Catatanku #1: Kelabu


Bismillah...

Pernah membaca quote ini?

‘I don't believe in grey. I believe in black or white. I appreciate those people who makes clear statement either yes or no. I literally hate those who choose third option in between and set the things unclarified.’

Artinya kurang lebih, ‘Saya tidak percaya pada yang abu-abu, saya percaya pada hitam atau putih. Saya salut pada orang yang jelas prinsipnya, iya atau tidak. Saya tidak suka pada orang yang mengambil opsi ketiga yang membuat segalanya tidak jelas.’

Pernah berfikir dari mana kata ‘mengelabui’ berasal? Menurut KBBI arti mengelabui adalah menyesatkan pandangan; menipu. Dan asalnya adalah dari kata ‘kelabu’. Norma yang kerap diaminkan oleh budaya kita adalah ‘stop mengatakan terus terang karena berbahaya bagi posisi kita. Menurut Hamka dalam bukunya yang berjudul “Bohong di Dunia”, salah satu sifat buruk orang Indonesia adalah suka berpura-pura. Tidak berani mengambil resiko atas kebenaran, gagal berprinsip. Maka orang yang tidak berani berkata jujur, demi membuat orang lain senang, sejatinya sedang mengelabui dengan bersikap abu-abu. Banyak basa-basi, tetapi di belakang banyak beropini.

Itulah mengapa Allah menyandingkan kata shiddiqin dalam Ayat Al-Quran dengan barisan orang mulia: para Nabi, syuhadaa’ dan orang shalih. Karena jadi shiddiq memang berat, jadi orang yang berpegang teguh dengan kebenaran punya resiko besar: dibenci. Ulama mengartikan sifat shiddiq ini dengan beberapa definisi, antara lain ‘kesesuaian dzahir dengan bathin, karena orang yang dusta adalah mereka yang dzahirnya lebih baik dari bathinnya.’, atau ‘Ungkapan yang haq dalam posisi yang membinasakan.’ dan ‘Perkataan yang haq pada orang yang ditakuti dan diharapkan.’

Orang Islam yang bersifat abu-abu disebut munafiq; kelak akan menjadi abu.

Ada ungkapan keren dari seorang ulama, bahwa ada berapa hal di dunia ini yang tidak akan bertahan lama, salah satunya disebutkan oleh ulama tersebut adalah naungan awan mendung. Orang yang suka dusta dan menyembunyikan kebenaran diumpamakan seperti orang yang bernaung dari sinar matahari di bawah bayangan awan kelabu. Suatu saat awan itu pasti berarak pergi, entah karena tiupan angin atau menjadi hujan. Nah, kita mau berlindung dimana? Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat abu-abu.

0 comentários:

Post a Comment

Isi formulir ini...