Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Detoksifikasi Facebook

Bismillah...


Saat menjalani masa detoksifikasi dari media sosial yang satu ini, Amal Awad mengenang rasa kehidupan nyata. Simak tulisannya yang dikutip dari aquila-style.com

******

"Saya sedang berada dalam masa detoksifikasi ketat. Meski melibatkan pengurangan konsumsi kafein dan gula secara besar-besaran, hal ini juga merupakan jenis pembersihan yang sangat berbeda. Ini merupakan pembersihan mental, yang melibatkan mengurangi waktu online saya dan menggunakan tenaga saya untuk hal yang lebih berguna. Detoksifikasi saya cenderung merupakan acara tahunan dan biasanya terjadi setelah sebuah masa stres.

Facebook menawarkan banyak hal seru. Facebook merupakan sebuah cara berhubungan dengan orang dan seluruh dunia yang (tampak) tidak berbahaya dan sangat aman. Anda dapat tetap mengetahui apa yang orang lain di luar negeri tahu dan memasuki lingkaran pertemanan orang-orang pintar yang membaca lebih banyak. Ya, Facebook bisa menjadi sangat menyenangkan, terutama saat Anda terus terlibat di dalamnya.

Namun, Facebook juga memiliki banyak masalah. Meski tampak seperti pengalihan menyenangkan dari masalah hidup sehari-hari, Facebook sebenarnya merupakan sebuah pengalih perhatian yang sangat mengganggu. Facebook menyebabkan ketergantungan, mendukung Anda menunda-nunda pekerjaan, dan merupakan cara terbaik untuk merasa buruk tentang diri dan hidup Anda.

Bahkan, Facebook tampak seperti versi pembuatan ulang yang buruk dari sebuah cerita bagus – alur cerita dan tokohnya semua berubah, dan Anda jadi bertanya-tanya mengapa karena Anda tidak merasa ada yang salah dengan versi aslinya. Saya mengatakan ini karena hubungan dan berbagai status di Facebook itu tidak  asli.

Ini bukanlah kali pertama saya melakukan deaktivasi dan beristirahat dari dunia tersebut. Saya berharap saya adalah tipe orang yang dapat terus aktif namun tidak terlibat ke dalamnya. Namun, saya bukan tipe itu. Dan untuk alasan yang sama mengapa saya tidak memiliki kartu kredit, sekarang saya tidak memiliki akun pribadi di Facebook. Saya mungkin akan kembali setelah sebulan absen, namun sejujurnya, saya benar-benar berharap tidak melakukannya.

Saya menyadari bahwa saya menggunakan Facebook sebagai pengalih perhatian. Saya dapat menghabiskan bermenit-menit melihat apa yang ada di lini masa saya. Saya akan keluar dari Facebook untuk semenit kemudian, lalu entah bagaimana, memasukinya lagi – kalau-kalau saya melewatkan sesuatu yang terjadi dalam 60 detik terakhir.

Saya tidak melakukannya secara sengaja, namun itulah masalahnya. Hal tersebut menjadi kebiasaan, sebuah cara konsisten untuk mengalihkan perhatian dan membuang waktu untuk menghindari melakukan tugas tidak menyenangkan yang harus saya kerjakan. Produktivitas menurun saat Anda memiliki alat pendukung penunda pekerjaan di genggaman tangan Anda.

Saya tidak akan mengatakan bahwa saya ketagihan – karena saya tidak terobsesi untuk selalu online maupun memiliki gejala pembersihan diri jika tidak dapat membuka Facebook. Sejujurnya, saya bahkan tidak pernah menggunakannya untuk mendokumentasikan kehidupan pribadi saya. Saya tidak rutin memasukkan lokasi keberadaan saya, mengunggah foto makanan penutup saya, atau menulis pesan penuh emotikon di dinding teman. Saya lebih menyukai dunia nyata untuk melakukan hal-hal ini.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Facebook merupakan fasilitas penghisap waktu, dan juga yang membuat saya depresi. Orang-orang yang saya kenal baik bersikap satu hal di dunia nyata, dan bersikap lain di Facebook. Saya menemukan berita tentang pertunangan dan pesta yang saya harap saya ketahui secara langsung, dan bukannya lewat lini masa saya.

