada pembunuhan terhadap warga nasrani yg tertinggal di kota itu, tidak ada pengrusakan dan perampokan terhadap gereja, dan para pemuka agama nasrani sedikitpun tidak disentuh (www.bbc.co.uk/religion/ethics/war/islam.shtml).

Mengapa Salahuddin bertindak seperti itu? Jawabannya adalah, karena beliau memegang teguh etika perang Islam sebagaimana diajarkan oleh Al-Quran dan Rasulullah Muhammad SAW, yang di antaranya adalah:

1. Muslim hanya boleh berperang ketika diserang atau bila ada warga muslim di wilayah non muslim yg ditindas atau dibantai (Al Baqarah:190)

2. Dalam berperang muslim tidak boleh melampaui batas (Al Baqarah 190), di antaranya tidak boleh membunuh musuh yg sudah tidak berdaya, merusak mayat, mengganggu apalagi merampok dan membunuh penduduk sipil, merusak atau merampok tempat ibadah atau fasilitas umum, membakar rumah penduduk kecuali yg dianggap bisa menjadi tempat persembunyian musuh, membunuh ternak kecuali yg untuk dimakan, serta merusak tanaman kecuali untuk diambil buahnya (Al Hadist).

3. Bila telah terjadi kesepakatan untuk menghentikan peperangan dan musuh telah mengembalikan wilayah muslim yg dikuasainya dan membebaskan tentara atau penduduk muslim yg ditawannya, maka muslim diperintahkan untuk berhenti berperang (al Baqarah 193).

Tetapi saya menemukan beberapa kejanggalan dalam adegan di film ini. Ini bisa saja terjadi, selain karena ini adalah film holywood yang disutradarai oleh seorang nonmuslim.

1. Dalam sebuah adegan, terlihat bahwa Salahuddin menebas leher dua orang tawanan lalu meletakkan kepala keduanya diatas sebuah tombak, ini sungguh suatu penyiksaan dan tidak menggambarkan etika islam dalam perang terhadap jasad yang sudah tak bernyawa.

2. Dalam film ini juga, Salahuddin dan sebagian aktor yang memerankan muslim lainnya beberapa kali memberikan salam kepada orang-orang kafir pada, padahal ummat islam tidak di anjurkan untuk melakukan hal itu, bahkan dilarang oleh Nabi SAW sendiri.

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami 'Abdul'Aziz yaitu Ad Daraawardi dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit." (HR. Muslim no. 4030)

Kecuali jika mereka yang memulai salam, dan itupun perlu jawaban khusus:

“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)

3. Etika makan minum Salahuddin dalam film ini juga tidak baik, minum dengan berdiri.

Entah apa alasannya, saya kira diatas adalah beberapa kekurangan dari film ini.

(referensi: zilzaal, hadits online, dll )

Comments