Skip to main content

Featured

Metode Mutqin (Kuat) Hafalan Al-Qur'an Bagi Orang Yang “Sibuk”

Bismillah...Disarikan dari perbincangan via telepon antara penulis dengan Al Ustadz Al Fadhil Abdur Rahman Fadholi -Hafizhahullahu ta’alaa- tanggal 9 Sya’ban 1438 H.  Postingan ini agak panjang.  Jadi sebaiknya di simpan terlebih dahulu apabila memiliki ketertarikan untuk menyimak isinya.Beliau Al Ustadz adalah Juara MHQ Asia-Pasifik kelas 10 Juz 2017 yang baru selesai dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia.  Murid Syaikh Abdul Karim Al Jazayri -Hafizhahullahu ta’alaa-, dan Pembina Ma’had Ibnu Katsir di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.
------------------------------------------------------------------
Pertanyaan yang penulis ajukan adalah, “Bagaimana metode muroja’ah (mengulang hafalan) dan menambah hafalan Alqur’an bagi seseorang yang sibuk?” Kemudian beliau menanyakan kondisi penulis saat ini.  Setidaknya ada tiga hal yang beliau ingin ketahui, yaitu:- Kondisi kesibukan saat ini
- Jumlah hafalan yang pernah di hafal
- Jumlah hafalan yang sudah mutqin (menempel kuat)Pertam…

I want to be like Him (Aku Ingin Seperti Dia)


Bismillah... Pada suatu hari, Aku terkena musibah. Ketika itu di sekolah, Adzan Dzuhur telah berkumandang, dan Aku yang saat itu berlarian bersama temanku menuju masjid tiba-tiba terpeleset ke kali kecil area sekolah karena tidak hati-hati. Aku mengalami cedera serius di bagian telinga dan harus dijahit. Aku pun dibawa ke rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit, Aku kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Ternyata siang itu pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) sudah dimulai, dan yang mengajar adalah seorang Ustadz lulusan Pondok Tahfizh. Sayang sekali, Aku tidak bisa mengikuti pertemuan pertama tersebut, karena Aku harus pulang.

Beberapa hari kemudian, luka jahitanku mulai pulih. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Hari itu adalah hari Ahad, Aku membuat janji dengan seorang temanku untuk berkunjung ke pondok Tahfidz kediaman ustadz pengajar BTA-ku. Di sana, kami diajak mengelilingi komplek pondok, bermain bola, nonton film islami, dan bahkan kami diajari memanah. Aku dan temanku sangat menikmatinya.

Menjelang sore hari, Aku dan temanku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Aku membuka tasku, ternyata ada sebuah buku baru yang diberi Ustadzku. Buku tersebut berjudul ‘Kecil-kecil jadi Hafidz.’

Setelah kubuka dan kubaca, ternyata buku tersebut berisi kaedah menghafal Al-Qur’an. Aku menjadi terdorong untuk menjadi seorang Penghafal Al-Qur’an seperti ustadzku. Dan keesokan harinya, Aku bersyukur karena Aku bisa menghafal surat An-naba’ dalam waktu singkat. Masyaallah!

Di sekolah, Aku pergi menemui ustadzku di Masjid untuk setoran hafalan. Aku berfikir, dalam waktu singkat saja Aku bisa menghafal 1 surat, bagaimana kalau dalam waktu 1 bulan?

Dan waktu berlanjut, Aku ingin menghafal juz 30. Akhirnya Aku berhasil menyetorkan beberapa surat panjang yang ada di Juz 30, dan kini masih dalam proses penyelesaian. Aku sangat bersyukur, Aku bisa begini karena ada seseorang yang memotivasiku untuk menghafal Al-Qur’an. Itu adalah ustadzku, beliau kuanggap sebagai kakakku sendiri, dialah yang telah menyemangatiku setiap hari.

Dan Aku sangat sayang kepada ustadzku itu.

(True Story from my lovely student: Naufan. Keep being a good boy)

Comments

BACA JUGA