Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Heboh! Debat Antara Aktivis HAM dengan Muslimah Soal Niqab

Bismillah... 

Spitzer
Seorang penulis di blog MuslimMatters, Hebah Ahmed, berhadapan dengan komentator terkemuka, Mona Eltahawy, terkait dengan isu larangan niqab (cadar) di Perancis di CNN. Walaupun mendapatkan waktu berbicara yang jauh lebih sedikit, Hebah telah menyampaikan apa yang perlu dia sampaikan terkait dengan pilihannya untuk memakai  niqab.
Perancis memberlakukan larangan burqa (niqab). Yaitu bentuk  kerudung yang hanya menampakkan mata.  Undang-undang baru tersebut menimbulkan  protes. Dua wanita yang keluar dengan mengenakan niqab ditangkap karena dianggap  melakukan aksi protes yang illegal.
Pemerintah Prancis telah menyebut kerudung sebagai bentuk baru perbudakan dan ia menegaskan bahwa niqab tidak dapat diterima di Prancis. Muslimah ada banyak di Prancis, tapi tidak semua berkerudung.
Berikut penampilan debat antara Hebah Ahmed dengan Mona Eltahawy di CNN:
Mona_Eltahawy_007
Mona Eltahawy
Spitzer: Saya bergabung dengan Hebah Ahmed, seorang penulis untuk blog Matters Muslim, yang menentang larangan tersebut. Dia dari Albuquerque. Dan Mona Eltahawy, seorang kolumnis terkait isu-isu Arab dan Muslim yang menginginkan larangan tersebut diperlakukan secara luas di mana-mana. Dia bergabung dengan saya dari Washington.
Selamat Datang Anda berdua.
Spitzer: Mari saya mulai dengan – jika saya boleh mengutip perkataan Presiden Perancis, Sarkozy atas justifikasinya terhadap peraturan ini.  Ini sebuah pernyataan yang luar biasa. Dia mengatakan bahwa Burqa bukanlah simbol agama. Ini adalah simbol perbudakan yang dipaksakan. Saya ingin mengatakan ini dengan sungguh-sungguh, bahwa burqa (niqab) tidak akan diterima di wilayah Republik Perancis. Kami tidak bisa menerima perempuan negara kita yang terpenjara di balik topeng, menghilangkan seluruh identitas kehidupan sosial  mereka.
Jadi, Mona, Mari saya mulai dengan Anda. Jika Anda ingin larangan ini diterapkan secara luas di seluruh dunia. Apakah Anda setuju dengan Presiden Sarkozy, hanya karena seseorang ingin berpakaian seperti ini, mereka memilih untuk berpakaian seperti ini, mereka tidak diijinkan untuk melakukannya?
Mona Eltahawy: Anda tahu, Eliot, saya benci Nicolas Sarkozy. Saya menganggap dia sayap kanan dan rasis, tapi saya juga membenci niqab. Dan saya mengatakan ini sebagai seorang perempuan Muslim.
Saya berpikir bahwa ini merepresantikan sebuah ideologi yang tidak percaya pada  hak-hak perempuan Muslim untuk melakukan apa pun selain memilih untuk menutupi wajahnya. Dan saya menemukan bahwa – Saya percaya bahwa niqab itu menyamakan kesalehan individu dengan menghilangkan hak-hak perempuan. Jadi saya mendukung pelarangan itu diberlakukan  di mana-mana karena hal ini tidak disebutkan dalam al- Qurʾan. Bukan suatu kewajiban bagi perempuan Muslim untuk menutupi wajahnya. Dan pembicaraan saya dengan Anda sekarang, dengan Anda melihat wajah saya akan menjadi sangat berbeda dibandingkan  jika saya duduk di sini dengan wajah saya tertutup. Saya percaya bahwa wajah manusia merupakan pusat komunikasi.
Spitzer: OK, Mona, satu hal yang saya akan amati, dan saya ingin memberikan kesempatan kepada  Hebah. Tapi saya mendengar Anda menggunakan single personal pronoun ‘I’(saya) berkali-kali. Saya yakin Anda percaya itu, tetapi mengapa keyakinan Anda itu harus  melarang orang lain untuk memakai apa yang mereka ingin pakai. Itulah yang saya tidak mengerti.
Spitzer
Spitzer
Hebah, jelaskan kepada saya mengapa Anda berpikir larangan itu adalah ide yang buruk.
