Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

Tak Perlu Malu Jika Tak Tahu

Bismillah...


Suatu hari dalam kegiatan seminar, seorang ibu bertanya, “Ummi, anak saya bertanya tentang sesuatu, tapi saya tidak tau jawabannya, dia maksa saya harus jawab, ummi. Nah, saya harus bilang apa sama dia. Waktu itu untuk mengalihkan saya bilang, ih kenapa sih kamu nanya terus dari tadi, mama capek nih. Baru deh dia berhenti nanya, apa itu gak salah, Mi?”

saya tersenyum, lalu menjawab, “Bunda kasian anak bunda kalau jawaban kita seperti itu, sebaiknya kalau tidak tau, katakan saja sejujurnya, Bunda belum tau hal itu, nanti Bunda tanya dulu ke Bu guru atau ke Pak ustad.”

“Ummi, di badan Aa kan ada yang keras ini namanya apa?” tanya anak saya pertama.

“O, itu namanya tulang, Aa,” jawab saya seraya memegang tulang lengannya.

Kemudian ia bertanya lagi, “Kalau di dalam tulang ada apa, ummi?”

Saya terkejut sekali, tak ayal lagi otak berpikir apa jawabannya. Saya kuatir memberi jawaban yang salah, nanti membuat pemahaman ia pun salah. Akhirnya saya berkata, “Maaf Aa, Ummi harus cari dulu informasinya, jadi belum bisa jawab sekarang.”

“Cari dimana?” ia kembali bertanya.

“Ummi akan cari jawabannya di buku atau bisa juga cari di google”, jawab saya.

“Kapan?” ia terus memberondong saya dengan pertanyaan.

“Insya Allah, nanti malam setelah pekerjaan Ummi selesai, ya,” saya pun menjawab sambil menatapnya untuk meyakinkan. kemudian ia kembali bermain sepeda.

Sebagian orang beranggapan bahwa orang tua atau guru adalah orang yang serba tahu, sehingga seolah-olah menjadi sesuatu hal yang tabu atau hal yang memalukan saat anak maupun murid bertanya hal yang belum kita ketahui atau pernah tahu tapi lupa tidak diinformasikan keadaan yang sebenarnya. Malah untuk menutupi hal itu kadang menjawab semaunya.

Ada juga yang malah menyalahkan anak atau murid. Kenapa nanya yang aneh-aneh atau kenapa nanya yang gak sesuai tema, atau apalah dalih yang lainnya. Terkadang bisa juga memberikan jawaban yang asal. Alasannya, capai ditanya terus ah, asal anak diam dikasih jawaban ngarang juga beres. Padahal anak-anak akan berhenti bertanya kalau orang dewasa di sekitarnya mengatakan hal yang sebenarnya.

Dari ibnu Mas’ud Radiyallahuanhu, dari Nabi SAW, Beliau bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur.dan sesungguhnya dusta itu menunjukan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang pendusta,” (Muttafaq’alaih).

Mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu malu, karena dengan demikian kita sebagai orang tua maupun guru sudah mengalirkan sikap jujur pada anak maupun murid kita. Mari, Abi-Ummi tak perlu malu mengatakan tidak tahu ketika anak-anak itu bertanya! []

Oleh: Widianingsih, M. Ag, islampos.com

Comments

BACA JUGA