Skip to main content

Featured

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)

Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku d…

Muslim Hebat | Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

Bismillah...

"Menjadi manusia sempurna memang tidak mungkin. Tapi menjadi manusia yang mampu menjadi rujukan manusia di zamannya dan generasi setelahnya tidaklah mustahil. Bukan untuk keren-kerenan, namun demi teraihnya nilai plus di sisi Allah. Sejarah Islam demikian kaya akan lembaran-lembaran yang mencatat manusia hebat yang menjadi rujukan kebaikan bagi orang-orang setelahnya."


Itulah salah satu penggalan kalimat yang ada di pengantar buku berjudul Muslim Hebat karya Abu Umar Abdillah tersebut. Abu Umar Abdillah adalah salah satu penulis favorit saya. Bahasa beliau yang beraroma khas "tazkiyatun nafs" di setiap tulisan maupun artikel yang beliau tulis selalu menyentuh hati. Buku beliau yang bertama kali saya baca adalah "Dukun Hitam, Dukun Putih", sewaktu di bangku SMP dulu. Saya tidak mengerti mengapa waktu itu saya berhasrat untuk "melahap" buku tersebut, sebagai bukti bahwa gaya penulisan beliau memang tidak memberatkan dan cocok untuk semua kalangan. Selanjutnya saya mengenal beliau melalui rubrik-rubrik di majalah ar-risalah yang kebetulan beliau menjadi pimpinan redaksinya. Saya benar-benar menikmati tulisan beliau, dan qadarullah saya semakin kenal dengan beliau setelah menjadi teman facebook pribadi beliau di tahun 2010 lalu. Tahun ini muncul karya baru beliau yang sangat menginspirasi saya... Muslim Hebat. This book has changed me!

Buku Muslim Hebat ini adalah salah satu buku islamic-motivation yang diterbitkan oleh Majalah Arrisalah. Buku ini merupakan kumpulan dari artikel dari majalah arrisalah dengan tema syakhsiyah. Buku ini sudah menjadi 'best seller' di cetakan keduanya. Berikut sinopsisnya.

* * *

Motto salah alamat sering dijadikan alasan. “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa bagai mengukir di atas air.” Ia pun merasa sia-sia untuk belajar. Sesekali mendengarkan motto, “Barangsiapa tidak menanam benih (di usia muda) tak akan menuai hasil panen (di usia tua). Kemudian ia merasa sudah tua dan terlambat untuk mencoba. Mengapa tidak kita ambil motto lain yang lebih cocok dengan usia kita dan lebih memotivasi diri? Seperti perkataan Ahnaf bin Qais untuk mengimbangi motto yang pertama, “Wal kabiiru aktsaru ‘aqlan”, tetapi orang tua lebih banyak akal. Orang tua memilki kreativitas untuk mengembangkan potensi. Mereka punya banyak cara yang bisa dicoba, tidak sebagaimana anak kecil yang hanya bisa berbuat sesuai dengan apa yang dicontohkan kepadanya. Kenapa pula kita tidak menggunakan motto, “Jangan katakan kesempatan telah berlalu, karena siapa berusaha niscaya sampailah ia ke tempat yang dituju.” Bukankah seandainya kiamat tinggal sehari, lalu di tangan kita ada biji yang siap kita tanam, kita diperintahkan untuk menanamnya? Ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang kita usahakan tidaklah sia-sia.”

"Tidak ada alasan bagi yang masih muda, yang merasa tua, yang kaya, yang merasa miskin, yang sibuk, yang merasa tidak punya potensi, untuk belajar dan meningkatkan kemampuannya. Bagaimana atsar para ulama salaf pendahulu kita dalam meraih karya besar dan menjadi muslim yang hebat?"

Selamat membaca!

Comments