Hebah Ahmed: Saya berpikir bahwa itu adalah ide yang buruk karena menurut saya itu merupakan contoh lain seperti pria mengatakan kepada wanita  bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara menjalani hidup mereka. Ini adalah cara lain yang mencoba untuk mengontrol perempuan, dan membawa ke tingkat pemerintah dan mencoba untuk mengatur cara wanita berpakaian, ini bukan hanya salah dan bertentangan dengan hak asasi manusia, tapi itu benar-benar melanggar seluruh dasar demokrasi di negara yang berdasarkan sistem demokrasi ini.
Ini adalah pilihan bebas. Ini adalah sesuatu yang saya pilih untuk memakainya. Saya tidak setuju bahwa ini merupakan ideologi sayap kanan. Ini adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam. Saya memiliki gelar master di bidang teknik mesin dan saya bebas melakukan apa pun yang saya inginkan, dan ini adalah pilihan yang ingin saya lakukan. Dan hanya karena seseorang tidak menerima pemahaman saya tentang Islam itu bukan berarti bahwa kita dapat menggunakan hukum untuk melarang  kebebasan orang berekspresi dan kebebasan beragama.
Spitzer: Hebah, saya ingin bertanya kepada Anda. Ketika Anda pergi ke bandara, Anda memahami bahwa mereka harus memeriksa Anda untuk keamanan seperti mereka memeriksa semua yang lain. Ketika Anda mendapatkan surat izin mengemudi, mereka mengambil gambar dengan atau tanpa kerudung Anda?
Hebah Ahmed: Tentu saja. Saya ingin semua orang tahu bahwa sebagai seorang perempuan Muslim, sebagai seorang Muslim di Amerika, saya peduli dengan keselamatan dan keamanan seperti halnya yang lain. Dan saya tidak punya masalah apapun dalam mengakomodasi setiap masalah keamanan yang terjadi. Ketika saya masuk ke bank, ketika saya pergi ke bandara, ketika saya pergi mengurus SIM, saya menunjukkan wajah saya, dan dalam Islam kita dituntut untuk menunjukkan identitas kita ketika kita berada di sistem pengadilan, memberikan kesaksian. Ini benar-benar sesuatu yang sangat penting untuk keamanan dan identifikasi orang, tapi itu tidak berarti bahwa saya harus dilarang sepenuhnya dari apa yang saya pilih untuk melakukannya.
Spitzer: OK, Mona, sekarang kesempatan Anda. Ada banyak jenis gaya pakaian yang saya lihat dan saya tidak menyukai jenis pakaian tersebut. Saya pikir pakaian-pakaian itu merendahkan martabat. Saya pikir jenis pakaian tersebut merupakan penindasan. Anda tahu, saya lihat banyak remaja yang memakai itu. Anda tahu, cara berpakaian saya sekarang mungkin dianggap kuno oleh anak-anak saya. Saya tidak mengatakan kita harus mengeluarkan undang-undang yang melarang itu. Bukankah itu bentuk pelanggaran mendasar terhadap  Amandemen Pertama? Apa alasan yang mungkin bisa secara legal untuk mengatakan kepada seseorang bahwa ‘Anda tidak bisa berpakaian sesuai dengan cara Anda ingin berpakaian’
Mona Eltahawy: Sebenarnya, Eliot, pemerintah tidak mengatakan kepada orang-orang bagaimana mereka bisa dan tidak bisa berpakaian sama sekali. Anda tidak bisa  berjalan ke luar dengan telanjang. Ada banyak negara bagian di Amerika Serikat di mana tiga orang atau lebih tidak bisa bersama-sama di depan umum dengan mengenakan penutup wajah. Jadi pemerintah sebenarnya tidak mengatur pakaian secara keseluruhan.
Saya ingin bertanya kepada Hebah, saya tahu dari apa yang dia katakan sebelumnya bahwa setelah ia mulai menutupi wajahnya, dia berhenti bekerja. Jadi argumen saya adalah – dan ini bukan hanya tentang saya’. Saya memahami poin yang Anda maksud sebelumnya, Eliot. Banyak kelompok hak asasi perempuan telah menganggap bahwa pemakaian niqab yang terjadi  dalam masyarakat, terutama bagi perempuan Muslim, menjadikanya sebagai ciri dari ketakwaan dan dianggap sebagai muslimah yang baik dan sebagainya, tentu saja, itu mempengaruhi saya.
Di Prancis, di mana larangan ini akan diberlakukan, kelompok hak-hak perempuan Muslim di sana mendukung karena mereka menemukan bahwa perempuan Muslim telah berada dibabwah tekanan besar kelompok muslim sayap kanan untuk memaksakan niqab.
Spitzer: Tapi, Mona -
Eltahawy: Itulah mengapa saya bilang saya berlawanan dengan Sarkozy,  tapi saya menentang pemakaian niqab pada perempuan, karena pilihan apa yang perempuan bisa miliki selain menutupi wajah mereka. Ideologi ini tidak mengakui hak-hak perempuan Muslim.
