Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut...

Bismillah...

Suatu ketika, Rasulullah Saw. mengajak Abu Bakar, Umar dan Ustman ra. bertamu ke rumah putrinya, Fatimah r.a. Kebetulan Ali pun sedang ada di rumah. Setelah semuanya duduk, Fatimah menghidangkan madu dalam sebuah mangkuk yang cantik. Ketika mangkuk madu itu dihidangkan, sehelai rambut jatuh ke dekat mangkuk tersebut.

Rasulullah saw, lalu meminta kepada semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut: mangkuk yang cantik, madu dan sehelai rambut. Rasulullah saw. meminta Abu Bakar yang mulai berbicara, disusul oleh yang lainnya.

Abu Bakar berkata: "Iman itu lebih cantik daripada mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis daripada madu dan mempertahankan iman lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Umar berkata: "Kerajaan itu lebih cantik daripada mangkuk yang cantik ini. Seorang raja itu lebih manis daripada madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Ustman tak mau kalah, iapun berkata: "Ilmu itu lebih cantik daripada mangkuk yang cantik ini. orang yang menuntut ilmu lebih manis daripada madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Tiba giliran Ali, ia berkata: "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu tamu itu lebih manis daripada madu dan membuat tamu senang sampai kembali ke rumahnya adalah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Rasulullah saw. mengarahkan pandangannya ke arah Fatimah, memintanya membuat perbandingan juga. Maka Fatimah pun berkata: "Seorang wanita itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Wanita yang berhijab itu lebih manis daripada madu dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya, lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Akhirnya Rasulullah bersabda: "Seorang yang mendapat taufik untuk beramal adalah lebih cantik daripada mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan amal yang baik itu lebih manis daripada madu, dan beramal dengan ikhlas adalah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Malaikat Jibril as. berkata: "Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik daripada sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta dan waktu untuk agama lebih manis daripada madu dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Maka Allah Swt berfirman: "Surga-Ku itu lebih cantik daripada mangkuk yang cantik itu. Kemikmatan surga-Ku lebih manis daripada madu, dan menuju surga-Ku lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Comments