Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Iklan Coca-Cola di Super Bowl Tegaskan Ketiadaan Hijabi di Media

Bismillah...


Kurangnya representasi Muslimah berhijab di media Amerika menampar kita dengan kenyataan tentang sikap masyarakat terhadap kaum Muslim, tulis Mariam Sobh.

Super Bowl – kejuaraan sepak bola Amerika – baru saja diadakan.

Kejuaraan tersebut adalah puncak dari seluruh pertandingan sepak bola yang diadakan sepanjang tahun, saat di mana dua tim yang berhasil mencapai final berjuang melawan satu sama lain untuk mendapatkan gelar juara. Yang seringkali dibicarakan pada masa-masa ini adalah iklan-iklan yang ditayangkan di waktu istirahat. Iklan-iklan ini menempati jam tayang termahal di televisi.

Tiap tahunnya, perusahaan penayang iklan semakin kreatif dalam meciptakan iklan yang dapat meninggalkan kesan dan menjadi perbincangan bahkan berhari-hari setelah penayangannya.

Tahun ini, iklan Coca-Cola yang menjadi primadona.

Perusahaan penghasil minuman tersebut menayangkan video yang memperlihatkan keberagaman Amerika Serikat dengan melalui lagu America the Beautiful yang dinyanyikan dalam berbagai bahasa.



Bagian terbaik adalah saat gambar seorang perempuan Muslim berhijab muncul di layar. Hal itu membuat saya membayangkan adanya kemungkinan perempuan Muslim dapat lebih terlihat di TV Amerika nantinya. Bersama pemikiran itu pula muncul kekhawatiran akan reaksi yang ditunjukkan publik.

Dan sayangnya, iklan Coca-Cola memancing banyak komentar negatif. Ada yang merasa bahwa iklan seperti itu memberikan kesempatan kepada “teroris” untuk tampil. Tampaknya orang-orang ini lupa bahwa Amerika dibangun oleh imigran dan tidak ada orang Amerika “yang sebenarnya” selain penduduk asli Amerika.

Saya selalu merasa heran jika mendengar Amerika disebut sebagai negara bebas di mana setiap orang memiliki kebebasan untuk mengamalkan apapun yang mereka percayai, namun selalu saja muncul serangan bila hal tersebut benar-benar dilakukan. Dan hal tersebut biasanya berasal dari orang-orang yang tidak peduli dengan kenyataan bahwa berbagai orang dari berbagai belahan dunia tinggal dan hidup di Amerika.

Selain orang-orang bebal tersebut, ada pula sebagian lain yang, meski terdidik, tetap enggan menerima masuknya hal baru, terlebih jika hal tersebut berkaitan dengan Muslim.

Ada semacam peraturan tak tertulis yang pada dasarnya menempatkan perempuan Muslim berhijab sebagai kaum marginal, terutama di televisi dan film. Hal ini tidak hanya terjadi di perusahaan media mainstream. Sekitar 10 tahun lalu, sekelompok orang ingin membuka stasiun televisi Amerika pertama yang diperuntukkan bagi Muslim.

Saya sangat senang mendengar hal itu, dan merasa bahwa ada tempat bagi saya seorang jurnalis televisi yang baru saja menyelesaikan studi S2. Saya bertemu dengan para perwakilan perusahan tersebut di sebuah acara seminar Islami saat mereka sedang melakukan penggalangan dana untuk stasiun TV tersebut. Saya terus menjaga hubungan baik setelah acara tersebut, serta mengirimkan résumé dan video demo saya kepada mereka.

Mereka tampak antusias dalam memperkerjakan seseorang dengan latar belakang media. Saya melamar ke setiap lowongan yang ada. Sampai akhirnya seseorang dari luar perusahaan memberitahu saya bahwa pendiri stasiun TV tersebut tidak ingin ada perempuan berhijab dalam siaran mereka.

Sakit rasanya. Ada stasiun TV yang menjanjikan kesempatan bagi orang-orang seperti saya, namun tidak menginginkan orang-orang persis seperti saya dalam siaran mereka.

Hal ini aneh, tentu saja. Di negara lain, Anda dapat menemukan perempuan Muslim berhijab melakukan hal-hal besar. Misalnya saja, beberapa waktu lalu di Filipina, seorang perempuan Muslim menjadi pembawa berita pertama yang muncul di televisi nasional dengan berhijab. Ia berbakat dan profesional, dan karenanya ia bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. [i]

Saya berharap semakin banyak perusahaan seperti Coca-Cola yang memperlihatkan dukungan terhadap keragaman yang dimiliki Amerika. Semakin sering kita melihat penerimaan terhadap sesama, semakin mudah mengacuhkan suara-suara negatif yang ada.

Saat ini adalah masa-masa “lihat nanti.”

Beberapa stasiun televisi mungkin akan cukup berani memperkerjakan perempuan Muslim berhijab dalam siaran penting mereka tanpa mengkhawatirkan pendapat orang lain.

Dan beberapa sutradara mungkin akan memperkerjakan perempuan Muslim berhijab sebagai aktris film mereka dan menganggapnya sebagai seorang Amerika biasa yang kebetulan memiliki selera berpakaian yang lebih konservatif.

Bagaimana di tempat Anda? Apakah suara perempuan berhijab terwakilkan di media?

Referensi: plasa msn, hijabtrendz.com

Comments

BACA JUGA