Spitzer: Mona, saya hanya harus menekankan satu hal kepada Anda di sini. Ada larangan tertentu pada cara orang pakaian, atau Anda sebutkan ketelanjangan bagi yang tidak berpakaian, yang sebenarnya dipaksakan kepada kita oleh hukum, tetapi tidak satupun dari mereka yang menyadari bahwa mereka berurusan dengan agama tertentu dan mengatakan ‘jika Anda adalah anggota suatu agama tertentu, Anda tidak bisa berpakaian dengan cara sebagaimana diwajikan dalam agama Anda untuk dijalankan, agama yang telah Anda pilih’.  Dapatkah Anda memikirkan contoh seperti itu? Karena saya bisa memikirkan seribu hukum lain jika ini ditegakkan. Kita akan membatasi segala macam hal yang dilakukan orang berdasarkan keyakinan agama mereka,  karena kita tidak setuju dengan itu. Bukankah itu hal yang sangat berbahaya?
Eltahawy: Lihat, saya pikir bahwa penafsiran agama kelompok sayap kanan ini  mendapatkan free pass’ karena semua orang mengatakan ini  baik, itu kewajiban agama saya, itu hak agama saya melakukan hal ini. Mari kita lihat benar-benar apa yang kita bicarakan di sini. Kita bicara tentang hilangnya hak-hak wanita dengan menggunakan pembenaran atas nama pendekatan dengan Tuhan. Jadi semakin Anda ingin dekat dengan Tuhan,  semakin Anda kehilangan hak-hak Anda.
Spitzer: Tapi, Mona -
Hebah Ahmed: Saya tidak merasa bahwa saya telah kehilangan hak-hak saya sama sekali.
Spitzer: Satu-satu. Masing-masing ada bagian
hebah ahmed
Hebah Ahmed
Hebah Ahmed: Saya benar-benar tidak setuju.
Spitzer: satu per satu . Hebah, kesempatan Anda.  Beritahu kami, apakah ada yang memaksa Anda untuk melakukan hal ini ? Apakah ini sesuatu yang Anda lakukan dengan kemauan Anda sendiri ?
Hebah Ahmed: Tidak ada yang memaksa saya melakukan ini, dan saya benar-benar tidak setuju dengan statistik yang diajukan Mona,  karena penelitian telah menunjukkan bahwa hanya ada 2.000 wanita di Perancis yang mengenakan niqab. Mayoritas dari mereka adalah mualaf yang masuk Islam dan secara senang hati memilih untuk melakukannya. Ini adalah pilihan saya. Tidak ada yang bisa memaksa saya untuk melepasnya. Saya tidak akan melepasnya bahkan jika Anda membayar saya untuk melakukannya. Dan faktanya adalah bahwa tidak pernah ada yang merasa terpaksa, dan saya belum pernah bertemu seorang wanita Muslim pun dalam semua perjalanan saya di seluruh dunia yang dipaksa untuk memakainya. Saya mengerti Mona secara pribadi tidak menyukainya dan tidak ingin memakainya. Tapi dia terus berbicara tentang perasaannya sendiri tentang hal itu dan dia ingin menggunakan hukum untuk mendukungnya. Jika dia ingin keragaman pemahaman Islam, maka dia harus menerima pemahaman versi saya, seperti dia ingin saya untuk menerimanya.
Spitzer: Mona, izinkan saya mengajukan pertanyaan ini. Apakah Anda memiliki bukti untuk mendukung pernyataan Anda bahwa perempuan dipaksa untuk memakai ini? Dan izinkan saya menanyakan ini. Jika perempuan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak ingin lakukan, ada cara lain selain melarang pakaian jenis ini yang telah dipilih untuk dipakai. Karena kami hanya mendengar dari Hebah, dimana orang-orang memilih untuk memakainya atas kemauan mereka sendiri.
Eltahawy: Yah, Anda tahu, saya tinggal di Arab Saudi. Saya terkesan bahwa dia berkeliling dunia dan dia tidak pernah bertemu dengan seorang wanita yang telah dipaksa untuk memakainya. Saya tinggal di Arab Saudi di mana jutaan perempuan dipaksa untuk menutupi wajah mereka. Pilihan apa yang seorang perempuan miliki ketika dikatakan bahwa dia akan terbakar di neraka apabila ia tidak menutup seluruh tubuhnya? Jenis pilihan apa itu? Jadi, tentu saja, dia akan menganut ideologi ini.
Hebah Ahmed: Saya tidak pernah mendengar hal itu. Saya belum pernah mendengar orang mengatakan itu.
