Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Saya Hanya Muslim, Jangan Ditambahi Label

Bismillah...

Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.

“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”

Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.

“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”

Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.
“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”
Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.
“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”
Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.
Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.
Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?
“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!
Saya adalah Muslim, tanpa label!
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/03/01/saya-hanya-muslim-jadi-jangan-ditambah-dengan-label-label-lain.html#sthash.OhMEzc7g.dpuf
Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.
“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”
Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.
“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”
Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.
Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.
Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?
“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!
Saya adalah Muslim, tanpa label!
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/03/01/saya-hanya-muslim-jadi-jangan-ditambah-dengan-label-label-lain.html#sthash.OhMEzc7g.dpuf
 

Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.

Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.

Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?

“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!

Saya adalah Muslim, tanpa label!

Arrahmah.com

Comments

BACA JUGA