Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Kesabaran Mengabadikan Siluet

Bismillah...

Foto ini saya ambil di Kamboja 2013 yang lalu saat tur fotografi kelompok ke-2. Lokasinya di daerah persawahan yang memiliki banyak pohon aren di sekitarnya.

Idenya adalah menangkap foto siluet anak dengan kerbau, pedati dan suasana langit matahari terbenam. Kebetulan saat berkunjung kedua kalinya, langit cerah dan matahari menampakkan dirinya. Di kunjungan pertama, hari mendung jadi warna langit abu-abu.

Untuk membuat foto semacam ini, kita perlu berada di posisi lebih rendah daripada subjek foto jika tidak maka bentuknya tidak utuh. Jadi saya turun ke persawahan. Agak becek, tapi tidak masalah.

Secara komposisi, saya menempatkan anak dan kerbau di sebelah kiri, karena dia menghadap ke arah kanan. (Lebih tepatnya saya menempatkan diri dan mengarahkan kamera supaya posisi anak & kerbau di sebelah kiri bidang gambar.

Kemudian pedati dan pohon di sebelah kanan. Saya sengaja memasukkan pohon aren dan pedati di dalam bidang gambar supaya mendapat kesan lingkungan tempat saya memotret.
Download Beta
Saya berpindah-pindah mencari sudut supaya pedati dan pohon tidak menabrak/menutup satu sama lainnya. Awan-awan di langit yang berwarna jingga juga saya perhatikan dan saya upayakan untuk menjadi 'leading line' yang menunjuk pada anak (jagoan di foto tersebut).

Untuk setting kamera, saya mengunakan bukaan f/4 supaya anak dan keseluruhan kerbaunya tajam, dan shutter speed 1/500 detik untuk mendapatkan foto yang tajam meskipun kerbau dan anak tersebut bergerak-gerak.

Lensa telefoto saya juga gak ada image stabilizationnya, jadi amannya pakai shutter speed yang lebih cepat untuk mencegah foto blur karena getaran tangan. Jarak fokus lensa yang saya gunakan yaitu 100 mm.

Akibatnya, kamera memilih nilai ISO yang cukup tinggi yaitu 1000 karena kondisi cahaya makin redup. Saya menggunakan mode manual dan auto ISO dimana maximum ISO saya set cukup tinggi yaitu ke ISO 3200.

Tidak masalah, karena rata-rata kamera digital SLR/mirrorless zaman sekarang cukup baik kualitas gambarnya sampai ISO 1600. Lebih baik mendapatkan foto yang tajam daripada noise. Karena noise dapat dilenyapkan melalui software olah digital.

Lensa telefoto mengkompresi ruang sehingga foto tersebut terkesan datar/dua dimensi. Pohon aren dan awan dari kejauhan terlihat lebih dekat dari aslinya.

Foto ini terlihat sederhana, tapi untuk membuatnya diperlukan kesabaran untuk menunggu sampai cahaya dan posenya pas, dan juga perlu mencari titik sudut pandang yang pas supaya elemen-elemen di dalam foto bekerja dengan baik dan terasa harmonis dan seimbang.

oleh: Enche Tjin, dikutip dari detik.com

Comments

BACA JUGA