Bismillah...
Ketaqwaan memang tidak bisa diwarisi dari orangtua atau guru yang shalih. Butuh proses untuk memahamkan anak terhadap konsep Aqidah, baik keimanan atau ketaqwaan di usia dini. Tidak sesederhana perintah lalu larang, contohkan, kemudian hukum dan memberi hadiah. Itu karena setiap anak punya cara berbeda dalam belajar dan menganalisa hal baru. Butuh proses lama supaya anak sadar bahwa Allah always watching, bahwa Allah selalu mengawasi, sehingga anak harus mengamalkan nilai-nilai kejujuran bahkan saat mereka sendiri.
Peran penting orangtua dan guru adalah bekerja sama dalam proses tersebut. Kesabaran dan ketekunan tentu dibutuhkan. Materi yang kita sampaikan kadang sudah dipahami anak, tetapi menghadapi ke tidak mampuan mereka mengamalkan hal tersebut perlu metode tarik ulur.
Persis seperti menaikkan layang-layang. Mari kita ibaratkan anak seperti layang-layang, tiupan angin adalah emosi dan motivasi mereka, benang adalah nilai kebaikan yang kita ajarkan, dan langit adalah tujuan pendidikan yang kita lakukan.
Supaya berhasil mengudara mula-mula kita harus mengecek arah angin bertiup. Bila tiupan angin tidak ada, kita perlu bantuan teman untuk memegang bagian ekor layang-layang. Bila tiupan agak kencang kita bisa menarik benang sendiri sambil berlari melawan angin sampai layang-layang meluncur ke atas. Supaya layang-layang makin tinggi, kita harus mengulur benang, lalu kemudian ditarik. Ulur tarik ulur tarik itulah pekerjaan yang harus kita lakukan sampai layang-layang mengangkasa.
Tarik ulur yang kita lakukan harus mengacu pada arah angin bertiup, bagaimana kondisi emosi anak, stabil atau tidak? Lalu apakah motivasi mereka sudah cukup kuat? Jangan sampai mengulur benang terlalu banyak apalagi ketika angin tidak ada, karena sia-sia. Tarikan akan mengendur dan layang-layang akan jatuh. Jangan memberikan ceramah banyak ketika mereka sedang tidak siap mendengar, capek, atau ketika mereka sedang marah. Percuma, bisa membuat mereka down. Resiko menerbangkan layangan sangat banyak. Tersangkut, putus, diadu dengan layang-layang kain, jebol dsb. Kita bisa saja menganalogikan hal-hal itu dengan tantangan pendidikan. Semuanya adalah bahaya yang harus kita hadapi dengan sabar. Tetapi ada yang lebih bahaya dari itu.
Yang lebih bahaya adalah membiarkan layang-layang bertiup tanpa tuan, tanpa haluan. Untuk urusan terbang atau putus tidaknya, seakan-akan bukan perkara penting lagi.
Banyak orang tua saat ini yang memperlakukan anak mereka seperti itu. Anak diberikan fasilitas jor-joran, dengan dalih supaya bahagia. Tidak peduli lagi dengan tahapan pendidikan anak, tidak pusing ketika anak mulai kenal dengan pergaulan toxic. Tidak peduli dengan perkembangan verbal yang tidak kenal rem, imajinasi yang memiliki source tak terbatas dari device pemberian mereka sendiri, adab yang tidak kenal panutan, dan waktu yang terbiasa terbuang dengan percuma.
Pertanyaannya satu, apa jawaban kita di hadapan Allah kelak?

0 comentários:
Post a Comment
Isi formulir ini...