Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Menulis, Cikal Bakal Membangun Peradaban

Bismillah...


Rasanya tak salah bila ada ungkapan “peradaban dapat dibangun lewat tulisan”. Sebab, sebuah peradaban sebenarnya dimulai dari langkah yang sederhana yakni aktivitas menulis. Bukankah bangsa Yunani dikenal sebagai salah satu peradaban di dunia karena banyaknya jejak-jejak tulisan yang dihasilkan oleh para cendikiawannya?

Demikian pula dengan peradaban Mesir, Babilonia, Cina hingga Romawi. Mereka diakui sebagai kawasan peradaban dunia. Semua itu juga dari hasil-hasil tulisan para pemikir dan ilmuannya. Dan tak kalah adalah peradaban Islam. Tulisan-tulisan yang mencerahkan dari para ulama’ disetiap bidangnya menjadi saksi sejarah peradaban islam dibangun.

Menulis dan Peradaban


Menulis dan peradaban bak ibu dan anak. Peradaban adalah anak kandung budaya menulis. Dan menulis adalah ibu yang melahirkan peradaban. Atau dengan kata lain, tulisan hanya terdapat dalam peradaban dan peradaban tidak ada tanpa tulisan.

Coba kita tengok, semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung. Mereka telah menghasilkan berbagai karya. Sampai saat ini karya tersebut tetap menjadi rujukan dalam berbagai disiplin keilmuan.

Dulu, dunia islam melesat jauh meninggalkan Eropa. Namun, setelah terjadi perang salib berkepanjangan, terjadi kemunduran peradaban. Salah satu penyebab mendasar adalah karena hilangnya tradisi membaca dan menulis. Padahal tradisi tersebut pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu.

Tradisi yang diwariskan oleh para ulama tidak diteruskan oleh generasi selanjutnya. Akibatnya, terjadi perpindahan tradisi ilmiah ke Barat. Dan kini, tradisi ilmiah seakan telah menjadi trademark-nya orang Barat walaupun secara originalitas berasal dari dunia Islam. Perlu diketahui, konon mereka mengambil Ibn Rusdy sebagai Bapak pengetahuan ilmiah.

Seiring dengan hilangnya tradisi menulis dalam diri umat Islam, peradaban pun berbalik arah. Barat memimpin di depan, dengan kemajuan peradaban yang mereka bangun lewat tulisan. Umat Islam hanya dapat bernostalgia dengan kenangan sejarah.

Pun, sebagian orang ada yang silau dengan gemerlap peradaban Barat dewasa ini sehingga lupa bahwa Islam pernah memilikinya. Padahal, Islam pernah memimpin dengan kemajuan peradaban yang lebih lama.

Tulisan, Mercusuar Peradaban

Tulisan atau buku merupakan prasyarat utama peradaban menggapai kemajuan dan kejayaan. Dari tulisan, akan lahir berbagai pemikiran cerdas nan cemerlang yang mampu membangkitkan semangat membangun peradaban. Tulisan mampu menghadirkan starting point membuka perubahan.

Adalah Daulah Abbasiyah, dianggap The Golden Age peradaban Islam. Sebab, Daulah Abbasiyah-lah yang paling berhasil dalam membangun peradaban. Sebuah dinasti terlama dalam sejarah peradaban Islam –sekitar 5 Abad yang mengantarkan Islam pada puncak kejayaan keilmuan.

Apa rahasia dibalik keberhasilannya? Tidak lain dan tidak bukan, karena begitu gencarnya program penulisan pada masa itu. Mencoba menelisik lebih jauh, perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu meliputi keseluruhan cabang keilmuan. Mulai dari ilmu agama (ilmu tafsir, hadits, ilmu fiqh, ilmu kalam/ teologi Islam), filsafat dan sains (kedokteran, astronomi, matematika, kimia, fisika, dan geografi).

Sebagai contoh, perkembangan ilmu tafsir ditandai dengan terbangunnya tafsir sebagai sebuah disiplin ilmu yang terpisah dari ilmu induknya. Mulai adanya kodifikasi (tadwin) tafsir dalam kitab-kitab tertulis. Juga munculnya dua aliran tafsir melalui pendekatan atsar dan pendekatan ra’yi.

Begitu pula perkembangan ilmu hadits. Hal ini dapat dilihat dari semakin semaraknya gerakan pengumpulan dan penulisan hadits, serta penyeleksian hadits secara ketat. Buku hadits maupun ilmu hadits sudah terbukukan dengan sistematis.

Ttidak kalah dari itu semua adalah perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang sains. Astronomi, matematika, kimia, fisika, geografi, dan kedokteran begitu menonjol.

Pada awalnya, untuk menghasilkan berbagai karya yang mampu menyihir dunia, dimulai dengan penerjemahan buku-buku peradaban kuno. Prosesnya tidak langsung dengan mengarang buku. Melainkan dari kegiatan sederhana yakni menerjemahkan buku.

