Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Bagaimana Cara Kita Berempati di Tengah Derita Gaza?

Bismillah...


Pemberitaan yang ramai mengenai beragam konflik di dunia Muslim kian menghiasi media sosial dan televisi. Foto korban berdarah-darah dan aksi brutal musuh Islam pun menggugah empati untuk membantu, sekaligus menyulut kemarahan kita. Emosi kita cenderung menguat di antara sedih dan marah. Jika ini berlangsung secara berlebihan, maka dikhawatirkan akan membuat kondisi psikologis kita menjadi tidak seimbang karena mudah dibisiki setan.

Sikap berlebih-lebihan akan mengakibatkan kehancuran sebagaimana disebutkan Nabi saw kepada para sahabatnya. Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”, tiga kali Rasulullah menyebutkan hadits ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka ataupun sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (Diriwayatkan oleh Muslim (2670).

Sementara, dalam ilmu psikologi, ekspos berulang dan berlebihan seseorang terhadap gambar-gambar traumatik pada media dapat mengganggu kesehatan psikologis. Sebagaimana spekulasi hipotesa Roxan Cohen Silver dan Irvine beserta koleganaya dari California University yang menyatakan bahwa ” ekspos terhadap media dapat menciptakan respon stress dan memicu penyakit psikologi,” dalam sebuah kajian kesehatan Mental Health 4 Muslims di sepertiga akhir Ramadhan 1435 H lalu.

Dengan demikian, agar simpatik kita tidak berubah menjadi traumatik, mari kita amalkan 10 tips produktif berikut ini.

1. batasilah waktu menyaksikan tayangan atau gambar media yang mengekspos adegan yang bisa mencetus stress, seperti pembunuhan, tragedi dan hal buruk lainnya. Cukup kita menjadi paham akan informasi yang terjadi di Gaza akibat kekejaman “Israel”, bagikan informasi tersebut agar membuka mata dan hati seluruh dunia

2. jadilah pribadi proaktif, dengan melakukan aksi pemboikotan segala hal yang mendukung “Israel”, protes anti-musuh melalui kreasi sesuai potensi diri, berkorespondensi dengan semua pihak untuk mendukung kegiatan pro-Islam, mendakwahi para penguasa untuk mendukung Islam, mendoakan para korban, memberi donasi, dan lainnya

3. dukung dan tolonglah organisasi yang membela Gaza

4. fokuslah pada keluarga, berilah mereka pemahaman yang shahih tentang sunnatullah “Israel” sebagai musuh Gaza dan ummat Islam sedunia dan tunjukkan kasih sayang yang seharusnya dibagi oleh pribadi Muslim

5. perbanyaklah membaca Qur’an, mentaddaburinya, memahami kajian tafsir-haditsnya, dan amalkan sunnah Rasulullah shallahu’alayhi wasallam dalam kehidupan sehari-hari (terlebih yang terkait dengan cara Rasulullah meredam emosi)

6. alihkanlah emosi ke dalam kegiatan positif, seperti berhobi di akhir pekan atau di hari libur bersama orang-orang terkasih

7. salurkanlah ide dan gagasan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, melalui forum diskusi formal atau obrolan keluarga dan teman, atau mempublikasikannya melalui media pribadi ataupun publik

8. jalan-jalanlah, sediakan waktu untuk menikmati alam bebas, metaddaburi kebesaran Allah subhanahu wata’ala dengan gembira bersama sahabat atau keluarga

9. tenangkanlah badan dan pikiran dengan relaksasi sederhana seperti mengolah nafas, senam, ataupun terapi pijatan

10. berdoalah dengan do’a qunut nazilah atau doa khusus meminta keselamatan muslimin dan muslimat, panjatkan kepada Allah dengan penuh hiba dan merasa sangat membutuhkan.

Semoga dengan amalan ini, kita dapat membantu meringankan derita Gaza, namun tetap optimis gembira menjemput semua taqdir Ilahi, sebagaimana bangsa Palestina bahagia menjemput kesyahidannya. Insyaa Allah. Wallahu’alam bishowab.

Arrahmah.com

Comments