Eltahawy: Tapi perempuan yang menganut ideologi ini, yang kemudian dikatakan bahwa ini adalah cara untuk menjadi seorang muslimah yang baik, untuk menjadi dekat dengan Allah, untuk menghindari dari api neraka, apakah benar-benar ada pilihan dalam hal itu? Dan saya percaya ketika Anda memiliki undang-undang seperti ini, Anda tahu, saya bilang saya tidak suka Sarkozy. Saya menganggap dia rasis, tapi saya tidak akan mengorbankan hak-hak perempuan Muslim dalam rangka untuk mengangkat kelompok muslim sayap kanan. Dengan undang-undang seperti itu, seorang perempuan dapat melaporkan suaminya atau kerabat laki-lakinya yang telah memaksa dia untuk berpakaian seperti ini, dengan alasan ‘hukum mengatakan bahwa saya tidak harus berpakaian seperti ini’.
Spitzer: Mona – Mona, mari kita tidak berurusan dengan Arab Saudi, kebiasaan yang berbeda, hukum yang berbeda. Kami memiliki Amendemen Pertama. Saya sedang berbicara tentang Perancis. Saya  sedang berbicara tentang Perancis.
Spitzer: Di Amerika Serikat, kami memiliki Amandemen Pertama yang memberikan hak kepada orang-orang untuk mempraktikkan agama yang mereka inginkan. Tidakkah Anda berpikir bahwa hukum di Amerika Serikat yang akan melarang bentuk pakaian seperti ini akan melanggar Amandemen sila Pertama yang membolehkan setiap indivu menjalankan ajaran agamanya?
Eltahawy: Nah, ini kembali ke agama lagi. Semuanya diperbolehkan hanya karena seseorang mengatakan itu keyakinan agama mereka. Anda tahu, apa yang saya pikirkan -
Spitzer: Tidak, tidak, tidak, Mona – Ini dilarang atau diizinkan sampai ada beberapa kepentingan negara yang menariknya ke sisi lain. Kepentingan besar apa yang akan membenarkan kita dalam melarang jenis pakaian tertentu yang orang pilih sebagai bagian dari ajaran agama mereka?
Eltahawy: Baik, semua alasan telah saya berikan kepada Anda. Tapi saya akan mengulangi. Saya percaya bahwa ini adalah benar-benar berbahaya bagi perempuan Muslim karena ia menjadikan pemakaian niqab ini sebagai ciri kesalehan yang diajarkan kepada seorang Muslimah. Dikatakan bahwa ini adalah jalan yang paling mendekatkan Anda kepada Allah, dan dia kemudian menjadi menghilang . Saya tidak lagi di sini. Anda bahkan tidak tahu siapa saya. Wajah merupakan pusat komunikasi.
Spitzer: Benar.
Eltahawy: Dan bukan hanya itu, objektifitas perempuan. Ini merupakan puncak dari objektifikasi.
Spitzer: Dengar, saya setuju dengan yang Anda katakan, tetapi bukan sebagai masalah hukum. Anda tahu. Hebah, Anda mendapatkan kesempatan terakhir. Anda mendapatkan waktu  yang tidak adil di sini. Berikan yang terbaik dari waktu 15 detik yang Anda punya.
Hebah Ahmed: Terima kasih. Pada dasarnya, saya ingin orang tahu bahwa ketika saya memilih untuk menutup dengan cara ini karena saya berjuang untuk menentang penindasan sistematis terhadap perempuan di mana tubuh perempuan menjadi obyek seksual. Ini adalah perspektif yang berbeda dan bentuk yang berbeda dari pemberdayaan perempuan menurut saya, ketika saya berada di depan umum. Seksualitas saya dalam kendali saya dan orang-orang harus berurusan dengan otak saya dan diri saya yang sebenarnya dan tidak menghakimi saya melalui tubuh saya. Dan jika kita ingin benar-benar berbicara tentang situasi penindasan perempuan, mari kita bicara tentang semua gangguan makan, semua operasi plastik, semua diet yang tidak sehat yang sedang dilakukan, semua atas nama untuk memiliki tubuh yang sempurna. Bagi saya, cara ini (memakai niqab) adalah kebebasan dan pemberdayaan. Mona terus mengatakan saya percaya, saya percaya, saya percaya, baik, kita tidak membuat hukum berdasarkan apa yang Mona percaya atau apa yang seseorang percaya.
Spitzer: Baiklah. Guys, baik – Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keduanya. Hebah Ahmed dan Mona Eltahawy, ini merupakan perdebatan yang penuh semangat dan penting.
- arrahmah.com

Comments