Sebagai gambaran tentang kegiatan penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab pada zaman Abbasiyah digambarkan oleh Jurji Zaydan. Dalam bukunya ia berkata (terjemah bebas): “Khalifah dan para gubernur mempekerjakan dokter-dokter Yahudi dan Kristen, penerjemah serta penulis terutama dari kalangan Kristen Syiria. Pekerjaan mereka itu memberikan kontribusi yang besar terhadap peradaban Islam dengan cara mempelajari kerja penerjemahan dari Yunani, Persia, Syiria, dan bahasa-bahasa lainnya ke dalam Arab.” (Dinukil dari Jurnalisme Sekolah/Madrasah: 5)

Kegiatan penerjemahan tersebut dilakukan dengan sangat serius. Hal itu dilakukan atas instruksi negara, secara serius, profesional dan terprogram. Program penerjemahan berbagai macam buku ilmu pengetahuan ini diterima sangat baik oleh masyarakat luas, sehingga dengan sukarela dan didorong oleh keyakinan agama, mereka menerima dan menyambutnya secara baik. Oleh karena itu, negara sangat mendorong dan memberikan fasilitas yang besar untuk melakukan program ini.

Tapi, kegiatan penterjemahan tidak berhenti disitu. Para ulama terangsang untuk tidak sekadar menerjemahkan, melainkan juga ada upaya terencana untuk menelaah, bereksperimen, dan mengabadikannya dalam karya tulis baru.

Lalu hasilnya? Hasilnya adalah lahirnya peradaban yang sangat maju. Kala itu, peradaban Islam adalah yang paling maju. Salah satu kontribusi peradaban Islam yang tidak ternilai yaitu dalam dunia kedokteran. Di era keemasannya, peradaban Islam telah melahirkan sederet dokter terkemuka yang telah meletakkan dasar-dasar kedokteran modern. Semua hasil penelitian yang mereka lakukan direkam lewat kegiatan menulis.

Sebut saja, Zakariyya Ar-Razi. Ia adalah guru dari Ibnu Sina. Dia dianggap sebagai salah satu dokter terbesar dalam budaya Islam dan juga salah satu pendiri kimia modern. Meskipun beberapa ilmuan Barat mengakui bahwa ar-Razi merupakan penggagas ilmu kimia modern, tetapi namanya lebih banyak disangkutkan dengan dunia kedokteran.

Selama hidupnya ar-Razi mengarang buku ilmiah yang jumlahnya tak kurang dari 200 buah. Setelah perang salib, raja-raja Eropa saat itu memerintahkan agar buku-buku karangan ar-Razi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin -bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa waktu itu-.

Buku karangannya dan karangan Ibnu Sina lah yang selalu digunakan sebagai dasar kuliah tentang kedokteran di universitas Eropa hingga abad ke-16. Karenanya, tak salah bila dunia Islam pernah tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki rumah sakit yang dikelola secara profesional.

Sekarang pun, tulisan tetap menjadi tolok ukur majunya peradaban suatu bangsa. Di negara maju yang budaya bacanya tinggi, Amerika Serikat contohnya, setiap tahun setidaknya diterbitkan 75.000 judul buku. Di negara berkembang seperti India -yang menduduki peringkat ketiga dunia dalam hal penghasil buku-, jumlahnya mencapai  60.000 judul buku terbit setiap tahun.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Memprihatinkan. Meski sama dengan India sebagai negara berkembang, jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia per tahun jauh lebih sedikit, yakni 7.000 judul. (www.antaranews.com/buku-diterbitkan-di-indonesia-masih-sedikit-164550881.html)

Tak mengherankan, bila Barat lebih maju. Tulisan yang mereka hasilkan lebih banyak. Dalam bentuk apapun itu, tulisan akan senantiasa menjadi mercusuar peradaban.

 Membumikan Tradisi Menulis

Lantas bagaimana menanamkan tradisi menulis? Menjamurnya sekolah islam dewasa ini, tentu menjadi kabar gembira. Sekolah bertebaran dimana-mana. Mulai dari Sekolah Dasar, Menengah, Atas, dan juga Pondok pesantren dengan segala tingkat. Setidaknya, saat inilah waktu yang tepat untuk kembali membangun peradaban islam.

Tentunya hal itu harus dibarengi dengan usaha dari pengelola sekolah untuk berusaha untuk menanamkan tradisi menulis. Bagaimana setiap sekolah dapat mengakomodir bakat-bakat menulis yang dimiliki oleh anak didik. Sampai pada akhirnya nanti, lahir penulis-penulis ulung dan memiliki pemahaman lurus yang dapat menyebarkan Islam lewat tulisan dan dapat diterima khalayak ramai.

Jangan biarkan bakat mereka hanya mengalir begitu saja. Sebab, lembaga pendidikan merupakan tempat yang paling kondusif untuk menanamkan tradisi menulis. Untuk memulai memang cukup sulit. Terlebih ketika para pendidik kurang terbiasa dalam kegiatan tulis-menulis. Tapi hal itu juga bukan hal yang mustahil.

Perlu adanya gerakan membumikan menulis sejak dini secara masif. Seandainya semua serentak untuk bergerak, tentu kita akan dapat memanen hasilnya suatu saat nanti. Semua kembali kepada Kita. Kalau tidak sekarang Kita mulai, kapan lagi. Kalau bukan Kita yang memulai, siapa lagi.  (Firmansyah/anwar/annajah)

Comments