Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Merengkuh Remaja

Bismillah...

ilustrasi
Tak habis-habis rasanya kekagetan demi kekagetan mengguncang perasaan dan alam pikiran kita terhadap fenomena kenakalan remaja. Fenomena penyimpangan yang sebenarnya masih berputar dalam area yang itu-itu saja; kegamangan identitas, unjuk eksistensi dan kemampuan yang salah orientasi, dan penyaluran hasrat seksual  yang tak terbina. Hanya saja rasanya fenomena itu semakin hari, semakin dekat dan semakin lumrah adanya.

Tak sedikit remaja muslim kini yang tak malu bersama-sama goyang oplosan di depan rumahnya, di hadapan ibu dan tetangganya, bahkan mengajak adik balitanya untuk ikut serta bergoyang. Mungkin menganggap biasa, toh di dalam rumah pun acara itu masuk acara favorit keluarga. Dan yang terakhir ini fenomena ‘cabe-cabean’ ‘cs’ geng motor yang mungkin sebenarnya sudah ada sejak lama namun baru terangkat media akhir-akhir ini, dan akhirnya menjadi istilah yang lazim menghiasi status-status facebook remaja muslim pria pun wanita.

Pelumrahan dan hilangnya rasa malu dalam diri mereka ini sepertinya yang harus lebih kita khawatirkan. Identitas diri seperti apa sebenarnya yang ingin para remaja muslim kita tunjukkan, wujud eksistensi dan kemampuan seperti apa sebenarnya yang hendak mereka tampilkan, dan hasrat seksual dengan tingkat yang bagaimana yang ingin mereka penuhi hari ini jika fenomena yang muncul sudah sedemikian vulgar dan menantang? Lantas apa yang harus kita lakukan?

PR Bersama

Download BetaMasyarakat yang peduli, mengajukan protes agar acara Yuk Keep Smile (YKS) –acara yang mempopulerkan goyang oplosan- dihentikan penayangannya. Ini harus disyukuri dan didukung sepenuhnya. Bahkan perjuangan melakukan perubahan pada tingkat kebijakan media massa -yang merupakan sumber kerusakan sosial yang paling dahsyat- masih harus terus bergulir, meski acara YKS berhenti tayang. Karena bukan rahasia kalau media-media sekuler yang tak henti-henti mengimpor dekaden itu memperoleh perlindungan yang baik di negeri ini, di balik baju kebesaran bernama hak asasi dan kebebasan pers.

Namun, agaknya pekerjaan rumah kaum muslimin negeri ini terhadap para remajanya masih terbentang panjang. Setelah media, ada yang paling awal harus dibenahi yakni pola pengasuhan anak di rumah, setelah itu penataan ulang sekolah. Demikian Ustadz Fauzil Adhim menasihati dalam bukunya, Segenggam Iman Anak Kita (Pro-U Media, 2013).

Sebenarnya tak sedikit anak-anak yang tidak perlu mengalami krisis identitas ketika memasuki masa remaja. Mereka masuki dunia remaja dengan orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas, dan nilai-nilai yang kuat. Mereka juga menunjukkan eksistensi dirinya dalam bentuk kemampuan yang dapat diandalkan, kaya gagasan, penuh inovasi, memiliki keberanian yang tinggi dan siap menghadapi kegagalan. Sementara dorongan seksual mereka berkembang menjadi kesiapan bertanggung jawab, penjagaan diri dari kemaksiatan, orientasi memiliki keluarga yang idealis, penghormatan terhadap orang tua, dan pengayoman terhadap yang usianya lebih muda.

Ketiga aspek yang sedang berkembang pada diri remaja ini; identitas diri, unjuk eksistensi dan kemampuan diri, serta dorongan seksual- kualitas dan bentuknya akan sangat tergantung bagaimana mereka dibesarkan, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima, serta nilai-nilai apa yang sering mereka terima dari orangtua, buku-buku, guru-guru, dan lingkungan.

Jika aspek pertama berkembang dengan baik sehingga hal yang menyangkut identitas diri berupa beragam pertanyaan mendasar tentang jati diri, agama, nilai-nilai kehidupan, mereka dapati jawabannya secara memuaskan dan teraplikasi di rumah dengan baik, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang idealis. Tentu peran orangtua dalam menanamkan visi hidup yang kokoh sudah dimulai pada masa jauh sebelum mereka memasuki usia remaja. Orangtua berperan aktif membangun cara berpikir mereka tentang tuhan, bukan hanya dikenalkan dengan aturan-aturan namun tanpa memperoleh pendidikan akidah yang memadai.

Dan untuk aspek yang kedua, jika orangtua dan sekolah secara terencana memiliki penghargaan yang tinggi terhadap usaha yang gigih –bukan nilai yang tinggi tanpa mempedulikan proses-, maka remaja akan cenderung mengembangkan kompetensi, kreativitas, serta kapasitas  mereka untuk mandiri. Sebaliknya, jika lingkungan sekolah justru merupakan tempat pertaruhan gengsi tatkala anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis beserta turunannya berkembang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.

Aspek terakhir yakni dorongan untuk menyukai lawan jenis, pembinaan naluri ini pun sulit jika tidak sejak dini diarahkan dengan benar. Ada nilai-nilai yang sejak kecil sudah harus ditanam oleh orangtua dan guru terhadap mereka. Tentang aurat, tentang rasa malu terhadap lawan jenis, tentang tata pergaulan, tentang peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, dst. Jika ini terbina dengan baik, maka hasrat seksual berkembang menjadi penghormatan diri terhadap lawan jenis, penjagaan diri dari maksiat, cita-cita membangun keluarga yang ideal, menghormati orang tua, dan mengayom yang lebih muda. Wallahua’lam.

(esqiel/muslimahzone.com)

Comments

BACA JUGA