Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Saya Hanya Muslim, Jangan Ditambahi Label

Bismillah...

Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.

“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”

Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.

“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”

Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.
“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”
Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.
“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”
Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.
Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.
Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?
“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!
Saya adalah Muslim, tanpa label!
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/03/01/saya-hanya-muslim-jadi-jangan-ditambah-dengan-label-label-lain.html#sthash.OhMEzc7g.dpuf
Saya sangat tertarik membaca sebuah tulisan yang berjudul “I am just Muslim… so stop trying to adds your labels” yang dipublish pada Selasa (25/2/2014) di The Bristol Post. Tulisan yang tidak menyebutkan nama penulisnya memulai tulisannya dengan kata-kata yang langsung menyengat.
“Saya adalah Muslim. Bukan sekuler, progresif, liberal atau label kontemporer lainnya yang berawalan Muslim. Tapi, karena saya bukan bagian dari mereka, bukan berarti bahwa saya adalah seorang fundamentalis, ekstremis, fanatik atau salah satu label yang dianggap ketinggalan zaman lainnya yang masih berawalan Muslim. Saya hanya Muslim.” Demikian bunyi paragrap pertama tulisannya tersebut.
“Jadi, saya benci dengan munculnya kembali istilah lama ‘Islamist’ – istilah yang digunakan dalam serangkaian upaya untuk mengkotak-kotakkan Muslim.”
Tulisan tersebut menjelaskan bahwa istilah Islamisme pertamakali mucul pada zaman Voltaire ke Perang Dunia Pertama – sebuah istilah yang merujuk kepada Islam. Istilah Ini dianggap sebagai perbaikan terhadap penggunakan istilah sebelumnya yaitu ‘Mohammedanism’. Kaum orientalis lama menjadi malu untuk menggunakannya, akhirnya tunduk kepada istilah yang digunakan umat Islam sendiri: ‘Islamist’. Para orientalis sepertinya tidak memiliki kekhawatiran untuk menggunakannya.
“Mungkin kelompok yang paling vokal menggunakan istilah ini adalah kelompok yang menamakan dirinya “kelompok pemikir kontra-ekstremisme pertama di dunia”, Quilliam. Saya percaya mereka yang kontroversial bukan karena mereka “kontra ekstremisme” tetapi karena ide-ide mereka yang berkaitan dengan cara untuk melakukannya. Misalnya, karena mereka sering dianggap ekstrimis.”
Baru-baru ini, co-founder dari Quilliam, Maajid Nawaaz, mempromosikan strip kartun Nabi Muhammad dan Yesus yang memicu protes dari ummat Islam. Strip kartun tersebut menggambarkan Nabi Muhammad dan Yesus berada di bar minum alkohol, dan mereka berbagi tempat tidur bersama-sama, seakan mengaggap bahwa homoseksualitas atau sesuatu yang baik. Maajid juga mempromosikan gagasannya tentang teori radikalisasi.
Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.
Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.
Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?
“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!
Saya adalah Muslim, tanpa label!
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/03/01/saya-hanya-muslim-jadi-jangan-ditambah-dengan-label-label-lain.html#sthash.OhMEzc7g.dpuf
 

Quilliam, yang mendefinisikan ‘Islamisme’ pada dasarnya ditujukan kepada setiap Muslim yang mendukung gagasan negara Islam. Nama Quilliam itu sendiri diambil dari nama William Quilliam, seorang mualaf Inggris abad ke-19 yang memeluk Islam. Dia adalah pendukung khilafah.

Apakah saya percaya pada hak asasi manusia universal? Ya. Apakah saya percaya pada kesetaraan semua di hadapan hukum? Ya. Apakah saya percaya pada hak masyarakat untuk memilih pemerintah mereka sendiri? Ya. Apakah saya mendorong integrasi? Ya.

Tapi, jika setelah semua itu, saya juga mendukung gagasan tentang Negara Kesatuan Islam, yang diatur oleh prinsip-prinsip yang sama, mengapa kemudian, menurut pandangan Quilliam, saya tiba-tiba dianggap sebagai musuh negara?

“Saya tidak memaksakan iman saya pada orang lain. Jadi, jangan memaksakan definisi-definisi Islam lainnya kepada saya!

Saya adalah Muslim, tanpa label!

Arrahmah.com

Comments