Catatanku #2: Escaping from Social Media

brandinside.asia

Banyak jalan menuju Roma, tapi jalan untuk menghubungi saya saat ini cuma tiga: langsung empat mata, email dan WhatsApp. Sosial media sudah mulai saya kikis penggunaannya (bedakan sosial media sama aplikasi Chat). Saya tidak bilang sosmed seperti facebook, twitter atau instagram tidak bermanfaat, bagi sebagian teman saya platform-platform tadi sangat berguna buat jualan, dakwah dsb. Saya mengenal facebook twitter sejak SMP, kemudian pas lulus SMA instagram lahir ke dunia. Udah banyak menulis kisah, dari berbagi kebahagiaan, sampai saling sindir teman lewat postingan 😁. Rasanya udah perlu istirahat, bagi saya pribadi sosmed itu memberi efek buruk: ngabisin waktu. Yah, tergantung pengguna.

Waktu di usia SMA saya pernah menulis status di facebook. Statusnya klasik dan sangat klise. Sebuah kutipan familiar bagi siapapun yang hidup di zaman itu, biasanya ditulis sama mereka yang lagi dirundung kekecewaan. Kalau dibaca sama anak keqinian mungkin terdengar alay. Nasib baik di zaman batu dulu ga ada diksi perundungan separah zaman paket data saat ini. Hm.

Saya yakin semuanya pasti tau, yang ga tau masa sekolah nya dipastikan hambar. Bunyi kutipan itu adalah, “Mencintai orang yang tidak mencintaimu adalah suatu kebodohan.”  Sebuah ujaran normatif dari orang payah yang patah hati πŸ₯΄

Waktu itu masa-masa kejayaan bagi anak remaja nerd seperti saya. Facebook adalah mulut kedua, atau bahkan bisa disebut kunci utama hati karena di masa itu apa yang gagal diungkapkan di lisan biasanya dijadikan postingan.

Tapi semua berbeda sejak para orangtua sudah mulai buka akun facebook. Saya ingat sekali waktu salah satu paman saya menelepon ayah saya, karena pasal alamat tempat tinggal facebook saya menggunakan Qandahar, Afghanistan. Setelah itu ayah saya langsung suruh ganti, karena info itu dianggap serius oleh beberapa oknum. Pengalaman yang menggelikan sekaligus mendebarkan. πŸ˜†

Kembali ke pembahasan, tadi sampai mana? Oh iya, orang tua sudah bikin akun facebook. Begitu juga ayah saya, beliau tidak ketinggalan. Ayah saya bikin akun facebook dan punya banyak kenalan dari berbagai belahan dunia. Paling banyak dari India, saya berfikir kalau saya bisa bahasa Inggris saya mungkin mainnya seluas ayah saya. Tapi dengan keberadaan ayah saya di facebook, saya merasa insecure karena otomatis ayah saya akan mengecek postingan saya, melihat status galau saya, argh, saya merasa terlalu dikontrol. Pernah tanpa sepengetahuan ayah saya, saya membuka pengaturan akun facebook beliau di laptop mengatur supaya postingan saya tidak dilihat di feed. Masa remaja memang penuh gengsi πŸ˜‚

Tapi kemudian saya atur kembali seperti semula. Ayah saya tidak pernah tahu mengenai hal ini 😁.

Setelah saya mempost status kutipan galau tentang mencintai tadi, akhirnya dilihat oleh ayah saya. Itu mungkin status pertama yang dibaca beliau. 😬 Lalu ayah saya pun menulis komentar: ‘Tapi membenci orang yang tidak membencimu adalah hal yang keterlaluan.’

Waktu membuka notifikasi yang masuk, saya membaca komen itu sambil nelen ludah. Saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.

Saya tercekat. Mungkin selama ini saya salah. Semua anak remaja pasti pernah mengalami masa ego berlebih, rasa tidak suka diatur oleh orang dewasa, termasuk orang tua. Maka membaca komen ayah saya tadi, seakan-akan seperti mendengar closing statement atas semua pertautan batin antara kami. Saya menyerah pasrah, mau balas dengan yang lebih bijak tidak bisa. Kalah telak. πŸ˜†

Tapi kejadian ini memberi wawasan baru bagi kehidupan saya setelahnya. Saya mengartikan, kebutuhan dicintai oleh seseorang akan muncul secara alami, tetapi terkadang manusia terlalu egois dengan memaksakan kehendak.

Dalam mencintai akan ada masa di mana kita merasa perasaan kita tidak berbalas. Lalu muncul kekecewaan, berakhir pada rasa menyerah, dan muaranya adalah kutipan tadi: mencintai orang yang mencintai kamu adalah sebuah kebodohan.

Iya memang benar, kebodohan banget. Tapi benar yang dikatakan ayah saya waktu itu, walaupun kita tidak dicintai, bukan berarti kita dibenci lalu kita berubah membenci. Cinta itu perasaan spesifik, datang dari akumulasi banyak kekaguman. Dan orang yang tidak mencintai kita bukan berarti tidak suka kita. Sebuah kekonyolan kalau kita berkesimpulan seperti itu.

Kesimpulan dari status panjang ini adalah, ada sebuah moral penting yang jarang disadari oleh setiap orang. Ketika mereka menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka tidak dicintai seseorang, mereka bereaksi dengan membenci. Padahal orang tidak berdosa kalau tidak mencintai kita. Just because people don't love you, doesn't mean they're hating you. Kita tidak perlu bersikap buruk padanya, mencelanya, membeberkan kejelekannya, seolah-olah mereka telah melakukan kejahatan yang luar biasa, padahal faktanya mereka tidak membenci kita.

Well said, dont be a fool. Dan kita harus bijak dalam beremosi πŸ˜„πŸ’‘

0 comentΓ‘rios:

Post a Comment

Isi formulir ini...