Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Buraq, Antara Mitos dan Propaganda

Bismillah...

 

Di akhir bulan Rajab, kisah tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi pun sangat populer. Baik yang disampaikan melalui khutbah, pengajian maupun lembaran-lembaran buletin. Banyak versi cerita disuguhkan, termasuk Buraq yang dikendarai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat peristiwa bersejarah tersebut.
Yang paling kondang di masyarakat kita, Buraq digambarkan sebagai kuda putih dengan dua sayap dan kepalanya berwujud wanita yang sangat cantik. Entah dari mana sumber penggambaran ini berasal. Lukisan makhluk dengan ciri itu juga acap kita dapatkan, dan biasanya dijuduli dengan “BURAQ”.

Visualisasi tak berhenti pada cerita, tulisan atau lukisan, bahkan dalam bentuk patung, boneka atau kostum yang dirangkai dengan upacara adat atau peringatan-peringatan yang tidak ada contoh dari teladan dan uswah kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti di Sumatera Barat, tepatnya di Pariaman, mengenal istilah “Tabuik”. Tradisi yang diadakan di awal Muharam itu selalu menyertakan simbol Buraq berupa patung dari kayu dan rotan. Bentuknya seperti kuda besar, bersayap lebar dan berkepala wanita cantik. Saking kreatifnya, pernah pula replika kuda itu diberi jilbab.

Di Brebes (Jawa Tengah), tarian tiga ‘buroq’ berbentuk kuda terbang dengan berkepala seorang wanita cantik, diiringi musik rebana dan lantunan sholawat ketika menyambut even-even penting.
Pertanyaannya, dari mana penggambaran Buraq itu didapatkan?

Riwayat yang shahih, menyebutkan ciri Buraq yang dikendarai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Kemudian didatangkan untukku suatu binatang berwarna putih yang bernama Buraq, lebih besar dari keledai, tapi lebih kecil dari bighal. Satu langkah perjalanannya sejauh mata memandang, lalu aku dinaikkan di atasnya…” (HR. Muslim)

Dalam hadits Bukhari dan juga yang lain tidak disebutkan bahwa kepala Buraq berupa wanita cantik. Lalu siapa yang mengada-adakan hal ini?

Perlu diwaspadai, bisa jadi itu merupakan propaganda menyesatkan dari musuh-musuh Islam yang hendak menghina dan melakukan pelecehan terhadap Nabi dalam bentuk kiasan. Beliau digambarkan sebagai orang yang hobi terhadap wanita, sehingga tunggangannya berupa kuda yang berkepala wanita. Na’udzubillah.

Pelecehan dengan modus simbol-simbol seperti itu menjadi khasnya orang-orang Yahudi dan orang-orang yang membenci Islam. Seperti kasus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam digambarkan dalam bentuk ayam jantan yang dikelilingi 9 ayam betina, juga karikatur-karikatur menyesatkan yang belakangan marak terjadi. Jadi, alangkah naifnya jika orang Islam mengikuti penggambaran Buraq dengan versi mereka, karena ini berarti melecehkan Nabinya dengan penuh semangat dan senang hati. Wallahul muwaffiq.

Sumber: Majalah ar-risalah no. 98/vol.IX/2 Sya’ban-Ramadhan 1430 H / 2009, hal. 36. Penulis: Abu Umar Abdillah

Comments