Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Maka Menulislah...

Bismillah...


Mengapa kita harus menulis ?

Dalam kerucut pembelajaran (the cone of learning), aktivitas membaca hanya mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 10%. Aktivitas mendengarkan hanya mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 20%. Aktivitas menyaksikan hanya mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 30%. Aktivitas menyaksikan ditambah mendengarkan seperti ketika Anda mengikuti pelatihan-pelatihan hanya mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 50%. Aktivitas mengungkapkan atau mengatakan kembali hanya mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 70%. Dan aktivitas yang bukan hanya mengatakan kembali apa yang telah kita pelajari namun juga melakukannya atau melakukan tindakan akan mampu kita ingat dan masuk dalam memori jangka panjang sekitar 90%.

Lalu di manakah letak menulis ?

Menulis termasuk dalam aktivitas "Say and Do" (mengatakan kembali dan melakukan). Itulah mengapa orang-orang yang memiliki kebiasaan menulis lebih mampu mencerap ilmu dan pengetahuan lebih baik dibandingkan sekedar membaca atau mendengarkan.

Mengapa bisa demikian ?

Ketika kita menulis, sesungguhnya kita tengah membaca, membaca tulisan kita sendiri. Ketika kita menulis, sesungguhnya kita tengah mengungkapkan atau berkata-kata. Ketika kita menulis, sesungguhnya kita tengah mendengarkan. Dan ketika kita menulis, sesungguhnya kita tengah melakukan atau bertindak atau bergerak.

Jadi, sesungguhnya aktivitas menulis melibatkan tiga metode pembelajaran sekaligus, yaitu visual, audio dan kinestetik.

Bukan hanya itu, ketika kita menulis, kita tengah melibatkan dan mengoptimalkan tiga aspek dalam diri kita sekaligus, yaitu aspek kognitif/intelektual, aspek afektif/emosional dan aspek psikomotorik.

Dalam bahasa lain, ketika kita menulis, kita bukan hanya mengaktifkan alam sadar kita melainkan juga alam bawah sadar kita.

Inilah mengapa menulis mempunyai dampak yang luar biasa bagi kesuksesan seseorang.

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Business University menunjukkan bahwa orang-orang sukses adalah orang-orang yang mempunyai kebiasaan menulis, setidak-tidaknya membuat dream book.

Jadi, menulis bukan hanya akan meningkatkan kecerdasan intelektual kita, melainkan juga kecerdasan emosional kita yang merupakan kunci utama dari kesuksesan dan kebahagiaan seseorang.

Namun demikian, menulis sendiri ada hal-hal yang harus diperhatikan supaya hasilnya akan jauh lebih optimal. Disipilin ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai tulisan tangan ini disebut grafologi.

(primagraphology.blogspot.com)

Comments