Saya merasa mulai melihat hidup saya melalui semacam lensa siber aneh: tidak ada yang terasa menarik atau cukup bagus, meski saya sangat bahagia di dalam ketenangan saya sendiri. Rasanya seperti kembali ke sekolah menengah, namun tanpa kemajuan dan tanpa kelulusan.

Maka saya memutuskan bahwa menggunakan Facebook untuk membagikan artikel dan pengamatan jenaka saya bukanlah alasan yang cukup baik untuk terus menggunakan Facebook. Lagipula, saya memiliki laman penulis untuk hal itu. Jadi saya mendeaktivasi akun saya, menghirup napas dalam, dan menyadari bahwa hidup jauh lebih baik dan seratus kali lebih nyata saat Anda jauh dari narsisisme, kemurkaan, dan kebahagiaan berlebih yang tidak ada habisnya yang ditawarkan oleh pengguna fasilitas Facebook.

Meski saya telah berhasil mendeaktivasi lebih dari sekali, ketergantungan pada media sosial menjadi masalah yang semakin besar. Terdapat sangat banyak laman online yang membahas jenis ketergantungan yang terus meningkat yang diidap oleh pengguna siber: mulai ketergantungan seks siber sampai dorongan semacam permainan atau perjudian online. Bahkan muncul istilah kelebihan informasi – sebuah dorongan untuk melakukan pencarian online. Serius – hal semacam itu benar-benar ada.

Ada sangat banyak penelitian dan laporan mengenai ketergantungan media sosial dan keberadaannya. Meski begitu, menurut sebuah laporan berita ABC di Australia, ketergantungan media sosial telah dimasukkan ke dalam kondisi klinis di Inggris.[i] Saya juga pernah membaca bahwa di AS, klinik rawat inap pertama untuk pecandu internet telah dibuka.[ii]

Hal tersebut memang akan terjadi. Ketergantungan, bagaimana pun, merupakan respon psikologis terhadap hidup – orang dapat mengubah ketergantungan satu dengan ketergantungan lainnya, karena hal tersebut merupakan karakteristik kepribadian, dan bukannya sebuah kebutuhan akan alkohol maupun seks. Inilah mengapa orang terpaku pada berbagai hal berbeda – merokok selalu menjadi alasan utama orang mengunjungi hipnoterapis. Hal ini bisa jadi berguna, namun selalu ada masalah di baliknya yang harus ditangani agar seseorang dapat disembuhkan dari ketergantungannya. Saya yakin, dengan mengesampingkan pengetahuan psikologi, ketergantungan media sosial dan/atau internet bekerja seperti penawar untuk kesengsaraan kehidupan nyata.

Meski saya jago menunda-nunda pekerjaan, saya bukanlah seorang pecandu – namun tidak lantas saya memiliki hubungan yang sehat dengan Facebook. Menggulirkan kursor dan menontoni kehidupan orang lain tanpa sadar dapat menjadi cara yang sangat sia-sia dan negatif untuk menghabiskan waktu. Kehidupan terlihat kabur: setiap orang tersenyum, bahagia dan cemerlang. Sementara, Anda adalah si payah yang berjuang melewatkan hari.

Saya menikmati detoksifikasi Facebook. Saya tidak menjadi terputus dari dunia, namun dengan damai memutuskan hubungan dengan dunia yang sesak, energik, dan terkadang marah bernama media sosial. Jadi inilah janji saya pada diri sendiri: jika saya memang kembali menggunakan Facebook, saya akan melakukan deaktivasi setidaknya sekali setahun dan menjauh dari kerumunan menggila tersebut, bahkan jika hanya untuk mengingat kesederhanaan hidup tanpa keriuhan siber.

Comments