Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Kesabaran Mengabadikan Siluet

Bismillah...

Foto ini saya ambil di Kamboja 2013 yang lalu saat tur fotografi kelompok ke-2. Lokasinya di daerah persawahan yang memiliki banyak pohon aren di sekitarnya.

Idenya adalah menangkap foto siluet anak dengan kerbau, pedati dan suasana langit matahari terbenam. Kebetulan saat berkunjung kedua kalinya, langit cerah dan matahari menampakkan dirinya. Di kunjungan pertama, hari mendung jadi warna langit abu-abu.

Untuk membuat foto semacam ini, kita perlu berada di posisi lebih rendah daripada subjek foto jika tidak maka bentuknya tidak utuh. Jadi saya turun ke persawahan. Agak becek, tapi tidak masalah.

Secara komposisi, saya menempatkan anak dan kerbau di sebelah kiri, karena dia menghadap ke arah kanan. (Lebih tepatnya saya menempatkan diri dan mengarahkan kamera supaya posisi anak & kerbau di sebelah kiri bidang gambar.

Kemudian pedati dan pohon di sebelah kanan. Saya sengaja memasukkan pohon aren dan pedati di dalam bidang gambar supaya mendapat kesan lingkungan tempat saya memotret.
Download Beta
Saya berpindah-pindah mencari sudut supaya pedati dan pohon tidak menabrak/menutup satu sama lainnya. Awan-awan di langit yang berwarna jingga juga saya perhatikan dan saya upayakan untuk menjadi 'leading line' yang menunjuk pada anak (jagoan di foto tersebut).

Untuk setting kamera, saya mengunakan bukaan f/4 supaya anak dan keseluruhan kerbaunya tajam, dan shutter speed 1/500 detik untuk mendapatkan foto yang tajam meskipun kerbau dan anak tersebut bergerak-gerak.

Lensa telefoto saya juga gak ada image stabilizationnya, jadi amannya pakai shutter speed yang lebih cepat untuk mencegah foto blur karena getaran tangan. Jarak fokus lensa yang saya gunakan yaitu 100 mm.

Akibatnya, kamera memilih nilai ISO yang cukup tinggi yaitu 1000 karena kondisi cahaya makin redup. Saya menggunakan mode manual dan auto ISO dimana maximum ISO saya set cukup tinggi yaitu ke ISO 3200.

Tidak masalah, karena rata-rata kamera digital SLR/mirrorless zaman sekarang cukup baik kualitas gambarnya sampai ISO 1600. Lebih baik mendapatkan foto yang tajam daripada noise. Karena noise dapat dilenyapkan melalui software olah digital.

Lensa telefoto mengkompresi ruang sehingga foto tersebut terkesan datar/dua dimensi. Pohon aren dan awan dari kejauhan terlihat lebih dekat dari aslinya.

Foto ini terlihat sederhana, tapi untuk membuatnya diperlukan kesabaran untuk menunggu sampai cahaya dan posenya pas, dan juga perlu mencari titik sudut pandang yang pas supaya elemen-elemen di dalam foto bekerja dengan baik dan terasa harmonis dan seimbang.

oleh: Enche Tjin, dikutip dari detik.com

Comments