Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Merengkuh Remaja

Bismillah...

ilustrasi
Tak habis-habis rasanya kekagetan demi kekagetan mengguncang perasaan dan alam pikiran kita terhadap fenomena kenakalan remaja. Fenomena penyimpangan yang sebenarnya masih berputar dalam area yang itu-itu saja; kegamangan identitas, unjuk eksistensi dan kemampuan yang salah orientasi, dan penyaluran hasrat seksual  yang tak terbina. Hanya saja rasanya fenomena itu semakin hari, semakin dekat dan semakin lumrah adanya.

Tak sedikit remaja muslim kini yang tak malu bersama-sama goyang oplosan di depan rumahnya, di hadapan ibu dan tetangganya, bahkan mengajak adik balitanya untuk ikut serta bergoyang. Mungkin menganggap biasa, toh di dalam rumah pun acara itu masuk acara favorit keluarga. Dan yang terakhir ini fenomena ‘cabe-cabean’ ‘cs’ geng motor yang mungkin sebenarnya sudah ada sejak lama namun baru terangkat media akhir-akhir ini, dan akhirnya menjadi istilah yang lazim menghiasi status-status facebook remaja muslim pria pun wanita.

Pelumrahan dan hilangnya rasa malu dalam diri mereka ini sepertinya yang harus lebih kita khawatirkan. Identitas diri seperti apa sebenarnya yang ingin para remaja muslim kita tunjukkan, wujud eksistensi dan kemampuan seperti apa sebenarnya yang hendak mereka tampilkan, dan hasrat seksual dengan tingkat yang bagaimana yang ingin mereka penuhi hari ini jika fenomena yang muncul sudah sedemikian vulgar dan menantang? Lantas apa yang harus kita lakukan?

PR Bersama

Download BetaMasyarakat yang peduli, mengajukan protes agar acara Yuk Keep Smile (YKS) –acara yang mempopulerkan goyang oplosan- dihentikan penayangannya. Ini harus disyukuri dan didukung sepenuhnya. Bahkan perjuangan melakukan perubahan pada tingkat kebijakan media massa -yang merupakan sumber kerusakan sosial yang paling dahsyat- masih harus terus bergulir, meski acara YKS berhenti tayang. Karena bukan rahasia kalau media-media sekuler yang tak henti-henti mengimpor dekaden itu memperoleh perlindungan yang baik di negeri ini, di balik baju kebesaran bernama hak asasi dan kebebasan pers.

Namun, agaknya pekerjaan rumah kaum muslimin negeri ini terhadap para remajanya masih terbentang panjang. Setelah media, ada yang paling awal harus dibenahi yakni pola pengasuhan anak di rumah, setelah itu penataan ulang sekolah. Demikian Ustadz Fauzil Adhim menasihati dalam bukunya, Segenggam Iman Anak Kita (Pro-U Media, 2013).

Sebenarnya tak sedikit anak-anak yang tidak perlu mengalami krisis identitas ketika memasuki masa remaja. Mereka masuki dunia remaja dengan orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas, dan nilai-nilai yang kuat. Mereka juga menunjukkan eksistensi dirinya dalam bentuk kemampuan yang dapat diandalkan, kaya gagasan, penuh inovasi, memiliki keberanian yang tinggi dan siap menghadapi kegagalan. Sementara dorongan seksual mereka berkembang menjadi kesiapan bertanggung jawab, penjagaan diri dari kemaksiatan, orientasi memiliki keluarga yang idealis, penghormatan terhadap orang tua, dan pengayoman terhadap yang usianya lebih muda.

Ketiga aspek yang sedang berkembang pada diri remaja ini; identitas diri, unjuk eksistensi dan kemampuan diri, serta dorongan seksual- kualitas dan bentuknya akan sangat tergantung bagaimana mereka dibesarkan, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima, serta nilai-nilai apa yang sering mereka terima dari orangtua, buku-buku, guru-guru, dan lingkungan.

Jika aspek pertama berkembang dengan baik sehingga hal yang menyangkut identitas diri berupa beragam pertanyaan mendasar tentang jati diri, agama, nilai-nilai kehidupan, mereka dapati jawabannya secara memuaskan dan teraplikasi di rumah dengan baik, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang idealis. Tentu peran orangtua dalam menanamkan visi hidup yang kokoh sudah dimulai pada masa jauh sebelum mereka memasuki usia remaja. Orangtua berperan aktif membangun cara berpikir mereka tentang tuhan, bukan hanya dikenalkan dengan aturan-aturan namun tanpa memperoleh pendidikan akidah yang memadai.

Dan untuk aspek yang kedua, jika orangtua dan sekolah secara terencana memiliki penghargaan yang tinggi terhadap usaha yang gigih –bukan nilai yang tinggi tanpa mempedulikan proses-, maka remaja akan cenderung mengembangkan kompetensi, kreativitas, serta kapasitas  mereka untuk mandiri. Sebaliknya, jika lingkungan sekolah justru merupakan tempat pertaruhan gengsi tatkala anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis beserta turunannya berkembang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.

Aspek terakhir yakni dorongan untuk menyukai lawan jenis, pembinaan naluri ini pun sulit jika tidak sejak dini diarahkan dengan benar. Ada nilai-nilai yang sejak kecil sudah harus ditanam oleh orangtua dan guru terhadap mereka. Tentang aurat, tentang rasa malu terhadap lawan jenis, tentang tata pergaulan, tentang peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, dst. Jika ini terbina dengan baik, maka hasrat seksual berkembang menjadi penghormatan diri terhadap lawan jenis, penjagaan diri dari maksiat, cita-cita membangun keluarga yang ideal, menghormati orang tua, dan mengayom yang lebih muda. Wallahua’lam.

(esqiel/muslimahzone.com)

Comments