Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Ayah Bukan Hanya Tempat Bersandar

Bismillah...


Betapa pentingnya peran seorang ayah bagi anaknya. Sosok laki-laki pertama yang akan menjadi figur bagi perkembangan anak. Ayah lah yang akan menjadi imam bagi anak dalam meniti jejak langkah kehidupannya. Langkah yang seorang ayah ambil akan sangat berarti dalam menentukan bagaimana kehidupan anak di kemudian hari.

Maka simaklah dialog inspiratif berikut yang insya Allah dapat menggambarkan bagaimana peran seorang ayah bagi anaknya:


Anak : “Ayah, Ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tidak akan menggigit anaknya. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?”

Ayah: “Tidak, Nak…tetapi ayah akan mengusir nyamuk sepanjang malam supaya tidak menggigit siapapun!”

Anak: “Oya Ayah, aku pernah membaca cerita tentang seorang Ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan sampai kenyang. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?”

Ayah: “Tidak, Nak.. Ayah akan bekerja sekuat tenaga supaya kita semua bisa makan dengan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan makanan karena merasa tidak tega melihat Ayahmu sedang menahan lapar!”

Sang Anakpun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan Ayahnya…

Anak: “Kalau begitu, aku boleh selalu menyandarkan diriku kepada Ayah, ya?”

Sambil memeluk sang anak….

Ayah:”Tidak, Nak…Ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, supaya engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat Ayah harus pergi meninggalkanmu”

Ayah yang bijak bukan hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga berhasil bisa membuat sandaran itu tidak diperlukan…

Ditulis oleh Prof. Joni Hermana, Alumni TP ITB, baru saja terpilih sbg Rektor ITS (muslimahzone)

Comments