Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Boleh Maksiat, asal....

Bismillah...

Suatu kali, seseorang datang pada Ibrahim bin Ad-ham, lalu terjadilah dialog,

Fulan :“Wahai Abu Ishaq, saya adalah orang yang melampaui batas (suka berbuat dosa), maka berilah saran agar aku bisa terbentengi dan bisa selamat.

Ibrahim: Jika kamu menerima lima syarat, dan mampu memenuhinya, maka tidak mengapa kamu bermaksiat.
Fulan : Apa itu wahai Abu Ishaq?

Ibrahim: Pertama, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan makan dari rejeki-Nya

Fulan : Lantas dari mana aku hendak makan? Sedangkan segala yang ada di permukaan bumi ini semeua adalah rizki dari-Nya?

Ibrahim : Wahai kisanak, apakah pantas kamu makan rejeki-Nya sementara kamu mendurhakai-Nya?

Fulan : Tentu tidak, terus apa syarat yang kedua?

Ibrahim : Jika kamu ingin bermaksiat kepada-Nya, maka jangan pernah tinggal di negeri kekuasaan-Nya

Fulan :Ini lebih berat, lantas di mana saya akan tinggal?

Ibrahim : Wahai kisanak, apakah layak kamu memakan rejeki-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, kemudian kamu mendurhakai-Nya?

Fulan : Memang tidak layak, lalu apa syarat yang ketiga?

Ibrahim : Jika kamu ingin bermaksiat sementara kamu makan rejeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tidak dilihat oleh-Nya, lalu bermaksiatlah di sana!

Fulan : Wahai Ibrahim, mana mungkin…Dia melihat segala tempat yang tersembunyi?

Ibrahim : Wahai kisanak, apakah patut, kamu memakan rejeki-Nya, tinggal di bumi-Nya lalu kamu bermaksiat dalam pengawasan-Nya?

Fulan :memang tidak patut, tolong sebutkan syarat yang keempat

Ibrahim :Jika malakul maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka katakan kepadanya, “tangguhkanlah ajalku hingga aku sempat untuk bertaubat dengan taubat nasuuha dan aku beramal shalih karena Allah!”

Fulan : Tidak mungkin malakul maut mengabulkan permintaanku?

Ibrahim : Wahai kisanak, jika kamu kamu tidak kuasa menunda kematian untuk taubat, dan kamu tahu jika kematian datang tidak akan bisa ditunda, maka bagaimana kamu berharap bisa selamat (dari akibat dosa)?

Fulan : Lantas, apa syarat yang kelima?

Ibrahim : Jika Zabaniyah (malaikat penjaga neraka) mendatangimu pada hari Kiamat untuk membawamu ke neraka, maka janganlah kamu sudi pergi bersamanya!

Fulan : Pasti mereka tidak akan membiarkanku, dan tidak menerima alasanku!

Ibrahim : Jika demikian, bagaimana kamu bisa berharap selamat dari siksa?

Fulan : Cukup..cukup..wahai Ibrahim, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Sejak itu, orang itu serius dengan taubatnya, melazimi ibadah dan menjauhi maksiat, hingga ajal menjemputnya.

(Abu Umar Abdillah, diterjemah bebas dari Kitab at-Tawwaabiin, Ibnu Qudamah)

Comments